21 February 2018

Myanmar

Bangladesh says to meet with Myanmar on Rohingya trapped at border

KONFRONTASI-Representatives from Bangladesh and Myanmar will meet on Tuesday to discuss the repatriation to Myanmar of more than 6,500 Rohingya Muslims trapped on a strip of unclaimed land between the two countries, Bangladeshi officials said.

“It is about taking them back to Myanmar,” Relief and Refugee Repatriation Commissioner Mohammad Abul Kalam, told Reuters on Monday. “They are on the zero line and actually on the Myanmar side.”

However, several officials contacted in neighboring Myanmar said they were not aware of plans for a meeting, which Kalam said would take place on the “zero line” near a place called Gundum.

A spokeswoman for the United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), which will not be involved in the talks, said the agency was concerned the Rohingya may be forcibly returned to Myanmar without due consideration for their safety.

Nearly 700,000 Rohingya have fled Myanmar’s Rakhine state and crossed into Bangladesh since last August, when attacks on security posts by insurgents triggered a military crackdown that the United Nations has said amounts to ethnic cleansing, with reports of arson attacks, murder and rape.

Buddhist-majority Myanmar denied the charge and says its security forces are fighting a legitimate campaign against “terrorists” it blames for the attacks on the security forces.

The vast majority of Rohingya who fled are in camps at Cox’s Bazar on the southern tip of Bangladesh, but several thousand who arrived in a buffer zone along the border are now stuck.

Bangladesh security forces have been instructed not to let these Rohingya cross the border, and many of them have said they would rather stay there to avoid becoming refugees in Bangladesh.

The no-man’s land, which is about the size of 40 soccer pitches, used to be an area of paddy fields, but is now dotted with the tarpaulin and bamboo shacks of displaced Rohingya.

Kesepakatan Dua Negara Bertetangga Myanmar-Bangladesh untuk Pulangkan Kembali 750.000 Pengungsi Rohingya

KONFRONTASI -  Myanmar mengungkapkan rencanya untuk membawa kembali 750.000 penduduk Muslim Rohingya yang kini sedang berlindung di wilayah Bangladesh dalam 2 tahun ke depan, demikian menurut pernyataan Duta Besar Bangladesh untuk Turki, Selasa (06/02).

Saat diwawancarai Anadolu di Istanbul, Duta Besar Allama Siddiki mengatakan, “kini terdapat sebuah kelompok kerja sama antara Bangladesh dan Myanmar. Kami sepakat dengan Myanmar bahwa mereka akan segera memulai repatriasi (pemulangan kembali). ”

Myanmar to take unspecified action over Inn Din massacre

KONFRONTASI - Myanmar says it will take unspecified action against a number of security forces and civilian individuals in connection with a recent massacre in a Rohingya Muslim village, during which 10 Muslims — whom Naypyidaw has previously called “terrorists” — were executed summary-style.

Tags: 

Soal Kuburan Massal di Rahine, Myanmar 'Ngeles' Lagi

KONFRONTASI-Myanmar, Jumat, membantah bahwa ada kuburan massal di sebuah desa di negara bagian Rakhine yang bermasalah, lokasi tindakan keras militer terhadap gerilyawan yang membuat hampir 690.000 minoritas Muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangganya, Bangladesh.

Associated Press (AP) melaporkan telah mengkonfirmasi adanya lebih dari lima kuburan massal yang sebelumnya tidak dilaporkan di Desa Gu Dar Pyin, melalui wawancara langsung dengan orang-orang yang selamat di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh dan melalui wawancara video, lapor Reuters.

Komite Informasi pemerintah Myanmar, bagian dari kantor pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, mengatakan dalam sebuah pernyataan di laman Facebook bahwa pejabat berwenang dan keamanan setempat membentuk "tim lapangan" yang menyelidiki laporan tersebut.

"Tim lapangan pergi ke lokasi yang disebutkan dalam berita berita AP dimana mayat dikuburkan dan ternyata tidak benar," kata pernyataan tersebut.

"Selain itu, mereka bertemu dengan tetua setempat dan penduduk desa dan bertanya apakah ada pembunuhan massal atau tidak dan penduduk desa mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada satupun."

Namun, pernyataan tersebut mengatakan bahwa 19 "teroris" telah tewas saat mereka menyerang pasukan keamanan di desa tersebut pada akhir Agustus dan mayat mereka telah "dikubur dengan benar".

