24 August 2019

Korea Utara

Dubes Korut Klaim Negaranya Bakal Bertahan dari Gempuran Sanksi Ekonomi

KONFRONTASI-Duta besar Korea Utara untuk PBB menuding Amerika Serikat, Selasa (3/10), menghalangi pembangunan ekonomi dan mengecam sanksi terhadap negara-negara miskin yang dituding sebagai upaya untuk menghancurkan peradaban modern.

Duta Besar Ja Song Nam mengatakan Korea Utara akan mampu bertahan dari tekanan sanksi dan terus "membangun kekuatan sosialis dengan semangat kemandirian dan pembangunan".

Gedung Putih: Sekarang Bukan Waktunya Bicara dengan Korut

KONFRONTASI-Gedung Putih menegaskan kembali pada Senin bahwa "sekarang bukan waktunya" untuk berbicara dengan Korea Utara, menutup upaya Menteri Luar Negeri Rex Tillerson untuk memanfaatkan saluran diplomatik sempit dengan Pyongyang.

Koalisi Korsel-AS Deteksi Pergerakan Rudal-rudal Korut

Konfrontasi - Sebuah laporan terbaru datang dari Korea Utara. Sumber intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat menyebutkan jika mereka berhasil mendeteksi pergerakan beberapa rudal Korea Utara. Rudal-rudal itu tengah bergerak diangkut dari fasilitas roket di Sanum-dong di bagian utara ibu kota Pyongyang.

Menurut laporan Korea Broadcasting System (KBS), pergerakan itu memunculkan spekulasi jika Korea Utara bersiap untuk melakukan tindakan yang lebih provokatif dari lakon-lakon sebelumnya yang telah dilakukan bersama rudal-rudalnya.

Korut Tetap Bandel, Sanksi Dianggap Tak Efektif

KONFRONTASI-Rusia menilai pengetatan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara oleh Dewan Keamanan PBB tidak efektif, mengingat Pyongyang masih terus mengembangkan program persenjataan nuklir dan peluru kendali.

"Sanksi baru itu tidak efektif karena mengabaikan akar persoalan," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, dalam jumpa pers di Jakarta pada Rabu.

Busyet, Kim Jong-un Gilas 11 Musisi dengan Tank Sampai Penyek

KONFRONTASI-Kejahatan rezim Kim Jong-un baru-baru ini diungkap seorang pembelot Korea Utara. Perempuan itu mengatakan, pemimpin Korut tersebut mengeksekusi 11 musisi dengan senjata anti-pesawat.

Menurut pembelot itu, setelah mengeksekusi, Kim Jong-un memerintahkan stafnya untuk mencari budak seks di sekolah.

Dikutip dari The Independent pada Jumat (22/9/2017), eksekusi itu wajib dipertontonkan di depan 1.000 orang. 11 musisi itu dihukum karena dituduh telah membuat video porno di akademi militer Pyongyang.

Pembelot: Kim Jong-un Eksekusi 11 Musisi dengan Dilindas Tank

Konfrontasi - Seorang pembelot Korea Utara baru-baru ini bersuara tentang kejahatan rezim Kim Jong-un. Perempuan itu mengatakan, pemimpin Korut tersebut mengeksekusi 11 musisi dengan senjata anti-pesawat.

Menurut pembelot itu, setelah mengeksekusi, Kim Jong-un memerintahkan stafnya untuk mencari budak seks di sekolah.

Dikutip dari The Independent pada Jumat (22/9/2017), eksekusi itu wajib dipertontonkan di depan 1.000 orang. 11 musisi itu dihukum karena dituduh telah membuat video porno di akademi militer Pyongyang.

"Mereka dibombardir peluru dari senjata anti-pesawat. Tubuh mereka langsung terkoyak, hancur. Darah dan potongan daging beterbangan kemana-mana," kata pembelot berusia 26 tahun itu yang bernama Hee Yeon-lim.

"Belum selesai sampai di situ, kendaraan tank kemudian menggilas sisa-sisa tubuh hingga penyek," lanjutnya.

Melihat kekejian Kim Jong-un, ia memutuskan kabur ke China lalu ke Seoul, Korea Utara. Misi itu ia lakukan setelah ayahnya meninggal dunia tahun 2015.

Ia baru berani membelot mengingat sang ayah adalah militer Korea Utara berpangkat kolonel. Saat masih hidup, perempuan itu bersama keluarganya merasakan keistimewaan. Sang pembelot bahkan kerap bertemu langsung dengan Kim Jong-un.

"Kim..., saya pernah bertemu beberapa kali. Ia adalah sosok yang mengerikan," katanya kepada Daily Mirror.

Hee Yeon-lim juga mengklaim diktator itu memiliki bunker persembunyian yang berlapis.

"Sulit bagi tentara Barat untuk menemukannya," ujar Hee lagi.

Sikap Korea Utara yang menutup diri membuat sulit untuk memverifikasi klaim para pembelot, termasuk Hee.

Namun, Dr Colin Alexander, dari Nottingham Trent University mengatakan, "Dalam beberapa kasus ada kemungkinan perbudakan di Korea Utara, termasuk budak seks. Juga ada kekejian dalamm eksekusi siapapun yang berkhianat."

Menlu Korut Anggap Ancaman Trump Seperti "Anjing Menggonggong"

KONFRONTASI- Ancaman Presiden Donald Trump dianggap Menteri luar negeri (Menlu) Korea Utara seperti “Anjing Menggonggong.”

Komentar tersebut menyinggung pidato debut Trump di Majelis Umum PBB pada hari Selasa, (19/9/2017) demikian laporan Associated Press.

Presiden AS itu pernah bersumpah untuk “menghancurkan Korea Utara” jika diprovokasi.

Trump juga menyebut pemimpin Korea Utara Kim Jong Un “Rocket man” atau manusia roket.

Kim Jong Un Klaim Kekuatan Militer Korea Utara Hampir Setara Dengan AS

Konfrontasi - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengatakan kekuatan militer negaranya tak lama lagi mencapai "ekuilibrium" dengan Amerika Serikat.

Pernyataan Kim Jong Un keluar hari ini setelah Korea Utara melepaskan lagi sebuah rudal balistik ke arah Jepang kemarin pagi (Jumat, 15/9/2017). 

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa dengan tegas mengecam peluncuran rudal balistik itu dengan menyebutnya "sangat provokatif".

Ngamuk, Korea Utara Ancam "Tenggelamkan" Jepang, AS Dijadikan "Abu"

KONFRONTASI  -   Satu badan negara Korea Utara pada Kamis mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk "menenggelamkan" Jepang dan menghancurkan Amerika Serikat menjadi "abu dan kegelapan" karena mendukung resolusi dan sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas program nuklir terkininya.

Trump Ragu Sanksi Baru Bisa Bikin Korut Kapok

KONFRONTASI-Terkait sanksi baru yang dijatuhkan Dewan Keamanan (DK) PBB terhadap Korea Utara (Korut), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku ragu hal tersebut akan memiliki dampak yang signifikan. Namun, Trump menyebut sanksi ini setidaknya menunjukan kalau dunia internasional telah bersatu untuk melawan ancaman Korut.

"Kami pikir ini hanya langkah kecil lainnya, bukan masalah besar," kata Trump sebelum melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak di Washington, seperti dilansir Russia Today pada Rabu (13/9).

Pages