28 May 2017

Korea Utara

China Desak Korut Patuhi Resolusi PBB

KONFRONTASI-China mendesak Korea Utara untuk mematuhi dan tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dengan program nuklir dan rudalnya, setelah Pyongyang mengatakan berhasil menguji rudal balistik jarak menengah.

Amerika Serikat telah berusaha meyakinkan China, sekutu utama Korea Utara, agar berbuat lebih banyak untuk mengendalikan Korea Utara yang telah melakukan puluhan peluncuran rudal dan menguji dua bom nuklir sejak awal tahun lalu.

Tindakan tersebut bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Korea Utara tidak merahasiakan rencananya untuk mengembangkan rudal berhulu ledak nuklir yang mampu menyerang AS dan telah mengabaikan seruan untuk menghentikan program persenjataan, bahkan dari China. Mereka mengatakan bahwa program ini diperlukan untuk melawan agresi AS.

"Kami mendesak Korea Utara untuk tidak berbuat apa-apa lagi untuk melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam sebuah pernyataan yang dimuat di situs Kementerian Luar Negeri pada hari Selasa.

"Pada saat yang sama, kami berharap semua pihak dapat menahan diri, tidak terpengaruh oleh setiap insiden tunggal. Teguh dalam melaksanakan resolusi Dewan Keamanan di Korea Utara dan gigih dengan resolusi masalah ini melalui cara damai, baik dialog dan konsultasi," katanya.

Korea Utara mengatakan pada hari Senin bahwa peluncuran hari Minggu memenuhi semua persyaratan teknis yang memungkinkan dilakukannya produksi masal rudal Pukguksong-2, meski pun pejabat dan pakar dari AS mempertanyakan tingkat kemajuannya.

Pengujian tersebut merupakan yang kedua di Korea Utara dalam seminggu dan pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa hal tersebut menghancurkan harapannya untuk perdamaian di wilayah semenanjung Korea.

Media Korut: AS Haruis Dilenyapkan dari Muka Bumi

KONFRONTASI-Aksi provokasi terus dilancarkan Korea Utara (Korut). Kali ini, media pemerintah negara tersebut menyerukan militer Pyongyang untuk segera menyerang Amerika Serikat (AS) karena terus memata-matai rezim Korut yang dipimpin Kim Jong-un. Media itu menyebut AS sebagai sarang kejahatan.

Seruan itu muncul dalam artikel editorial Rodong Shinmun, surat kabar yang dikelola negara Korut. Artikel yang terbit hari Kamis tersebut berjudul “Don’t Dream Silly Dream”.

JIka Nuklir Korut Hantam AS, Trump Hanya Punya Waktu 10 Menit untuk Ambil Keputusan

KONFRONTASI-Presiden Donald Trump akan membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk bereaksi jika rudal nuklir Korea Utara (Korut) benar-benar menghantam daratan Amerika Serikat (AS). Analisis waktu itu disampaikan para ahli keamanan global.

Waktu sekitar 10 menit itu akan menjadi keputusan Trump untuk meluncurkan serangan balasan atau tidak.

Berbicara kepada Associated Press tentang apa yang akan terjadi jika terjadi serangan nuklir dari Korut, ilmuwan David Wright, dari Program Keamanan Global UCS dan analis roket Markus Schiller, dari ST Analytics di Jerman, menggambarkan bagaimana drama tersebut akan terungkap.

”Batas waktu pendek,” ucap Wright. ”Bahkan untuk rudal jarak jauh, ada banyak langkah yang bisa dilakukan dalam mendeteksi peluncuran dan mencari tahu apa yang terjadi, membiarkan presiden tersebut mungkin memerlukan waktu 10 menit untuk memutuskan apakah akan melakukan serangan balasan (atau tidak),” lanjut Wright, yang dilansir Kamis (18/5/2017).

Para ahli bersikeras bahwa Korut yang dipimpin diktator muda Kim Jong-un masih belum mampu meluncurkan rudal yang bisa mencapai daratan AS. Namun, rezim komunis itu pada hari Senin lalu mengklaim mampu melakukannya.

Dalam pengumuman di kantor berita KCNA, rezim Pyongyang menyatakan bahwa Korut sekarang memiliki kemampuan untuk mengirim hulu ledak nuklir berskala besar melintasi Pasifik. Klaim itu menyusul kesuksesan Korut dalam uji tembak rudal balistik Hwasong-12 selama akhir pekan lalu.

Kim Dong-yub, profesor di Universitas Kyungnam Korea Selatan, mengatakan kepada media lokal bahwa kemungkinan terburuk dari serangan rudal nuklir Korut adalah melanda Alaska atau Hawaii.

