24 May 2019

Irak

Bahrain Perintahkan Warganya Hengkang dari Irak dan Iran

KONFRONTASI-Pemerintah Bahrain telah memerintahkan warganya yang berada di Iran dan Irak agar segera hengkang dari kedua negara tersebut. Perintah itu dikeluarkan pada saat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus meningkat.

Dalam keterangan yang dirilis pada Sabtu (18/5), Kementerian Luar Negeri Bahrain tak mengungkap secara detail mengapa warganya harus meninggalkan Iran dan Irak. Ia hanya mengatakan bahwa keadaan regional tak stabil dan adanya potensi ancaman.

Yazidi Tolak Anak-anak Hasil Perkosaan ISIS

Seorang ibu dan anak-anak komunitas Yazidi Irak yang melarikan diri dari kekejaman ISIS. [Foto/REUTERS]

KONFRONTASI-Dewan Spiritual Tertinggi Yazidi di Irak mengumumkan bahwa mereka tidak akan menerima anak-anak yang dilahirkan wanita akibat diperkosa oleh para militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Pengumuman ini seperti menjadi revisi dari pernyataan sebelumnya bahwa komunitas itu akan menerima semua korban ISIS yang selamat.

Ulama Irak Minta AS Tak Ciptakan Krisis Baru

KONFRONTASI-Pemimpin Gerakan Kebijakan Nasional Irak, dalam reaksi terhadap tindakan Amerika Serikat membidik Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris, memperingatkan AS agar tidak menciptakan krisis baru dengan tindakan tanpa berpikir.

Ammar Hakim mendesak semua pihak agar menempuh jalan yang beradab untuk menyelesaikan masalah melalui perundingan.

Ia memperingatkan AS agar tidak menciptakan krisis baru yang membahayakan kestabilan dan keamanan semua negara di wilayah tersebut.

Alaa Mashzoub, Novelis Kenamaan Irak Ditembak Mati Tak Jauh dari Rumahnya

KONFRONTASI -  Seorang novelis Irak bernama Alaa Mashzoub (50), ditembak mati pria bersenjata, didekat rumahnya, di kota suci Syiah Kerbala, pada Sabtu (2/2/2019).

Saksi mata, seperti diberitakan Reuters menyebutkan, saat ditembak korban sedang dalam perjalanan pulang. Dia ditembak beberapa kali.

Polisi pun membenarkan hal itu. Namun polisi sendiri belum bisa memastikan motif penembakannya. Sebab, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

3 Murid Tewas Terkena Bom di Irak

KONFRONTASI -  

 Sebanyak tiga murid sekolah tewas dan enam orang luka akibat bom tepi-jalan meledak di dekat kota Mosul, Irak utara. Demikian kepolisian dan sumber kesehatan, Jumat (23/11).

Menurut kepolisian, bom tersebut meledak di dekat bus pembawa murid sekolah menengah atas di daerah Shura menuju Mosul selatan. Belum ada keterangan lebih lanjut soal kejadian itu.

Bom Guncang Mosul, Tiga Siswa Tewas

KONFRONTASI-Sedikit-dikitnya tiga murid sekolah tewas dan enam orang luka akibat bom tepi-jalan meledak di dekat kota Mosul, Irak utara, pada Kamis, kata kepolisian dan sumber kesehatan.

Kepolisian mengatakan bom tersebut meledak di dekat bus pembawa murid sekolah menengah atas di daerah Shura menuju Mosul selatan.

Belum ada keterangan lebih lanjut soal kejadian itu.

ISIS Tinggalkan Ratusan Kuburan Massal di Irak

KONFRONTASI-Sekurangnya 202 kuburan massal ditemukan di  sejumlah kawasan di Irak yang pernah dikuasai kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS, kata PBB.

Investigasi PBB menunjukkan jumlah keseluruhan jenazah yang ditemukan di kuburan-kuburan tersebut mencapai 12.000.

"Angka 12.000 jenazah di kuburan-kuburan itu hanya perkiraan. Di satu kuburan kami menemukan delapan jenazah, di kuburan lain kami menemukan 4.000 jenazah," kata Ravina Shamdasani, juru bicara badan HAM PBB di Jenewa.

Kisah Pilu Wanita Yazidi yang Melahirkan Anak Hasil Perkosaan Milisi ISIS

KONFRONTASI-Di usia yang baru 26 tahun tahun, wanita asal Yazidi, Irak, ini merasakan dilema hebat setelah melahirkan anak perempuan hasil pemerkosaan milisi ISIS.

Anak yang dilahirkan itu kini berusia dua tahun dan diberi nama Maria. Mengacu pada nama anaknya, dia hanya bersedia diidentifikasi dengan nama "Umm Maria (Ibu Maria).

Dilema dia rasakan setelah komunitas Yazidi di Irak tidak bisa menerima kehadiran anak yang dia lahirkan.  Keluarganya sedang bersiap untuk beremigrasi dari Irak ke Australia dan memulai hidup baru.

Dia tahu keluarganya tidak akan pernah mengizinkannya membawa Maria. Keluarganya bahkan tidak tahu bahwa gadis kecil itu ada.

