14 October 2019

keluarga

Sedekah? Mana Yang Lebih Utama Kepada Keluarga Dekat atau Orang Lain?

oleh: Ustadz Ahmad Mundzir​*

 

Selain menjalankan ibadah-ibadah pokok (ibadah Mahdhah), seseorang belum dianggap mendapatkan kebaikan hingga rela memberikan harta yang dicintai. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Astaghfirullah: Pemerintah China Pisahkan Anak-anak Muslim dari Keluarga mereka

KONFRONTASI -  Pemerintah China dengan sengaja memisahkan anak-anak Muslim di wilayah Xinjiang dari keluarga, agama, dan bahasa mereka, menurut penelitian baru.

Ketika ratusan ribu orang dewasa ditahan di kamp-kamp raksasa, pada saat bersamaan berlangsung proyek besar-besaran untuk membangun sekolah-sekolah asrama.

Ada Apa Dengan Hari Keluarga?

Oleh : Rosmiati

Hari Keluarga akan jatuh pada 29 Juni mendatang. Kalimantan Selatan telah siap menjadi tuan rumah Harganas ke-26 tersebut. Hari Keluarga atau yang biasa dikenal dengan The Internasional Day of Families, tidak hanya diramaikan di negeri ini namun juga di dunia. Tahun 1993 merupakan awal, dimana Indonesia pertama kali merayakannya. Sehingga usia Harganas sudah mencapai 26 tahun di negeri Zamrud khatulistiwa ini (Fajar.co.id, 5/02/2019).

Keluarga, Sahabat dan Tim Advokat Eggie Sudjana Mendatangi Komnas HAM

Oleh: Muslim Arbi 

 

 

 

 Pekan lalu Istri tersangka makar, Dr Eggie Sudjana SH Msc, Dr Asmini Budiani dan sahabat nya Siti Fatimah SH dan tim kuasa hukumnya mendatangi Komnas HAM.

Tujuan kedatangan mereka adalah mengadukan pelanggaran HAM yang di alami oleh Eggie Sudjana yang kini sedang di tahan di Polda Metro Jaya.

Komnas HAM di pandang penting untuk memberi bantuan agar ikut memberikan jaminan atas pembebasan terhadap Eggie Sudjana.

Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Punya Anak?

KONFRONTASI- Para calon orang tua diharapkan mempersiapkan segala hal secara matang sebelum memiliki anak karena akan muncul tantangan besar dalam membesarkan hingga mendidik sang buah hati, menurut psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati.

Ia mengatakan, memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dalam hal ini suami dan istri. Apabila salah satunya tidak siap, akan berpengaruh pada psikologis anak di kemudian hari.

Cara Bijak Beri Hukuman ke Anak Berdasarkan Usia

Konfrontasi - Hampir 70 persen orangtua pernah menghukum anak sendiri dengan hukuman fisik. Padahal, para psikolog anak sangat tidak menganjurkan untuk memberikan hukuman seperti itu, mengingat hukuman fisik akan memiliki dampak membahayakan untuk anak dewasa nanti.

Tidak semua cara menghukum anak diterapkan di segala usia. Berbeda usia, berbeda cara menghukum, berbeda pula efektivitas serta dampaknya.

Inilah Sandiaga Uno-Nur Asia, Keluarga yang Taat pada Agama

KONFRONTASI -  Sandiaga Salahuddin Uno lahir pada 28 Juni 1969 di Rumbai, dari pasangan Rachmini Rachman dan Ir. Razif Halik Uno atau Henk Uno. Rachmini Rachman atau biasa dipanggil Mien Uno adalah lulusan IKIP Bandung. Dia berasal dari keluarga pendidik di Cirebon. Sementara Henk Uno adalah Insinyur lulusan dari ITB Bandung dan berasal dari keluarga religius di Gorontalo. Sandi memiliki seorang saudara laki-laki, Indra Cahya Uno, yang lahir dua tahun sebelum Sandi.

Anggota IKKT PWA Harus Peduli Kesehatan Diri dan Keluarga

KONFRONTASI - Kepada seluruh anggota Ikatan Kesejahteraan Keluarga TNI (IKKT) Pragati Wira Anggini (PWA) baik di pusat dan daerah, harus peduli terhadap kesehatan diri agar terhindar dari morbid obesity, melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker kandungan serta memiliki wawasan pengetahuan dalam mendidik anak dalam generasi Z.

Keluarga Ini Pelaku Bom Gereja Surabaya

KONFRONTASI- Polisi telah mengungkap identitas para terduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Dari penyelidikan yang dilakukan, terungkap bahwa pelakunya adalah Dita Supriyanto bersama istri dan empat anaknya. 

