25 February 2018

Muallaf

Awas, Bahaya Menikah Dengan Orang Yang Masuk Islam Hanya Karena Ingin Menikah

Oleh: Gene Netto

Tags: 

Jalan Hidayah Gene Netto, Muallaf dari Selandia Baru

KONFRONTASI -  Nama saya Gene Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam.

Masa kecil dan mencari tuhan

Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru (New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya pindah ke Selandia Baru.

Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia Baru.

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.

Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, budaya, sejarah, alam semesta… semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya.

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu.

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya “Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?” Siapa yang bisa menyelamatkan aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?

Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua pertanyaan saya.

Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar.

Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.

Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis lagi.

Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit didefinisikan seperti konsep “tuhan”. Pada saat itu, terjerumus dalam kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan diri “ateis” (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak ada!

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan bahwa Tuhan tidak ada!

Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab “Katolik” saja. Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di Selandia Baru.

Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke Fakultas Psikologi setelah satu tahun.

Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling tinggi.

Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah fakultas pada akhir tahun pertama.

Dia menyatakan “Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali.”

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas.

Peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Masaru Emoto pun Masuk Islam

KONFRONTASI -  PADA 2003, Masaru Emoto adalah seorang seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang, melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Ia menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia di sekelilingnya yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Sunita Williams Astronot Wanita India Ini, Nyatakan Masuk Islam Setelah Melihat Mekah dari Luarr Angkasa

KONFRONTASI -  'Sunita Williams' Masuk Islam Setelah Melihat Mekah & Madinah Dari Bulan ? Benarkah ? - Beberapa hari terakhir beredar berita heboh bahwa 'Sunita Williams' Masuk Islam Setelah Melihat Mekah & Madinah Dari Bulan ? Benarkah ? Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut , Blog liputan 86 ingin menelusuri lebih jauh perihal Kabar yang heboh di dunia maya ini yang beredar melalui emai dan dilengkapi oleh foto Mekah dan Madinah dari luar angkasa.

Masya Allah! Pendeta Yang Benci Islam Ini Muallaf Bersama Istri & 3 Anaknya., Seru...!

KONFRONTASI -  Mantan pendeta Muhammad Yahya Waloni, mengisi tausyiah pada peringatan tahun baru Islam 1939 H di Masjid Agung SMB II Palembang, Rabu (20/9/2017).

Acara ini diselenggarakan oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Sumatera Selatan.

Ribuan jemaah hadir pada peringatan tersebut. Mayoritas peserta yang hadir merupakan kaum hawa.

–– ADVERTISEMENT ––

Ibu ibu nampak antusias menyaksikan sekaligus mendengarkan apa yang disampaikan oleh mantan pendeta tersebut.

Anggap Islam Agama yang Masuk Akal, Perempuan Ini Putuskan Jadi Muallaf

KONFRONTASI-Wanita bernama Carolyn Erazo ini menghadapi banyak inkonsistensi dalam hidupnya. Tapi, tidak sedikitpun keinginan terlintas di hati Erazo untuk mencari tahu. Ia hanya berpikir, bagaimana kita bisa memercayai apa yang tidak kita ketahui?

Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah 'buku cerita' yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Erazo menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya perempuan yang besar di keluarga Kristen ini memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia melakukan refleksi atas kejadian-kejadian yang telah lampau.

Pada hari terakhir retret, Erazo berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan. Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dia-lah satu-satunya penolong.

Peristiwa itu terjadi pada akhir Oktober, saat suhu air sedikit lebih dingin dibanding bulan-bulan lain. Di tepi pantai, Erazo terus sibuk dengan gemuruh pikirannya. Ia berteriak-teriak memanggil Tuhan di dalam benak. Tapi, Tuhan tak datang hari itu. Kejadian itu membekas di benaknya. Ia putus asa. 

Saat itulah, air mata hangat mendadak mengalir di wajah Erazo. Ia menyerah pada Tuhan. "Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya," kata Erazo saat itu, membeberkan kisah perjalanan spiritualnya seperti dikutip dari Muslim Village.

Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apa pun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Erazo semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban.

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Erazo takjub melihat sikap si ibu dari mendiang. Perempuan yang tengah berdukacita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan.

Erazo heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.

Erazo butuh waktu sepekan, sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya. "Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan," kata Erazo. Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Erazo pun memperluas skala pencarian.

Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam. Ia mencari masjid, namun terheran mengapa sulit benar menemukan tujuannya itu. Padahal, ia sudah memegang alamat. Erazo begitu marah.

Merasa sia-sia, terpikir olehnya untuk mencari masjid di hari lain. Apalagi, ia sudah terlambat masuk ke kantor. Ia menelepon atasannya dalam kondisi frustrasi dan berurai air mata. Di luar dugaan, jawabannya benar-benar menakjubkan. "Jangan khawatir, Kawan. Saya tahu tempat itu. Saya akan membantumu menemukannya."

Tags: 

Allahu Akbar, Hijrah Memeluk Islam, Nurul Hutabarat Menuai Banyak Ujian Hidup

KONFRONTASI -  Berbahagialah kita yang dilahirkan dalam keluarga Muslim, karena bisa berislam dengan khusyuk dan merdeka tanpa gangguan apapun. Tidak halnya dengan perjuangan iman Indah Hutabarat (Nurul Hidayati) ini. Keputusannya masuk Islam disusul badai ujian yang bertubi-tubi: fitnah, gangguan, pengasingan, intimidasi, penculikan, penodaan kehormatan, dan sebagainya. Setitik pun ia tak pernah menyesali keputusan hijrah memeluk Islam.