Satu-satunya kerabat yang tahu adalah seorang paman yang mengambil gadis itu darinya dan menempatkannya di sebuah panti asuhan di Baghdad. Wanita itu dan para kerabatnya dibebaskan dari penindasan ISIS (Islamic State) sejak beberapa tahun lalu.

"Hati saya meledak dari dada saya setiap kali saya berpikir untuk meninggalkannya. Dia adalah bagian dari saya, tetapi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan," katanya, saat berbicara kepada The Associated Press di sebuah kamp di Irak utara untuk pengungsi Yazidi, yang dilansir Stripes, Senin (29/10/2018).

Dia menggunakan nama "Umm Maria" karena takut keluarga dan komunitasnya akan mengetahui bahwa dia memiliki anak hasil dari perbudakan seks ISIS.

Derita Umm Maria dan komunitasnya dimulai ketika kelompok ISIS menyerbu wilayah Sinjar di Irak utara pada 2014. Ratusan pria dan anak laki-laki Yazidi dibantai, puluhan ribu meninggalkan rumah, dan para militan ISIS mengambil ribuan wanita dan gadis sebagai budak seks. Para wanita tersebut disandera, diperkosa dan dijual.

Selama praktik barbar itu, banyak wanita Yazidi melahirkan anak-anak dari milisi ISIS. Jumlah pastinya tidak diketahui, namun para wanita tersebut tidak ragu jika jumlahnya mencapai ratusan anak.

Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada Nadia Murad, wanita Yazidi yang juga pernah jadi korban perbudakan seks ISIS namun bangkit untuk mengadvokasi para wanita yang mengalami nasib serupa.

Komunitas Yazidi menolak perkawinan campur dengan non-Yazidi, sehingga anak-anak hasil pemerkosaan para milisi ISIS tak pernah bisa diterima di komunitas tersebut.

Pemimpin spiritual Yazidi, Babashekh Khirto Hadji Ismail, mengeluarkan dekrit pada 2015 yang menyatakan bahwa kaum perempuan yang diperbudak oleh kaum militan akan "dimurnikan" dengan iman mereka tetap utuh. Deklarasi itu memungkinkan para wanita tersebut disambut kembali ke dalam masyarakat Yazidi. Tapi, dekrit itu tidak berlaku bagi anak-anak keturunan ISIS.

Khidr Domary, seorang aktivis Yazidi terkemuka, mengakui bahwa tradisi insular komunitas memerlukan beberapa pembaruan. Dia mengatakan kepemimpinan Yazidi telah menunjukkan fleksibilitas ketika mencoba untuk menangani trauma yang ditinggalkan oleh para milisi ISIS. Menurutnya, para wanita yang jadi korban harus bebas untuk membawa anak-anak dengan ayah biologis milisi ISIS jika mereka mau.

"Tapi, itu tidak bisa termasuk reformasi untuk mengakomodasi hasil kejahatan Daesh," katanya mengacu pada akronim Arab untuk ISIS. Dia mengakui tekanan penolakan dari keluarga dan masyarakat masih kuat untuk menerima anak-anak tersebut.

"Sulit, bahkan bagi ibu, untuk membawa seorang anak untuk tinggal di tengah-tengah kita ketika mungkin ayah Daesh-nya mungkin telah membunuh ratusan dari kita dengan tangannya sendiri, termasuk saudara dari ibu tersebut," katanya.

Umm Maria dibawa tawanan bersama dengan wanita lain pada Agustus 2014, ketika militan menyerbu Sinjar, dekat perbatasan Suriah. Dia akhirnya dibawa ke Suriah sebagai budak seks milisi ISIS, yang dia tahu hanya dengan nama alias Abu Turab.

Ledakan Bom Mobil Tewaskan Empat Orang di Mosul, Irak

KONFRONTASI-Setidak-tidaknya empat orang tewas dan 15 lagi terluka dalam pengeboman dengan mobil di kota Qayyara di Mosul selatan, Irak, pada Selasa, kata kepolisian dan sumber kesehatan.

Mobil penuh bahan peledak itu diparkir di dekat restoran dan pasar ramai di Qayyara, kata kepolisian.

Petugas kesehatan mengatakan jumlah korban tewas kemungkinan bertambah karena beberapa korban luka-luka saat ini berada dalam keadaan gawat.

Belum ada kelompok menyatakan bertanggung jawab, namun serangan seperti itu kerap dilakukan IS.

AS Tutup Konsulat di Basra, Irak-Iran Bereaksi

KONFRONTASI-Irak menyesalkan keputusan Amerika Serikat (AS) yang akan menutup konsulatnya di kota Basra. Rencana tersebut kabarnya juga diikuti pemindahan petugas diplomatik di sana menyusul meningkatnya ancaman dari Iran dan milisi dukungan Iran, tak terkecuali serangan roket.

"Pemerintahan kami menyesalkan keputusan Amerika yang menarik stafnya keluar dari Basra," ujar Kementerian Luar Negeri Irak dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Aljazirah, Ahad (30/9).

Pages