Jika Korut memang memiliki kemampuan untuk mencapai target di AS, Wright dan Schiller memprediksi bahwa segala sesuatunya bisa lepas kendali dan berlangsung cepat.

Ditemukan Bukti Baru, Korut Dalang di Balik Serangan Wannacry

KONFRONTASI- Seorang pakar keamanan siber Korea Selatan, Selasa, mengungkapkan bahwa ada bukti baru yang makin meyakinkan Korea Utara memang berada di balik serangan global "ransomware" di mana cara peretas membajak komputer dan server di seluruh dunia yang saat ini terjadi mirip dengan serangan siber sebelumnya yang dituduhkan kepada Korea Utara.

Simon Choi, direktur anti-virus perusahaan software Hauri Inc. yang menganalisis program jahat atau malware Korea Utara sejak 2008 dan menjadi penasihat pemerintah untuk serangan siber, menyatakan Korea Utara bukanlah pendatang baru dalam dunia bitcoin dan telah menambang mata uang digital itu dengan menggunakan program komputer jahat sejak awal 2013.

Pada serangan siber yang saat ini terjadi, para peretas menuntut pembayaran dari korban-korban dalam bentuk bitcoin sebagai imbalan untuk bisa mengakses kembali komputer mereka yang sudah dienkripsi peretas.

Tahun lalu, Choi secara tidak sengaja berbicara dengan seorang peretas yang melacak sebuah alamat internet Korea Utara mengenai penciptaan ransomware dan dia sudah memperingatkan pihak berwenang Korea Selatan mengenai hal ini.

Jika Korea Utara yang diyakini melatih para prajurit siber di kampus-kampus, memang bertanggung jawab dalam serangan siber yang sekarang terjadi, Choi menyatakan dunia harus berhenti menganggap sepele kemampuan negara itu dan bekerja sama dalam memikirkan cara baru menghadapi ancaman siber, misalnya mendorong China mengisolasi internet Korea Utara.

Choi adalah salah seorang dari sejumlah peneliti di seluruh dunia yang menganggap ada kaitan antara "ransomware" bernama WannaCry dengan para peretas yang memiliki hubungan dengan Korea Utara. 

Korut Sesumbar Rudal Terbarunya Sanggup Angkut Hulu Ledak Nuklir

KONFRONTASI-Korea Utara terus memperkuat persenjataannya. Negeri pimpinan Kim Jong-un itu mengklaim uji coba rudal balistik Ahad lalu bertujuan untuk memverifikasi kemampuannya untuk membawa hulu ledak nuklir ukuran besar. Hal ini diungkapkan media pemerintah Korea Utara, KCNA, Senin 15 mei 2017.

Seperti dilansir The Japan Times, peluncuran rudal baru yang disebut sebagai Hwasong-12, menurut KCNA diawasi langsung oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

"Rudal tersebut diluncurkan pada tingkat yang paling tinggi sehingga tidak mempengaruhi keamanan negara-negara tetangga," kata laporan tersebut. KCNA menambahkan, rudal tersebut telah menempuh perjalanan 787 kilometer setelah mencapai ketinggian 2.111,5 kilometer.

Korut menembakkan sebuah rudal balistik yang mendarat di laut dekat Rusia pada Ahad lalu, beberapa hari setelah Korea Selatan melantik presiden baru Moon Jae-in.

Dengan peluncuran jenis rudal tipe baru ini, Kim menegaskan bahwa DPRK adalah kekuatan nuklir yang layak disebut namanya, entah ada yang mengenalinya atau tidak. DPRK adalah singkatan untuk nama resmi Korea Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea.

"Sistem senjata paling sempurna di dunia tidak akan pernah menjadi milik eksklusif  Amerika Serikat," demikian laporan KCNA mengutip Kim.

Kim juga mengeluarkan peringatan keras bahwa Washington sebaiknya berhati-hati karena rudal balistik DPRK dapat menimbulkan ancaman.

"Jika AS mencoba memprovokasi DPRK, ia tidak akan lolos dari bencana terbesar dalam sejarah," kata Kim, memperingatkan Washington "untuk tidak mengabaikan atau salah menilai kenyataan bahwa wilayah operasi daratan dan Pasifik berada dalam jangkauan rudal Korea Utara."

David Wright, salah satu pemimpin Union of Concerned Scientists, mengatakan bahwa dengan waktu penerbangan 30 menit, berarti rudal tersebut memiliki jangkauan yang jauh lebih panjang daripada rudal yang saat ini berada di gudang senjata Korea Utara.

Wright mengatakan bahwa jika rudal tersebut telah diterbangkan pada lintasan standar maka akan memiliki jangkauan maksimum sekitar 4.500 km.