Kisah Prajurit Amerika Menemukan Cahaya Islam

KONFRONTASI-Membaca sebuah kitab suci sudah menjadi rutinitas Keith, warga Illinois, Amerika Serikat. Sejak kecil dia melakukan itu setiap akhir pekan. Bahkan, dalam tujuh hari, dia bisa menyempatkan tiga hari hanya untuk membaca kitab suci.

Namun, ritual rutin itu tidak membuatnya merasakan ketenangan beragama. Batinnya selalu mempertanyakan apakah ada hal lain yang membuat seseorang lebih bisa merasakan dekat dengan Sang Pencipta. Adakah ajaran yang lebih mengarahkan insan untuk maju, berkembang, sehingga bisa menghasilkan budaya yang mendukung perkembangan hidup.

Kegelisahan itu semakin dia rasakan ketika dipercaya bertugas di Turki. Sebagai seorang militer, dia harus mampu memetakan potensi ancaman dan kondisi masyarakat sekitar. Itu bukan hal sulit bagi pria yang sudah 24 tahun aktif di sebuah satuan militer Amerika Serikat ini. Ketika itu, dia banyak bertemu dengan tokoh Muslim Turki. Keith sempat bertanya-tanya dalam hati ketika melihat mereka. Selama ini dia hanya mengetahui Is lam identik dengan radikalisme dan terorisme. Islam jauh dari istilah toleransi.

Jika bicara tentang Islam, banyak orang selalu mengaitkan risalah yang dibawa Rasulullah dengan berbagai keburukan. Namun, di Turki Keith tidak menemukan Islam yang seperti itu. Dia melihat peninggalan Turki Usmani seperti Masjid Hagia Sophia yang megah dan kaya dengan nilai seni. Keindahan arsitekturnya membuat siapa pun yang masuk ke dalam bangunan tua itu terpesona.

Tidak hanya itu, dia juga mengamati kehidupan masyarakat Muslim di Turki yang saling peduli. Mereka hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Perbedaan keyakinan tidak membuat mere ka saling bermusuhan. Justru mereka hidup rukun dan saling bersinergi untuk samasama menciptakan kehidupan yang penuh dengan rasa saling menghormati.

Dia kemudian memahami bahwa Islam secara keseluruhan tidak dapat dilihat dari tindakan beberapa orang saja. Islam adalah ajarannya bukan sekadar sikap atau perilaku beberapa orang. Karena, beberapa orang Muslim bisa saja bertindak yang tidak mencerminkan ajaran Islam.

Dalam beberapa pertemuan dengan tokoh Muslim di Turki, Keith kerap menanyakan Islam. Seperti apa ajarannya. Bagaimana perkembangan Islam. Apa yang membuat masyarakat di dunia meyakini Islam. Pertanyaan tersebut diajukannya un tuk mengenal lebih dalam tentang risalah yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Ketika mengenal Islam, dia mulai menyadari ada beberapa kemiripan dengan agama yang dianut sebelumnya. Pesan dari ke dua agama ini tidak pernah ada yang berubah, selalu sama. Tetapi, ketika bersyahadat, dia memahami Islam adalah agama yang murni. Dalam Islam, dia memahami ketika berdoa tidak ada perantara kepada Tuhan. Berbeda dengan agama yang dianut sebelumnya yang mengajarkan doa harus melalui perantara.

Lalu, apa gunanya perantara dalam berdoa? Dia mempertanyakan masalah ini di agama sebelumnya. Namun, Keith tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Mantan prajurit itu berpendapat, seharusnya antara hamba dan Sang Pencipta tidak perlu ada perantara. Makhluk dapat langsung memohon kepada Tuhan. Inilah yang diajarkan Islam dan tidak diajarkan di agamanya dahulu. Dalam Islam, Tuhan tidak me miliki anak dan tidak diperanakkan.

Sebelum memeluk Islam, Keith mempelajari Islam selama satu tahun. Dia mulai membaca berbagai sumber untuk mengetahui pengetahuan tentang Islam. Dia ingin memastikan dan menyadari sepenuhnya seperti apa Islam itu. Sedikit demi sedikit mantan tentara ini mulai memahami Islam, baik dalam sisi sejarah maupun ajarannya.

Dia melihat Islam memiliki keindahan. Hidup islami dapat dilakukan dengan cara sederhana. Keith mulai benar-benar secara terbuka dan mengakui memeluk Islam pada Desember 1998 di Florida. Dia meminta seseorang me nyaksikan prosesnya menjadi Mus lim. Setelah mengucapkan sya hadat, dia pun resmi memeluk Islam.

Tags: 

Tiga Perempuan Rusia Ini Terkesan dengan Kehidupan Keluarga, Lalu Jadi Muallaf

KONFRONTASI -  Diperkirakan ada lebih dari 20 juta muslim yang bermukim di Rusia. Pada dasarnya, mereka merupakan etnis muslim, seperti Tatar, Chechnya, Dagestan, Bashkiri, dan lain-lain. Namun, ada pula yang merupakan pemeluk Islam baru, yaitu orang-orang yang secara sadar memutuskan untuk memeluk agama Islam. RBTH menyajikan cerita dari tiga perempuan Rusia yang memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Valeria (22), masuk Islam lima tahun yang lalu

*Valeria meminta RBTH untuk memburamkan fotonya.

Peneliti Prof Leopold Werner von Ehrenfels asal Austria Masuk Islam Setelah Temukan Hikmah Berwudhu

Konfrontasi - Penelitian Prof Leopold Werner von Ehrenfels menemukan fakta yang sangat mengejutkan, bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di bagian dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menemukan hikmah dibalik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. 

Pages