20 August 2019

Imam Shamsi Ali

Hajj Journey: Memaknai Perjalanan Haji (Bag.4 - Habis)

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Perjalanan fitrah itu penuh dengan rintangan. Sejak awal penciptaannya manusia ditantang (challenged) oleh Iblis, bahwa dia (laknatullah) itu akan bersungguh-sungguh menggelincirkannya. 

Maka sekali lagi, Sungguh menjadi sebuah tuntutan bagi manusia untuk membangun kesadaran dan komitmen yang sama untuk melakukan perlawanan dan peperangan kepada Iblis dan bala tentaranya. Semua Itulah yang tersimbolkan dalam prosesi Muzdalifah dan Mina. 

Kemerdekaan Itu...

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Berbicara tentang kemerdekaan tentunya kita berbicara tentang salah satu hal yang memiliki posisi terpenting dalam agama. Kemerdekaan bukan sekedar seremoni tahunan. Tapi merupakan esensi iman sekaligus hak asasi manusia yang paling mendasar. 

Maka makna terpenting dari kalimah "laa ilaaha illallah" adalah sebuah ikrar sekaligus komitmen untuk membangun kemerdekaan sejati dan bermakna. Dengannya seorang hamba melepaskan diri dari berbagai belenggu penghambaan selain kepada Raja (Malik) langit dan bumi. 

Pesantren Nur Inka Nusantara Madani dan Kegalauan itu.

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Ketika pertama kali saya mengumumkan rencana pendirian pondok pesantren di Amerika dan menjadi viral, banyak yang bertanya-tanya. Kira-kira apa yang sesungguhnya menjadi motivasi utama sehingga saya melakukan proyek yang cukup ambisius ini? 

Hajj Journey: Memaknai Perjalanan Haji (Bag.4)

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Hidup manusia yang alami, suci dan mulia itu seringkali, bahkan menjadi sunnah (aturan) Allah bahwa dalam perjalanannya mengalami berbagai interupsi (gangguan, godaan, tantangan). Di sinilah manusia kemudian terbagi dua. Ada yang “Muhtadiin” (tetap berada di atas fitrah) dan ada yang “dhoolliin” (tergelincir dari kefitrahan). 

Hajj Journey: Memaknai Perjalanan Haji (Bag. 3)

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Pada segala sesuatu ada yang paling mendasar dan menentukan. Bahkan menjadi identitas khusus dari sesuatu itu. Dengannya sesuatu itu teridentifikasi.

Nampaknya ibadah haji secara khusus teridentifikasi dengan ritual wukuf di Arafah. Ini yang kemudian menjadikan baginda Rasul bersabda: “Haji itu adalah Arafah”. 

Hajj Journey: Renungan Mina

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Manusia itu ada karena Dia Yang Maha Ada. Keangkuhan manusialah yang akan mengingkari adanya Dia. Dan kebodohan yang paling nyata adalah kepura-puraan dalam pengingkaran itu. Karena sesungguhnya fitrah (nurani) insan-insan itu tak pernah dan takkan mampu mengingkari adanya. 

Di saat aku berjalan di pinggiran gunung bebatuan, menuju terowongan Al-Mu’aeshim kemarin siang, dalam guyuran hujan deras dan terpaan angin yang meniup, seolah menampakkan kebesaran Dia Yang Maha Pengendali alam semesta. 

Hajj Journey: Memaknai Perjalanan Haji (Bag. 2)

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Setelah melakukan Tawaf, membangun kesadaran akan tabiat hidup, bahwasanya hidup itu adalah pergerakan dan perputaran. Ketika pergerakan dan perputaran itu berhenti maka terhenti pulalah kehidupan semesta. 

Kini masanya melakukan Sa’i. Secara bahasa Sa’i berarti usaha. Dengan Sa’i ini jamaah membangun kesdaran penuh bahwa hidup itu adalah perjuangan. Hal ini diekspresikan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Al-hayaatu jihaadun” (hidup itu adalah jihad). 

Hajj Journey: Memaknai Perjalanan Haji (Bag. 1)

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Dengan kesiapan perbekalan yang matang itu jamaah haji memulai perjalanan jauh itu. Hal pertama yang akan dilakukan adalah memulai dengan “niat suci” di tempat yang telah ditentukan. 

Ihram di miqat bagaikan ketika terjadi “Aqad ubudiyah” antara Tuhan dan hambaNya. Di saat manusia masih dalam proses eksistensinya, seorang hamba mengambil janji itu: 

Tuhan: “alastu biRabbikum” (Bukankah Aku Tuhan/sembahanmu)? 

Hamba: “Balaa Syahidna” (Benar, Kami memberikan kesaksian kami”. 

Hajj Journey: Miniatur Perjalanan Hidup Manusia

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Setelah seluruh rangkaian ritual haji Selesai dilaksanakan, jamaah dengan sendirinya resmi menjadi haji/hajjah. Gelar ini menjadi popular khususnya di negeri tercinta. 

Kita menyebutkan di sesi awal catatan ringan ini bahwa haji, Selain bersifat konklusif (menyimpulkan), inklusif (merangkul), juga integratif (mengikat) semua aspek ajaran Islam. Pada haji ada aspek akidah, aspek ibadah, dan tentunya ada aspek penting dari Muamalat dan hubungan Internasional manusia. 

Hajj Journey: Mabit di Mina

Oleh: Imam Shamsi Ali* 

Setelah melempar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah jamaah pada umumnya langsung ke Mekah untuk melakukan Tawaf dan Sa’i. Tawaf ini adalah Tawaf haji yang dikenal dengan Tawaf Ifadhoh. 

Setelah Tawaf dan Sa’i haji, jamaah secara otomatis memasuki situasi Tahallul Tsani. Artinya tidak ada lagi larangan Ihram yang berlaku. Sang haji telah halal (bebas) dari larangan-larangan Ihram. 

Pages