16 September 2019

Kesehatan

Duh, Mie Mengandung Formalin dan Boraks Beredar Lagi

KONFRONTASI-Mi mengandung bahan berbahaya jenis formalin dan boraks kembali beredar di wilayah Jakarta dan sebagian Jawa Barat. Hal itu terungkap setelah aparat kepolisian menangkap tiga pelaku yang memproduksi mi dengan kandungan bahan kimia tersebut.

Mereka yang ditangkap di lokasi berbeda itu memproduksi mi rumahan dan beroperasi sendiri-sendiri, bukan jaringan. Ketiga tersangka, yakni M (57), As (53), dan RH (39).

Dikepung Kabut Asap, Puluhan Ribu Warga Riau Derita ISPA

KONFRONTASI- Sebanyak 39.277 warga di Provinsi Riau menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat polusi kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, yang mulai pekat sejak bulan Agustus hingga awal September ini.

“Asap mulai pekat pada akhir Juli dan mulai Agustus jumlah pasien ISPA meningkat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Nazir di Pekanbaru, Kamis.

Jangan Sepelekan, Kenali Macam-macam Sakit Kepala

KONFRONTASI- Sakit kepala sering dianggap remeh oleh penderitanya. Umumnya, sakit kepala dapat disebabkan mulai dari hal-hal sepele, seperti kelelahan atau kurang tidur, hingga flu, sinus, stres, depresi, darah tinggi, dan penyebab lain. Namun, jika Anda mengalami sakit kepala terus menerus, jangan anggap enteng.

5 Khasiat dari Buah Labu, Mampu Lawan Penyakit Kanker

Konfrontasi - Labu dianggap sebagai makanan super karena kandungan nutrisi seperti vitamin A, E, C, dan kalium yang menawarkan banyak manfaat kesehatan. Satu mangkuk irisan labu mengandung 30 kalori, 7 gram karbohidrat, dan 1 gram protein. Satu ons biji labu mengandung 5 gram serat.

Lantas, apa saja manfaat labu bagi kesehatan? Berikut paparannya seperti dilansir dari Medical Daily.

1. Menangkal radikal bebas

Lemak Tubuh Bisa Terbakar Jika Detak Jantung 100 BPM

KONFRONTASI-Dokter spesialis kedokteran olahraga menjelaskan kondisi olahraga yang bisa berdampak pada pembakaran lemak tubuh baru bisa dicapai jika detak jantung mencapai di atas 100 degup per menit (beat per minute/bpm).

Dr Zaini K Saragih dari RS MMC mengatakan di Jakarta, Rabu, apabila seseorang hanya melakukan olahraga santai seperti peregangan yang detak jantungnya tidak melebihi 100 bpm tidak akan bisa membakar lemak.

Riset: Nyeri Wajah Picu Sakit Kepala

KONFRONTASI-Nyeri wajah merupakan salah satu gejala sakit kepala. Para peneliti telah menemukan bahwa 10% orang dengan sakit kepala juga menderita sakit wajah.

"Nyeri wajah belum diketahui dengan baik sebagai gejala sakit kepala dan beberapa orang akhirnya menunggu lama untuk diagnosis dan perawatan yang tepat," kata penulis studi, Arne May dari University of Hamburg di Jerman.

"Studi ini menunjukkan bahwa sakit wajah tidak biasa, dan bagi banyak orang rasa sakit mereka terjadi terutama di wajah, bukan di kepala," tambah May.

Diberi Vitamin Kadaluwarsa, Ibu Hamil Laporkan Puskesmas Kamal ke Polisi

KONFRONTASI-Kasus pemberian Vitamin B6 kedaluwarsa kepada ibu hamil yang dilakukan petugas Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, ternyata tidak hanya dialami Novi Sri Wahyuni (21). Hal serupa juga dialami Winda Dwi Lestari (23) ibu muda yang tengah hamil tiga bulan ini juga mendapatkan vitamin kedaluwarsa dari puskesmas tersebut.

4 Manfaat Daun Mint yang Jarang Diketahui

Konfrontasi - Daun Mint sering dijadikan bahan baku campuran makanan dan minuman. Bukan cuma cake, minuman segar, atau es krim, daun mint juga sering digunakan sebagai bahan baku pasta gigi, kosmetik hingga minyak angin.

Tak cuma itu, mint juga dikenal punya banyak manfaat bagi kesehatan karena khasiatnya yang dapat membunuh kuman dan bakteri. Selain itu, ternyata tak banyak yang tahu kalau daun mint punya manfaat lainnya yang mengejutkan. Apa saja? Berikut ini 4 manfaat daun mint dilansir laman Stylecraze.

10 Manfaat Buah Manggis Selain untuk Kecantikan

Konfrontasi - Manggis, buah tropis yang rasanya manis tetapi kadang agak asam punya banyak manfaat untuk kesehatan dan rendah kalori.

Berikut 10 manfaat terbaik buah berkulit ungu dan daging buah berwarna putih cerah itu, seperti dilansir Medical Daily:

Jangan Biarkan Gadget Jadi 'Predator' untuk Anak

KONFRONTASI- Lompatan teknologi yang begitu tajam telah mempengaruhi gerak hidup masyarakat dewasa ini. Kebutuhan masyarakat akan smartphone atau ponsel pintar pun kian meningkat, seiring dengan kemunculan ponsel-ponsel baru dengan spesifikasi yang lebih memuaskan. Tak ayal penggunaan smartphone sudah menjadi pemandangan lumrah di masyarakat, tak terkecuali anak-anak.

Penggunaan gadget sendiri bisa berdampak positif maupun negatif bagi anak-anak yang terbiasa menggunakan alat bantu tersebut. Sayangnya, banyak orangtua yang cenderung lalai mengawasi anak bermain ponsel, sehingga berakibat "kecolongan". Ponsel anak pun kerap dipenuhi konten-konten yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan lainnya.

Psikolog anak dan dosen pro di Psikologi Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Magdalena Hanoum, menyebutkan penggunaan gadget pada anak diperbolehkan selama mendapat pengawasan ketat dari orangtua. Namun perlu disesuaikan dengan tingkat usia serta kebutuhan si anak. Hal ini demi menghindari dampak buruk yang bisa menimpa anak-anak sejak dini.

"Kalau anak sudah bisa menggunakan alat bantu, bisa diperbolehkan menggunakan gadget. Tapi harus diperhatikan kegunaannya untuk apa, disesuaikan dengan kebutuhan anak. Misalnya, anak balita untuk bermain, oke. Gunakan gadget yang hanya bisa digunakan untuk bermain, tidak memiliki konten lain selain permainan. Jika sudah SD butuh gadget untuk komunikasi, boleh. Jadi dibatasi sebatas kebutuhan untuk anak," katanya kepada Okezone, Jum'at (9/8/2019).

Menurut Hanoem, pemberian gadget yang asal kepada anak, atau bisa dibilang hanya sekedar mengikuti tren, hanya akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan anak. Apalagi jika minim pengawasan dari orangtua, justru akan membuat anak semakin leluasa berselancar di dunia maya. Terlebih ditengah kemudahan akses internet saat ini yang banyak memuat konten-konten negatif.

"Berilah gadget yang sesuai dengan kebutuhan anak. Jadi gadget itu diperbolehkan ketika disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhan. Karena anak-anak itu belum bisa menggunakan alat sesuai keinginan mereka. Jadi orangtua harus bisa membatasi gadget yang seperti apa, konten seperti apa yang dibutuhkan anak-anak," ujarnya.

Pages