21 January 2019

intelektual

Matinya Rektor, Guru Besar dan Intelektual Kampus: ”Quo Vadis” Guru Besar di Rezim Scopus*

”Quo Vadis” Guru Besar di Rezim Scopus*
AKH MUZAKKI
Opini Kompas, 10 Januari 2019
...
Pengalaman Mesir memberikan pelajaran berharga bahwa lambatnya akademisi turun gunung tidak akan membantu menyelamatkan demokrasi dari kondisi acakadut. Saat gejolak Musim Semi Arab (”Arab Spring”) menguat dan Mesir mengalaminya secara cepat sepanjang tahun 2011 hingga pertengahan tahun 2012, para akademisi terlambat merespons. Menara gading masih menjadi zona nyaman bagi mereka.

Saiful Mujani Pengkhianat Intelektual

Oleh ; Radhar Tribaskoro *

 

Pelacur Intelektual, Wan-ilmuwan

Andai Radar Tribaskoro orang Madura, ia akan menyebut Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC) “wan-ilmuwan”. Artinya ilmuwan gadungan.

Tahun lalu, DR. Syahganda Nainggolan bikin tulisan analisa tentang SMRC sebagai tidak ilmiah. Kurang lebih sama dengan Radar.

Rizal Ramli di Amsterdam: Peran Intelektual sangat Krusial bagi Indonesia

AMSTERDAM- Kegiatan forum intelektual yang melibatkan para intelektual Indonesia di luar negeri besar manfaatnya. Apalagi dengan mengundang tokoh yang memahami persoalan-persoalan ke-Indonesia-an seperti saat ini untuk didengarkan pandangannya.

Menteri Luhut Jengkel dan Mau Kumpulin Para Intelektual Minggu Depan

KONFRONTASI-Banyaknya komentar miring yang dialamatkan pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), membuat Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengaku jengkel, Sebab, pemerintahan saat ini sering jadi sasaran tudingan miring tanpa bukti dan data.

”Kemarin saya jengkel juga. Saya bilang kumpulin mana yang intelektual. Kalau saya salah, saya cium tangannya, kalau mereka salah, hati-hati saya bilang," ujarnya saat memberi sambutan di acara peluncuran buku politikus PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan di Jakarta, Minggu (5/2).

Kini Krisis Peran Intelektual

Di Belanda, salah satu intelektual Bumiputera Abdul Rivai pada tahun 1905 teringat nasib negeri. Dia lalu menulis artikel “Kaoem Moeda” di majalah Bintang Hindia. Artikel tersebut bernada satir untuk kalangan inteligensia muda saat itu karena tidak perduli kemajuan umum seluruh negeri. Rivai menulis, “Cuma diri saya…saya…saya. Itulah yang saya pikirkan. Cuma saya… saya…saya yang mesti menarik keuntungan dari pekerjaan saya.

Para Intelektual Muhammadiyah siap Muktamar, Pulang Kandang

KONFRONTASI-Pengurus Pusat Muhammadiyah mengumpulkan puluhan intelektual Muhammadiyah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (3/7/2015). Acara dilakukan menjelang pelaksanaan muktamar Muhammadiyah pada Agustus mendatang.
 

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengungkapkan, silaturahim intelektual ini dilakukan untuk mengembalikan lagi ide intelektual Muhammadiyah.

"Meminjam istilah Hajriyanto, yaitu Muhammadiyah ingin panggil pulang para kaum intelektualnya, paling tidak memulangkan idenya," ujar Din saat membuka acara, Minggu malam.

Persengkongkolan Sempurna Sejumlah Intelektual: Desak Harga BBM Dinaikkan !

KONFRONTASI-Sebal dan memuakkan! Begitulah yang saya rasakanterhadap pemberitaan dan wacana APBN yang bakal jebol karena pos anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). Sepertinya seluruh potensi bangsa ini dikerahkan untuk menjejali benak rakyat, bahwa subsisi BBM benar-benar  perkara haram yang harus dihindari.

Kalau ada sepotong saja aturan yang mengharamkan subsidi BBM, tentu pemerintah telah mengerahkan polisi, tentara, satuan polisi pamong praja, Hansip, bahkan pramuka untuk memastikan bahwa soal yang satu ini memang benar-benar tidak boleh dilakukan.