22 August 2019

imigran

Mereka Menantang Maut Demi Harapan di Negeri Paman Sam

KONFRONTASI-Tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan membuat penduduk negara-negara di Amerika Tengah mengungsi ke Amerika Serikat (AS). Sayang, perjalanan mereka ke tanah harapan tak semudah membalik telapak tangan.

Diancam Trump, Meksiko Kirim 6.000 Personel Jaga Perbatasan

Konfrontasi - Saat Rusia dan Tiongkok mulai kongkalikong, AS bersikap peduli setan. Saat ini perhatian musuh dari dua negara itu lebih terarah ke Meksiko. Mereka harus menunggu apakah Presiden Andres Manuel Lopez Obrador bisa menghentikan karavan imigran dari Amerika Tengah.

Setelah pembicaraan hari kedua, pemerintah Meksiko menyatakan sudah menambahkan 6.000 personel baru di wilayah perbatasan dengan Guatemala.

Kebijakan Baru Trump Semakin Tak Ramah untuk Imigran

Konfrontasi - Pemilu sela telah usai. Di beberapa negara bagian, penghitungan suara masih berlangsung. Termasuk di Negara Bagian Georgia. Namun, Presiden Donald Trump tidak mau terlalu lama larut dalam euforia kemenangan Partai Republik di senat atau kekalahan timnya di House of Representatives. Kamis (8/11) dia langsung mengumumkan kebijakan imigrasi anyar.

"Kami hanya berusaha menertibkan jalur pengajuan suaka di perbatasan agar semakin efektif," kata seorang pejabat Departemen Dalam Negeri dalam jumpa pers.

Ancaman Bahaya Kesehatan Hantui Ribuan Anak Imigran di Meksiko

KONFRONTASI-Sebanyak 2.300 anak kecil di kalangan ribuan migran yang berbaris memasuki Meksiko melalui perbatasan AS memerlukan perlindungan dan akses ke layanan dasar seperti perawatan kesehatan, air bersih dan kebersihan yang memadai.

"Sebagian sudah jatuh sakit atau menderita dehidrasi," kata Dana Anak PBB (UNICEF) di dalam satu pernyataan yang dikeluarkan di Markas PBB, New York, pada Jumat (26/10).

Sentimen Anti-imigran Kembali Mencuat di Eropa

KONFRONTASI-Dua aksi kriminal yang melibatkan imigran Afghanistan di Eropa membuat UNHCR repot. Sebab, sentimen negatif terhadap komunitas imigran dari negara konflik itu langsung meningkat.

Tidak mau sampai lahir aksi rasis, Komisioner Tinggi UNHCR untuk Urusan Pengungsi Filippo Grandi buru-buru angkat bicara.

’’Saran saya, biarkan proses hukum berjalan dulu,’’ ujar Grandi sebagaimana dilansir Reuters kemarin, Selasa (11/9).

Satu Juta Imigran Terancam Terusir dari Amerika

KONFRONTASI - Presiden Amerika Serikat, Ahad (1/4/2018) menilai perlindungan bagi 1,8 juta pengungsi muda yang mendapat dukungan dari pemerintah terdahulu, sudah berakhir dan ia meminta penerapan aturan ketat untuk menjaga perbatasan.

IRNA melaporkan, Presiden Amerika, Donald Trump, setelah gagal meyakinkan anggota Kongres dari Partai Demokrat untuk menganggarkan dana pembangunan tembok pembatas dengan Meksiko, baru-baru ini di laman Twitternya menulis, "tidak ada lagi kesepakatan DACA".

Enam Imigran Terluka dalam Penembakan di Italia

Konfrontasi - Seorang pria yang membungkus diri dengan bendera Italia menembak setidaknya enam orang asing berkulit gelap. Penembakan terjadi di Macerata, Italia tengah.

Menurut surat kabar Il Resto del Carlino, pria berusia 28 tahun itu melepaskan tembakan pertamanya di kawasan Via dei Velini. Ia kemudian mengendarai mobil Alfa Romeo 147 hitam ke sekitar pusat kota dan menembaki imigran.

