23 May 2019

Korea Utara

Menteri Pertahanan Inggris Tuding Korea Utara Dalang Dibalik Virus WannaCray

Konfrontasi - Inggris pada Jumat (27/10/2017) menuding Korea Utara mendalangi serangan virus “WannaCray”, yang merusak sistem komputer banyak perusahaan dan pemerintahan di dunia, termasuk Badan Kesehatan Nasional (NHS) negara tersebut.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan “sangat yakin” bahwa serangan meminta uang tebusan dari korban serangan virus tersebut didalangi kelompok negara asing.

India Kurangi Kerja Sama Perdagangan dengan Korut

Menlu India, Sushma Swaraj

KONFRONTASI-India mengurangi kerja sama perdagangan dengan Korea Utara sesuai dengan sanksi PBB atas uji coba nuklir Korut , tapi tidak akan menutup kedutaan besarnya di Pyongyang, kata Menteri Luar Negeri Sushma Swaraj, Rabu (25/10).

Peretas Korut Curi Dokumen Militer Korsel

KONFRONTASI-Peretas atau hacker Korea Utara dilaporkan mencuri dokumen militer Korea Selatan, termasuk rencana untuk membunuh Presiden Korea Utara Kim Jong-un.

Anggota parlemen Korea Selatan Rhee Cheol-hee mengatakan, informasi tersebut berasal dari Kementerian Pertahanan Korea Selatan, seperti yang dilansir dari BBC, Selasa (10/10). Dokumen yang dicuri mencakup rencana kontinjensi perang yang disusun oleh AS dan Korea Selatan.

Atasi Korea Utara, Trump Gunakan Taktik 'Polisi Baik' dan 'Polisi Jahat'

Konfrontasi - Sikap keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap rezim Korea Utara dan sikap sebaliknya yang ditunjukkan Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson, dikritik sebagai taktik ‘polisi baik’ dan ‘polisi jahat’.

“Apa pun tujuannya, yang terjadi malah kebingungan,” demikian tulis Washington Post pada pekan lalu, Senin, 2 Oktober 2017.

Karena Nuklir, Kim Jong Un Angkat Saudarinya Jadi Orang Penting di Korut

Konfrontasi - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menegaskan senjata nuklirnya merupakan ‘alat jera’ yang sangat kuat untuk menjamin kedaulatan negaranya. Bagi dia, senjata nuklir tersebut berfungsi untuk melindungi perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea.

Dalam pertemuan Komite Sentral Partai Buruh, media pemerintah setempat melaporkan, Kim tengah menghadapi situasi internasional yang ‘sangat rumit’.

CIA Anggap Kim Jong-un Politikus yang Sangat Rasional

KONFRONTASI-Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un adalah politikus rasional dan Amerika Serikat perlu memahami itu agar dapat menangani negara bersenjata nuklir tersebut menurut keterangan pakar Korea di pusat intelijen Amerika Serikat.

Dubes Korut Klaim Negaranya Bakal Bertahan dari Gempuran Sanksi Ekonomi

KONFRONTASI-Duta besar Korea Utara untuk PBB menuding Amerika Serikat, Selasa (3/10), menghalangi pembangunan ekonomi dan mengecam sanksi terhadap negara-negara miskin yang dituding sebagai upaya untuk menghancurkan peradaban modern.

Duta Besar Ja Song Nam mengatakan Korea Utara akan mampu bertahan dari tekanan sanksi dan terus "membangun kekuatan sosialis dengan semangat kemandirian dan pembangunan".

Gedung Putih: Sekarang Bukan Waktunya Bicara dengan Korut

KONFRONTASI-Gedung Putih menegaskan kembali pada Senin bahwa "sekarang bukan waktunya" untuk berbicara dengan Korea Utara, menutup upaya Menteri Luar Negeri Rex Tillerson untuk memanfaatkan saluran diplomatik sempit dengan Pyongyang.

Koalisi Korsel-AS Deteksi Pergerakan Rudal-rudal Korut

Konfrontasi - Sebuah laporan terbaru datang dari Korea Utara. Sumber intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat menyebutkan jika mereka berhasil mendeteksi pergerakan beberapa rudal Korea Utara. Rudal-rudal itu tengah bergerak diangkut dari fasilitas roket di Sanum-dong di bagian utara ibu kota Pyongyang.

Menurut laporan Korea Broadcasting System (KBS), pergerakan itu memunculkan spekulasi jika Korea Utara bersiap untuk melakukan tindakan yang lebih provokatif dari lakon-lakon sebelumnya yang telah dilakukan bersama rudal-rudalnya.

Korut Tetap Bandel, Sanksi Dianggap Tak Efektif

KONFRONTASI-Rusia menilai pengetatan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara oleh Dewan Keamanan PBB tidak efektif, mengingat Pyongyang masih terus mengembangkan program persenjataan nuklir dan peluru kendali.

"Sanksi baru itu tidak efektif karena mengabaikan akar persoalan," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, dalam jumpa pers di Jakarta pada Rabu.

Pages