17 September 2019

Investasi

Tak Satupun Perusahaan yang Mau Relokasi Bisnisnya ke Indonesia, Kenapa?

KONFRONTASI-Dalam dua bulan terakhir, tidak ada satupun dari 33 perusahaan yang mau merelokasi bisnisnya dari China ke Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan tersebut pindah ke Vietnam, dan 10 lainnya pindah ke Malaysia, Kamboja, dan Thailand.

Informasi ini didapat oleh Presiden RI Joko Widodo dari laporan kantor perwakilan Bank Dunia di Indonesia.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan, peristiwa relokasi perusahaan luar negeri yang berujung enggan masuk ke RI bukan hanya terjadi saat ini.

Gubernur The Fed Sebut Perang Dagang AS-China Bebani Keputusan Investasi

Konfrontasi - Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa perang perdagangan antara Tiongkok dan AS membebani keputusan investasi perusahaan.

"Saya pikir itu adalah sebuah ketidakpastian. Perang tarif pada perdagangan kedua negara menyebabkan beberapa perusahaan menahan investasi sekarang," kata Jerome Powell di Swiss, Jumat (6/8/2019).

Investor Tak Lirik Indonesia, Jokowi Bisa Apa?

KONFRINTASI-Paparan Bank Dunia di depan pemerintah menyebutkan 33 negara yang hengkang dari China sama sekali tak melirik Indonesia sebagai tempat relokasi. Hal ini karena Indonesia dinilai terlalu sulit dan lama dalam proses perizinan usaha sehingga dianggap kurang menarik dengan investor.

Tanpa Suntikan Modal Asing, Unicorn Tak akan Pernah Ada di Indonesia

KONFRONTASI-Asosiasi Digital Enterpreneur Indonesia (ADEI) mengakui bahwa aliran dana asing menjadi salah satu penopang pertumbuhan bagi perusahaan unicorn di Indonesia seperti Gojek dan Tokopedia. Sebab, tanpa adanya suntikan modal asing kedua perusahaan tersebut bukanlah apa-apa.

"Kalau tidak dibuka untuk investor asing masuk ya unicorn tidak pernah ada di Indonesia yang ada hanya startup," kata salah satu Perwakilan ADEI, Suherman Widjaja, saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (7/8).

Currency War China vs AS, Investor Disarankan Bersikap Defensif

KONFRONTASI-Investor perlu bersikap defensif dalam menghadapi makin memburuknya hubungan Amerika Serikat (AS) dan China yang dapat memberikan sentimen negatif bagi pasar modal. Demikian disarankan Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat.

Sebab itu, investor direkomendasikan untuk memilih instrumen-instrumen investasi yang aman dari volatilitas dan tingkat risiko yang lebih rendah.

Jokowi dan Realisasi Investasi Memacu Pertumbuhan Ekonomi: Mungkinkah?

 Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru saja merilis data investasipada triwulan II 2019 yang mencapai Rp 200,5 triliun. Pencapaian ini meningkat 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menkeu Sri Sebut Dominasi BUMN Bisa Hambat Investasi Asing. Kok Bisa Begitu?

KONFRONTASI-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan peranan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dominan di dalam perekonomian bisa menghambat masuknya investasi asing. Sebab, investor asing dipandang tak akan mau membawa aliran investasi ke Indonesia jika lingkungan bisnis tidak kompetitif.

Perusahaan China-Malaysia Siapkan Rp20 Triliun untuk Bangun Sawah di Indonesia

KONFRONTASI-Kelompok agribisnis China-Malaysia tengah berupaya membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November mendatang di Indonesia. Dengan dana investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun), perusahaan China ini berharap bisa memasuki pasar berkembang di tanah air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.

Saat Pemerintahan Otoriter Investasi Datang, Saat Demokratis Kok Malah Berkurang?

KONFRONTASI - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan sejak krisis moneter yang lalu, pertumbuhan industri manufaktur Indonesia menurun. Sejak saat itu pula industri manufaktur tidak pernah kembali tumbuh besar layaknya saat orde baru.