Dua warga Rohingya, yang masih berada di desa tersebut dan berbicara dengan Reuters melalui telepon, memperdebatkan pernyataan pemerintah tersebut dan mengatakan bahwa ada kuburan massal di sana. Mereka mengatakan perwira militer senior mengunjungi daerah tersebut pada Jumat, mengambil foto dan mengadakan pertemuan dengan penduduk desa.

Penduduk yang menolak diidentifikasi karena takut pembalasan, berbicara melalui telepon ke seorang wartawan Reuters di kamp pengungsi Balukhali di Bangladesh. Reporter tersebut telah berhubungan dengan mereka dengan bantuan mantan penduduk yang telah melarikan diri dari Rakhine.

Seorang penduduk mengatakan ayahnya menghadiri pertemuan tersebut, di mana petugas bertanya berapa banyak orang yang terbunuh dalam kekerasan tersebut, yang membakar rumah mereka dan apakah ada kuburan massal di sana.

"Penduduk desa ketakutan dan mengatakan bahwa mereka tidak tahu berapa banyak yang telah meninggal atau yang telah membakar rumah mereka namun mengatakan, ya, ada kuburan massal di sini," kata penduduk tersebut.

Seorang penduduk desa mengatakan tiga pejabat militer senior datang pagi-pagi, memotret sebuah kuburan massal di samping rumahnya dan kemudian mengadakan pertemuan di sekolah tersebut.

"Pejabat senior pergi sekarang tapi sekelompok besar orang militer tetap tinggal dan penduduk desa takut," kata penduduk tersebut.

Tags: 

Orang Sakit Jiwa Ingin Ledakan Vila Aung San Suu Kyi

Konfrontasi - Penyerangan yang dilakukan orang sakit jiwa bukan hanya terjadi di Indonesia. Polisi Myanmar mengatakan bahwa mereka telah menangkap seorang pria sakit jiwa yang mengaku melempar bom bensin ke vila Yangon pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi akhir pekan ini.

Suu Kyi tidak berada di rumah saat bom minyak mentah tersebut mendarat di dalam gerbang vila tepi danau pada hari Kamis kemarin. Namun bom itu menyebabkan sedikit kerusakan. 

UN urges Myanmar to release Reuters journalists

KONFRONTASI - The United Nations human rights office has urged Myanmar to release two detained Reuters journalists who covered the state-sponsored crackdown against Rohingya Muslims in Rakhine state, a day after a district court rejected bail for them.

"We repeat the calls for their immediate release and for the charges to be dropped," UN human rights spokesman Rupert Colville said at a news briefing in Geneva on Friday.

Rumah Aung San Suu Kyi Dihampiri Bom Molotov

Konfrontasi - Rumah Aung San Suu Kyi di Yangon diserang menggunakan bom molotov oleh orang tidak dikenal. Untungnya, penasihat negara Myanmar itu sedang tidak berada di lokasi.

"Itu adalah sebuah bom molotov," kata Juru Bicara Pemerintah Myanmar, Zaw Htay seperti dilansir AFP, Kamis, (1/2/2018). Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang motif serangan yang ditujukan pada peraih Nobel Perdamaian tersebut.

Kediaman Suu Kyi Dilempari Bom Molotov

KONFRONTASI- Satu bom Molotov dilemparkan ke kompleks kediaman pinggir danau pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi di Yangon pada Kamis, saat dia sedang tidak berada di rumahnya, kata seorang juru bicara pemerintah.

Repatriasi Pengungsi Rohingya ke Myanmar Ditunda

KONFRONTASI-Repatriasi ratusan ribu pengungsi Rohingya ke Myanmar yang seharusnya dimulai Selasa (23/01) akan ditunda, kata seorang pejabat Bangladesh, menyebutkan penundaan disebabkan oleh tugas berat menyiapkan pusat transit dan menyetujui daftar pengungsi yang akan dipulangkan.

Tak Mau Kembali ke Myanmar, Pengungsi Rohingya Demo di Bangladesh

Konfrontasi - Ratusan pengungsi Rohingya menggelar aksi protes di Bangladesh. Mereka menentang rencana pemulangan ke Myanmar. 

Seperti dilansir AFP, Jumat (19/1/2018), para pengungsi Rohingya yang berunjuk rasa ini meneriakkan slogan dan membawa spanduk yang berisi tuntutan soal status kewarganegaraan dan jaminan keamanan sebelum mereka kembali ke Rakhine, Myanmar. 

Pages