"Itu jauh lebih panjang dari perkiraan kisaran rudal Musudan, yang menunjukkan jangkauan sekitar 3.000 km dalam tes tahun lalu," katanya.

Jika Syarat Terpenuhi, Korut Bersedia Dialog dengan Amerika Serikat

Konfrontasi - Diplomat senior Korea Utara Choi Sun-hee hari ini menyatakan Pyongyang bersedia menggelar pertemuan dengan pemerintahan Amerika Serikat jika syarat memenuhi.

Choi Sun-hee yang selama ini mengurusi hubungan dengan AS menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan dalam perjalanan dari Beijing menuju Pyongyang. Dia sebelumnya berada di Norwegia untuk memimpin delegasi bertemu mantan pejabat dan akademisi AS.

Takut Diracun, Timas Malaysia Tolak Tandang Ke Korea Utara

Konfrontasi - Presiden Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) Tunku Ismail Sultan Ibrahim mengkhawatirkan kesebelasan negaranya apabila harus menjalani laga tandang ke Korea Utara dalam duel kualifikasi Piala Asia 2019.

Seperti diketahui, ketegangan menyelimuti hubungan kedua negara tersebut menyusul adanya kasus pembunuhan Kim Jong-nam, yang merupakan kakak tiri Kim Jong-un selaku pimpinan Korut, di Bandara Kuala Lumpur pada Februari lalu.

Korut Sesumbar Bisa Bikin Aset Strategis AS Jadi 'Abu'

KONFRONTASI-Konflik di Semenajung Korea terus memanas. Duta Besar Korea Utara (Korut) untuk Inggris telah menyatakan bahwa negaranya siap untuk mengubah aset strategis Amerika Serikat (AS) menjadi 'abu' jika militer negara itu bergerak satu inci. Pernyataan tersebut dikeluarkan di tengah ketegangan kedua terus berlanjut.

Ini adalah peringatan terakhri Korut setelah Donald Trump mengirim sebuah 'armada', termasuk kapal selam bertenaga nuklir dan kapal induk, ke wilayah tersebut dalam sebuah demonstrasi.

Busyet, Kim Jong Un Rogoh Rp45,3 Miliar untuk Beli Pakaian Dalam Wanita, Buat Siapa?

KONFRONTASI-Selain masalah nuklir, Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un baru-baru ini menjadi sorotan dunia internasional lantarkan mengeluarkan dana hingga 2,7 juta pound sterling atau setara Rp 45,3 miliar untuk membeli pakaian dalam para wanita penghibur.

Melansir Thesun.co.uk, Sabtu (6/5/2017), besar anggaran yang dikeluarkan Kim Jong Un untuk wanita penghibur ini lebih besar dua kali lipat dari 2015.

Data yang dikeluarkan International Trade Centre menyebutkan, uang itu juga digunakan untuk membeli peralatan khusus yang bisa digunakan gadis penghibur saat bekerja.

Kim Jong Un dan tangan kanannya memang memiliki kelompok wanita penghibur khusus yang bertugas untuk memanjakan nafsu kalangan elit pemerintahan Korut. Disebut Gippeumjo atau 'Pleasure Squad', kelompok itu terdiri dari 2.000 gadis muda.

Dalam proses perekrutannya, mereka dipilih secara acak oleh tentara-tentara Korut yang terkadang diambil dari sekolahnya. Ada di antara mereka bahkan yang masih berusia 13 tahun.

Para gadis yang tergabung dalam kelompok ini menjalani pelatihan selama beberapa bulan untuk mengasah kemampuan memijat, menyanyi, dan menari secara profesional.

Korut Minta China Merenung

KONFRONTASI-Korea Utara (Korut) melontarkan kritik tajam terhadap sekutunya, China. Pekan ini, Korut mengkritik komentar keras China untuk program nuklirnya dengan menyebutnya membahayakan hubungan kedua negara.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (4/5/2017), Korut juga menyebut komentar keras Beijing itu justru semakin memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea. Kritikan langka Korut untuk China itu disampaikan via kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA).

KCNA melontarkan kritikan terhadap komentar terbaru media pemerintah China, tepatnya surat kabar People's Daily dan Global Times. "Dikenal luas sebagai media yang menyuarakan posisi resmi partai dan pemerintah China," sebut KCNA soal kedua surat kabar pemerintah China itu.

"Serangkaian pernyataan ceroboh dan absurd sekarang terdengar dari China setiap hari, hanya untuk menambah situasi buruk yang terjadi saat ini," imbuh KCNA.

"China sebaiknya merenungkan konsekuensi besar yang mungkin terjadi, dipicu aksi cerobohnya memutuskan pilar hubungan DPRK-China," tegas KCNA merujuk pada nama resmi Korut, yakni Republik Demokratik Rakyat Korea. 

Pages