"Dulu ketika pemerintahan sangat otoriter, investasi datang. Begitu kita demokratis, kemampuan kita untuk membuat lingkungan investasi yang baik itu berkurang," kata Sri Mulyani, Selasa, 16 Juli 2019.

Waspadai Investasi China di Jambi

KONFRONTASI-KPK pernah memperingatkan pemerintah mewaspadai investasi dari Negeri Tirai Bambu itu. Menurut Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, ada beragam alasan kenapa pemerintah harus berhati-hati.

Perusahaan China disebut KPK tak mengenal tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).

Syarif merujuk data Foreign Corruption Practices Act (FCPA) yang menyebutkan China sebagai negara nomor satu dengan tingkat pembayaran tidak wajar atau improper payment.

Provinsi Jambi termasuk satu diantara daerah utama incaran investor China dan Hongkong.

Perwakilan perusahaan konstruksi asal Hongkong, ELL Environmental Holdings Ltd pernah menemui Gubernur Jambi. Mereka berniat investasi senilai Rp 7 Triliun di kawasan Ujung Jabung.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Jambi kawasan Cidurian di Jakarta, Kamis 9 Mei 2019 itu, ELL Environmental Holdings Limited menyatakan minatnya mengembangkan Pelabuhan Ujung Jabung.

“Kami tertarik untuk berinvestasi pelabuhan di Provinsi Jambi, dengan nilai investasi Rp7 triliun,” kata Tommy Fahrizal mewakili Pimpinan ELL Environmental Holdings Limited.

Tommy mengatakan, di Ujung Jabung ELL Environmental Holdings bergerak dalam bisnis konstruksi pelabuhan, peti kemas dan pembangkit tenaga listrik.

Gubernur Jambi Fachrori Umar menyambut baik niatan itu. Tapi, senada dengan KPK, Fachrori meminta perusahaan menjaga kelestarian lingkungan.

“Harus benar-benar diperhatikan,”ujarnya.

Gubernur Jambi Fachrori Umar saat berdiskusi dengan Tommy Fahrizal mewakili Pimpinan ELL Environmental Holdings Limited.

Di era Gubernur Hasan Basri Agus (HBA), Fuhai Group Limited, Perusahaan Metalurgi Baja asal China, investasi di Ujung Jabung.

Komisaris Utama Fuhai Group, Lizhi Zhao investasi senilai Rp 14,4 Triliun untuk membangun kawasan industri di Ujung Jabung.

“Kami akan membangun kawasan industri yang di dalamnya terdapat pembangkit listrik, pelabuhan, smelter baja, hingga perkantoran,” ujar Komisaris Utama Fuhai Group, Lizhi Zhao, di Jakarta, Senin 28 Oktober 2014 silam.

Fuhai berniat menggandeng Unsteel Group dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk membangun proyek ini.

Dalam rancangannya, Smelter Fuhai akan memiliki kapasitas produksi mencapai 1,75 juta ton baja per tahun.

Dilaporkan Jambilink, pada tahun 2016 Fuhai sudah memperoleh izin prinsip pembangunan pabrik baja di lahan seluas 1.400 hektar dari pemerintah.

Fuhai terus melobi pemerintah agar bisa menggarap lahan seluas 4.000 hektar. Ambisi Fuhai menguasai seluruh lahan Ujung Jabung memantik spekulasi dan kekhawatiran.

“Untuk apa lahan seluas itu? Khawatir aja kalau jadi aktivitas lain disana,”ujar Ari Suryanto, aktivis NGO di Tanjab Timur.

Ia mengingatkan pemerintah tak sembarangan memasukkan investor asing. Izin konsesi lahan yang jumlahnya besar itu dinilainya tak lazim.

“Kayak mau bangun pangkalan militer saja,”cetusnya.

Kawasan Pelabuhan Ujung Jabung itu dibangun di atas lahan seluas 4.200 hektare dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2021.

Kawasan tersebut juga sudah ditetapkan sebagai kawasaan strategis yang dipertegas melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jambi.

Pages