20 November 2018

Impor

Jokowi Heran Impor Pangan Meluap. Lho Kok Bisa? Nawa Cita Gagal.

KONFRONTASI- Presiden Jokowi mengeluh di forum PKB pekan lalu bahwa beras, jagung, garam, cabe,kedelai dan lainnya impor padahal negeri ini subur dan luas, Apanya yang salah? Presiden  bertanya. Dan ia mengatakan ada yang mismanajemen dalam soal ini.

Pertanyaan pers dan publik: Kenapa itu dibiarkan terjadi di era Jokowi empat tahun ini? '' Jelas ada yang salah, Nawacita gagal, dan rakyat kecewa,'' kata Bennie Akbar Fatah, aktivis senior Gerakan 1998 dan Mantan pimoinan KPU 1999 era Presiden Habibie..

Mentan Pastikan Jual Jagung Impor Rp 4.000/kg

Konfrontasi - Pemerintah memutuskan impor jagung hingga 100.000 ton untuk pakan ternak. Kebijakan impor ini dibahas dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Perekonomian, pada awal bulan November lalu. 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, jagung impor yang akan datang ke Indonesia akan dijual ke peternak mandiri dengan harga terjangkau yaitu Rp 4.000/kg.

"Akan dijual dengan harga Rp 4.000/kg," kata Enggar di Kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (9/11/2018).

Kaum Tani Diam-Diam Dukung Perjuangan RR Desak Presiden Hentikan Impor Pangan

KONFRONTASI- Kaum tani Bagelen, Banyumas dan Kulonprogo sangat mendukung suara nyaring tokoh nasional Rizal Ramli (RR) yang mendesak Presiden Jokowi agar tidak mengimpor beras dan garam demi hajat hidup kaum tani dan petambak/petani garam.

Impor Beras Rugikan Petani, Hancurkan Elektabilitas Jokowi

KONFRONTASI- Nasib kaum tani buruk di era Jokowi. Pasalnya, impor beras/pangan meluap akibat langkah Mendag Enggar mengimpor beras, jagung, garam dan lainnya. Kaum tani protes keras meski tak ditengar istana presiden.

Dalam hal ini, Ketua Gabungan Kelompok Tani Sri Jaya Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Sartam, mengaku khawatir impor beras akan menyebabkan harga gabah dan beras lokal jatuh.

Kementan Anggap Impor Jagung 100 Ribu Ton Sangat Kecil

KONFRONTASI-Kementerian Pertanian (Kementan) menganggap impor jagung 100 ribu ton adalah jumlah yang sangat kecil.

Impor tersebut tidak terkait dengan asumsi bahwa produksi jagung nasional mengalami kekurangan pasokan.

Pengamat mempersoalkan impor jagung yang sangat kecil itu. Padahal Indonesia telah surplus dan malah sudah mengekspor ratusan ribu ton jagung ke berbagai negara. Pengamat dianggap telah ‘buta hati’ dan sangat picik dalam memahami persoalan yang aa.

Saat ini Indonesia tengah mengalami surplus jagung dan bahkan telah mengekspor jagung ke berbagai negara. Impor jagung sebenarnya tak perlu, mengingat jumlahnya yang sangat sedikit (100.000 ton) dibanding dengan jumlah ekspor yang sudah dilakukan.

Itu pun, impor ini bukanlah terkait masalah produksi, namun lebih karena persoalan tatadistribusi jagung yang tidak merata. Ada daerah yang sangat melimpah dan ada daerah yang kekurangan pasokan. Terkait masalah distribusi yang tak merata inilah kebijakan impor terpaksa diambil.

Mengapa Kementan selalu menjadi sasaran kritik? Karena para pengamat biasanya hanya melihat persoalan ini dengan sangat sederhana dan memakai logika kausalitas dangkal.

Asumsinya, bila Indonesia impor, maka jumlah produksi pangan pasti mengalami defisit. Padahal asumsi ini sangat artifisial mengingat dalam sistem pangan nasional, di samping ada produksi, ada distribusi, ada pasar dan lain-lain.

Terkait produksi jagung, Data Badan Pusat Statistik (BPS) sudah memberi keterangan resminya. BPS menyimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton PK.

Selama 3 tahun ini Indonesia sudah menstop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun, setara menyelamatkan Devisa Rp 10 triliun, bahkan ditahun 2018 saja, sampai bulan Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga.

Perhitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyimpulkan realisasi luas tanam bulan Juni-September 2018 mencapai seluas 1.318.284 hektare, dengan perkiraan panen bulan September-Desember seluas 1.263.170 hektare. Dari perhitungan tersebut, diprakirakan produksi yang dihasilkan sebesar 7,18 juta ton PK.

Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton pipilan kering (PK) yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih.

“Artinya masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September-Desember. Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung dalqm negeri akan tetap aman sampai akhir tahun,” ucap Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto, Sabtu (3/11/2018).

Pemantauan Kementerian Pertanian di lapangan, posisi panen besar sudah mulai terjadi di berbagai daerah antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Barat dan Gorontalo.

Bahkan, survei bersama tim satgas pangan dengan tim Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan pada awal September menunjukkan panen sudah mulai terjadi besar-besaran di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto.

Total produksi September di Sulsel mencapai 87.000 ton. Sedangkan di Jawa Timur Oktober-November panen jagung mencapai berturut turut 79.000 ha dan 111.000 ha. Total produksi Jawa Timur di dua bulan ke depan diperkirakan akan mencapai 320 ribu ton dan 699.000 ton.

Sebenarnya panen dan produksi jagung berlangsung sepanjang tahun. Siklus tahunan produksi jagung menunjukkan bahwa puncak panen utama terjadi pada bulan Februari-April, puncak panen ke dua pada Juli-Agustus dan puncak panen ke tiga pada Oktober-Desember awal.

“Pemantauan tim dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menunjukkan panen jagung akan meluas lagi pada bulan Oktober hingga awal Desember,” katanya.

Periode ini merupakan puncak panen ke 3 dalam tahun ini. Pengamatan Kementan selama ini juga menggunakan drone sehingga benar-benar dapat terpetakan secara utuh sebaran luas pertanaman jagung.

Besarnya produksi jagung ini juga didorong oleh pengalokasian 2,8 juta hektare benih jagung premium telah. Sampai Bulan Agustus pertanaman jagung sudah mencapai 3,02 juta hektare, dimana 16,61% diantaranya adalah program bantuan Kementan.

Kekeringan yang terjadi saat ini juga tidak menjadi kendala pada pertanaman jagung, karena konsentrasi penanaman saat ini pada lahan-lahan bekas sawah yang masih memiliki kelembaban cukup untuk ditanam jagung.

Huh, Impor Di Luar Kewajaran, Ugal-Ugalan, Sebut Rizal Ramli Geram

KONFRONTASI -   Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman 

Rizal Ramli Kritik Pemerintah: Impor Di Luar Kewajaran, Ugal-Ugalan

KONFRONTASI -  Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli

Kecewa Jokowi Masih Impor, Petani Tebu Bagi-bagi Gula Gratis

KONFRONTASI-Petani gula yang tergabung di dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) melakukan unjuk rasa pagi ini. Dalam kegiatan itu, para petani sempat melakukan aksi bagi-bagi gula gratis.

Aksi bagi-bagi gula dilakukan sebagai bentuk kekecewaan petani lantaran pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih impor gula.

Menurut salah satu petani, Dwi jumlah gula yang dibagikan mencapai 400 kilogram (kg).

Nilai Mata Uang Rupiah Kian Lemah, Pemerintah Terus Pantau Impor Barang Konsumsi

KONFRONTASI -   Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pihaknya akan terus memantau impor barang konsumsi yang sedang berusaha dikendalikan oleh pemerintah.

Beberapa waktu lalu, pemerintah telah menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 terhadap 1.147 pos tarif atau barang komoditas. Pemantauan upaya pengendalian impor barang konsumsi ini dilakukan sebagai bagian dari langkah menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah menembus level Rp15.000.

Pemerintah RI Juga Impor Tepung Ikan, untuk Apa?

KONFRONTASI -  Indonesia ternyata mengimpor tepung ikan dan udang untuk kebutuhan pakan ternak. Hal tersebut dijelaskan Ketua Bidang Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Thomas Darmawan.

"Tepung ikan itu diimpor untuk kebutuhan industri perikanan tapi juga pengolahan pakan ikan, pakan ternak," kepada detikFinance, Selasa (25/9/2018).


 

Thomas mengatakan kebutuhan akan tepung ikan dan udang merupakan salah satu bahan utama untuk memenuhi kebutuhan protein ternak.

Pages