23 February 2018

Kasus e-KTP

Cuma Jadi Kurir Novanto, Tapi Abdullah Punya Punya Rekening Dolar AS dan Singapura

KONFRONTASI-Selain dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik, Jaksa penuntut umum (JPU) KPK juga mencurigai mantan Ketua DPR Setya Novanto juga melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dugaan itu muncul setelah mendengar keterangan saksi Abdullah alias Wahab di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/2).

"Keterangan saudara menambah daftar panjang perputaran uang di sidang ini. Saya kok mencium bau-bau pencucian uang," kata jaksa penuntut umum KPK Abdul Basir di ruang sidang.

Saksi Sebut e-KTP Proyek Para 'Gajah'

KONFRONTASI- Mantan anggota Komisi II DPR dari fraksi PPP Nu'man Abdul Hakim saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi KTP-elektronik, Senin, mengemukakan bahwa saat menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa menjawab proyek itu kepunyaan "gajah" ketika ditanya mengenai siapa yang memilikinya.

"Pak Agun jawab, ini kemungkinan gajah-gajah, jangan ikutlah. Jangan kita terlibat hukum, ya sudah lah saya tidak tanya lagi," kata Nu'man dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

KPK Soroti Keterangan Andi Narogong Terkait Ganjar Pranowo Dalam Kasus e-KTP

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mencermati fakta persidangan terkait Setya Novanto yang mendengar dari Andi Agustinus bahwa Ganjar Pranowo sudah mendapatkan jatah terkait proyek KTP-elektronik (KTP-e).

"Tadi kami juga dengar fakta persidangan seperti itu. Tentu saja fakta persidangan perlu dicermati terlebih dahulu. Misalnya, dikatakan Setya Novanto mendengar dari Andi Agustinus," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, mantan Ketua DPR Setya Novanto dilapori pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong bahwa Wakil Ketua Komisi II saat itu Ganjar Pranowo sudah mendapatkan jatah 500 ribu dolar AS terkait proyek KTP elektronik.

"Waktu Andi (Narogong) ke rumah saya itu, menyampaikan telah memberikan bantuan dana untuk teman-teman ke Komisi II dan banggar (Badan Anggaran), dan untuk Pak Ganjar sekitar bulan September 500 ribu dolar AS, itu disampaikan kepada saya," kata Setya Novanto dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Hal itu disampaikan Novanto terkait pertemuannya dengan Ganjar Pranowo di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar tahun 2011-2012. Novanto dalam pertemuan itu menyampaikan "jangan galak-galak" dan "apakah sudah selesai" terkait dengan proyek KTP-e yang anggarannya sedang dibahas di Komisi II.

"Tentu kami harus lihat kesesuaian bukti satu dengan yang lainnya. Barulah kami bisa mendalami fakta-fakta persidangan tersebut," ucap Febri.

Lebih lanjut, Febri menyatakan jika memang Novanto ingin membuka peran pihak lain dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor dan juga dalam proses pemeriksaan dalam penyidikan kasus KTP-e akan sangat terbuka bagi yang bersangkutan untuk menyampaikan keterangan.

"Meskipun keterangan tersebut harus kami kroscek dan kami pastikan kesesuaian atau tidak sesuainya dengan bukti-bukti atau saksi yang lain," ungkap Febri.

Novanto Seret Ibas, SBY: Air Susu Dibalas Air Tuba

KONFRONTASI- Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Susilo Bambang Yudhoyono menyebut perilaku Setya Novanto mengaitkan nama putranya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus korupsi KTP elektronik, ibarat pepatah "air susu dibalas air tuba".

SBY Mengaku Tak Pernah Terima Laporan e-KTP Bermasalah Saat Jadi Presiden

KONFRONTASI-Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan tidak pernah ada laporan terhadap dirinya saat masih menjabat Presiden, tentang adanya masalah dalam pengadaan proyek KTP elektronik.

Novanto Akui Irman Pernah Datang ke Rumahnya untuk Bicarakan Anggaran

KONFRONTASI-Setya Novanto mengaku pernah didatangi mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman untuk membicarakan soal anggaran.

Mirwan Amir Sebut Nama SBY, Begini Respon KPK

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi terkait kesaksian mantan Wakil Ketua Banggar DPR RI Mirwan Amir yang sempat menyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono saat bersaksi untuk terdakwa korupsi KTP-e Setya Novanto.