Tanpa Imigran, Amerika Serikat Bakal Jadi Negara Medioker

Konfrontasi - Isu imigran juga memanas di Amerika Serikat (AS). Semua dipicu sikap Presiden Donald Trump yang ingin mempertahankan kemurnian AS lewat semboyan America First. Banyak yang berdiri menentangnya.

’’Kami (AS) adalah bangsa imigran,’’ tegas Michael L. Pandzik, mantan presiden dan CEO National Cable Television Cooperative AS, sebagaimana dikutip Kansas City Star Minggu (4/2/2018).

Pandzik menyebut dirinya keturunan imigran. Dia dan orang tuanya memang lahir di AS dan berhak menyandang status warga negara AS. Tapi, kakek-neneknya dari garis ayah dan ibu adalah pendatang dari Eropa.

Berdasar Sensus 2013, menurut Pandzik, hanya 2 persen warga AS yang layak disebut sebagai penduduk asli. Yang lain adalah keturunan pendatang alias imigran. Dia menganggap kebijakan kontroversial Trump untuk meminimalkan kedatangan imigran bertentangan dengan nilai-nilai luhur AS.

Tak hanya itu, lanjut Pandzik, seperti negara-negara lain yang populasinya didominasi orang tua, AS harus mendorong regenerasi. Dengan angka kelahiran yang rendah, AS bergantung pada imigran.

’’Mereka adalah solusi yang mudah dan masuk akal,’’ ujar pria 72 tahun itu.

Mengutip World Resources Institute, Pandzik menyatakan bahwa AS membutuhkan kelahiran dua bayi dari tiap perempuan agar populasinya stabil. Faktanya, angka kelahiran mentok pada 1,9.

Dalam kolom yang ditulisnya untuk USA Today pada Jumat (2/2), Jennifer Sciubba menegaskan, imigran adalah salah satu kekuatan AS. Khususnya di bidang ekonomi.

Trump Tawarkan Kewarganegaraan bagi Imigran Ilegal, Ini Syaratnya

Konfrontasi - Gedung Putih mengumumkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menawarkan proposal baru ke Kongres.

Proposal tersebut berisi tawaran pemberian kewarganegaraan kepada sekitar 1,8 juta imigran ilegal untuk periode 10-12 tahun ke depan.

Donald Trump menyuguhkan proposal itu menjelang pembahasan anggaran baru pemerintah untuk bulan Februari.

Proposal tersebut juga ditujukan untuk imigran muda yang masuk dalam program Penangguhan Tindakan bagi Imigran Anak-anak (DACA).

DACA menjadi salah satu penyebab utama pembahasan anggaran menjadi alot dan membuat pemerintahan federal AS mengalami penghentian pelayanan atau shutdown pada hari Sabtu, 20 Januari 2018.

Anggota Senat asal Partai Republik, Tom Cotton, menyambut baik rencana presiden AS ke-45 itu.

"Presiden sangat murah hati, manusiawi, tetapi juga memegang teguh keputusannya," ujar Cotton dikutip dari BBC, Jumat (26/1/2018).

Namun, anggota Senat dari kubu Demokrat meradang dan menyebut bahwa Donald Trump sengaja menahan "Dreamers" -- sebutan untuk imigran muda ilegal -- agar kepentingannya berhasil.

"Miliaran pajak Amerika Serikat seharusnya tidak dihamburkan hanya demi sebongkah tembok," tegas Dick Durbin.

Anggota Demokrat lainnya, Bob Menendez, menuduh proposal tersebut hanyalah langkah kompromi kelompok sayap kanan.

"Rencana Gedung Putih hanyalah bentuk supremasi kulit putih," demikian pernyataan organisasi imigran muda United We Dream.

Alasan Trump Pilih Pemerintah Tutup

Konfrontasi - Pemerintah federal Amerika Serikat mengalami shutdown setelah Senat tak mampu mencapai kesepakatan soal anggaran. Alotnya perdebatan di Senat Amerika Serikat dipicu isu imigrasi.

Demokrat ingin rencana anggaran yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump mencakup perlindungan permanen untuk 700 ribu imigran muda yang masuk program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA).

Pages