Informasi terbaru, mereka tercatat sebagai warga Rungkut Wonorejo, Surabaya. 

Bom Bunuh Diri di Tiga Gereja di Surabaya Diduga Dilakukan Satu Keluarga, Ini Peran Masing-masing

Foto yang diperoleh Reporter Surya.co.id dari sumber kepolisian di Polda Jatim, menunjukkan profil keluarga ini saat masih hidup dan belum terlibat dalam serangan bom bunuh diri. 

Dalam foto itu tampak seorang pria dan wanita perempuan dewasa bersama dua anak lelaki dan dua anak perempuan. 

Belum diketahui kapan dan dimana foto keluarga itu diambil. Namun di dalam foto itu, mereka tampak tersenyum. 

Ini Peran Masing-masing Anggota Keluarga

Seperti diberitakan, pelaku pengemboman di tiga gereja yang ada di Surabaya, Jawa Timur diduga kuat berasal dari satu keluarga.

Mereka melakukan aksi bom bunuh diri dengan cara berpencar ke tiga titik ledakan.

"Pelaku diduga satu keluarga," ujar Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Dia menuturkan pelaku di Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna adalah anak dan bapak.

Mereka berjumlah tiga orang dan meledakkan diri di gereja itu.

Sang ayah sebelum bom bunuh diri sempat mengantarkan istri dan dua anak perempuannya ke Gereja Pantekosta Pusat, Jalan Arjuna.

Pelaku

Sebagaimana diketahui bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.

Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Menurut Kapolri, pelaku yang menyerang di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang menggendarai Mobil Avanza adalah bapaknya, bernama Dita.

Dita melakuakn serangan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil yang dikemudikannya ke Gereja Pantekosta.

"Diduga keras Dita," tegas Kapolri.

Namun sebelum melakukan aksinya, Dita terlebih dahulu mengantar isteri dan dua anak perempuannya di Gereja GKI Jalan Diponegoro.

"Isterinya yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Kemudian anaknya yang perempuan berumur 12 tahun dan Pamela Rizkita (9 tahun)," ujar kapolri.

Di lokasi ledakan ketiga di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, kata Kapolri, pelakuanya adalah dua laki-laki yang juga merupakan putera dari Dita.

"Putera dari pak Dita, yang satu namanya Yusuf Fadil, usianya 18 tahun. Dan Firman, usianya 16 tahun," jelas Kapolri.

Kapolri tegaskan semua serangan di tiga Gereja adalah serangan bom bunuh diri.

Sejak pagi hingga sore ini, total ada 13 korban tewas dan korban luka jumlahnya masih sama 41 orang.

Didatangi Tamu Misterius

Polri sudah langsung mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Kota Surabaya.

Otak bom bunuh diri diketahui bernama Dita Supriyanto, warga Rungkut, Surabaya.

Warga sekitar perumahan tempat tinggal Dita mengaku tak cukup mengenal keluarga tersebut.

Pasalnya, keluarga pelaku dikenal tertutup meski sesekali masih menyapa.

Seorang tetangga pelaku, Tanjung (50), mengungkapkan pelaku telah tinggal sejak 2010-2011 lalu.

Keluarga pelaku juga diketahui berasal dari Banyuwangi.

"Setengah tertutup, kalau ketemu ya nyapa," kata Tanjung pada TribunJatim.com, Minggu (13/5/2018).

"Sebelum ada insiden, sekitar jam 13.00 WIB, ada beberapa orang datang. Busananya sama, tertutup gitu," ujarnya.

Ia menyebutkan mengetahui keseharian keluarga pelaku sebagai penjual obat herbal.

"Pekerjaan (mereka) saya nggak tahu pasti, yang saya tahu sering jual herbal gitu," papar Tanjung.

Anaknya pun terlihat sering bermain di depan rumahnya.

"Anaknya juga sering sepedaan di depan rumah," ujarnya.

Ternyata dari Keluarga Kebiasaan Bergosip Dimulai

Konfrontasi - Siapa sangka jika kebiasaan bergosip ternyata dapat dirunut ke hubungan keluarga seseorang. Ketika seseorang memiliki masalah dalam konsep diri, di situlah awal mula berkembangnya biang gosip.

Psikolog Irma Gustiana mengatakan biang gosip biasanya memiliki masalah pada konsep diri. Seseorang yang menjadi biang gosip merasa mendapatkan pengakuan besar terhadap dirinya sebagai sumber informasi

Pages