"Jadi, prinsip dasarnya persidangan itu dilakukan untuk membuktikan perbuatan dari terdakwa. Namun, jika ada fakta-fakta persidangan yang muncul tentu saja kami perlu mempelajari terlebih dahulu. Jaksa Penuntut Umum yang akan melihat setiap rincian proses persidangan tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Kamis. 

Mirwan Amir mengaku sempat menyarankan kepada Ketua Pembina Partai Demokrat saat itu Susilo Bambang Yudhyono untuk menghentikan proyek tersebut.

"Saya sempat menyampaikan ke Pak SBY agar e-KTP tidak diteruskan, di Cikeas," kata Mirwan Amir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis.

Mirwan bersaksi untuk Setya Novanto yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan tipikor pengadan KTP-e yang merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun.

"Tanggaapannya dari Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) bahwa ini kita untuk menuju pilkada jadi proyek ini diteruskan," ungkap Mirwan.

Gamawan Fauzi Pernah Dilapori Rencana Andi Narogong Beri Imbalan Rp78 Miliar untuk Pejabat Kemendagri

KONFRONTASI-Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi disebut sudah dilapori mengenai Rp78 miliar untuk para pejabat Kemenerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai imbalan proyek KTP-Elektronik.

"Saya dan pak Sugiharto dipanggil oleh Pak Mendagri. Begitu saya tanya ke pak Mendagri, dia marah-marah ke saya dan Pak Sugiharto. Kata Bu Sekjen, Pak Sugiharto terima uang Rp78 miliar," kata mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Irman menjadi saksi untuk mantan Ketua DPR Setya Novanto yang menjadi terdakwa dalam kasud dugaan tipikor pengadan KTP-Elektronik yang merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun.

"Saya dan Pak Giarto terkejut dan Pak Giarto mengatakan tidak benar dan berani bersumpah dan kenapa Bu Sekjen mengatakan begitu?" ungkap Irman.

Sekjen yang dimaksud adalah Diah Anggraeni. Sedangkan Giarto yang dimaksud adalah Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Kemendagri Sugiharto. 

Baik Irman dan Sugiharto sudah dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi KTP-E dan divonis 7 tahun dan 5 tahun penjara.

"Langkah pertama lalu disuruhlah Pak Giarto oleh Pak Menteri untuk menghubungi Andi Narogong bener tidak dia lapor ke Bu Sekjen menyerahkan uang Rp78 miliar," tambah Irman.

Setelah klarifikasi ke Andi Narogong, ternyata hal itu baru rencana pemberian Rp78 miliar.

"Setelah dihubungi oleh Andi Narogong disebut salah, lalu saya lapor ke Bu Sekjen bahwa maksudnya kalau proyek selesai akan diberikan uang Rp78 miliar. Di situ baru saya tahu ada rencana untuk memberikan uang ke Kemendagri padahal sama saya Andi tidak pernah memberi tahu dan justru lapor ke Bu Sekjen," jelas Irman.

Irman lalu melaporkannya ke Gamawan Fauzi.

"Berarti laporan ke Bu Sekjen bohong, lalu Pak Menteri gak komentar," tambah Irman.

"Pernah dengar gadis-gadis dusun dulu dilamar jejaka itu terus gadisnya diam tandanya apa?" tanya ketua majelis hakim Yanto.

"Mau," jawab Sugiharto yang juga menjadi saksi dalam sidang.

"Ini tadi dikaitkan dengan adanya pelaporan mau memberikan sekian reaksinya bagaimana diam, melawan tidak setuju tidak, tapi itu tidak bisa disamakan dengan gadis yang disamakan tadi," kata Yanto.

Deisti Dikonfirmasi KPK Terkait Proses Penangkapan Novanto

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi kepada Deisti Astriani Tagor, istri mantan Ketua DPR RI Setya Novanto, terkait peristiwa proses penangkapan dan kecelakaan yang dialami Novanto pada November 2017 lalu.

"Intinya kami mendalami lebih lanjut apa yang terjadi pada 15 dan 16 November 2017 tersebut dan juga tentu kami dalami proses medisnya seperti apa. Itu yang kami klarifikasi dalam pemeriksaan tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Senin.

Keponakan Novanto Gunakan Money Changer untuk Samarkan Pengiriman Uang

KONFRONTASI- Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo diketahui menggunakan jasa sejumlah "money changer" untuk menyamarkan pengiriman uang dolar AS dari PT Biomorf Mauritius ke dirinya di Indonesia.

Pages