22 February 2018

hariman siregar

Hariman Siregar : 20 Tahun Reformasi, Pembangunan untuk Siapa?

KONFRONTASI -  Gaya bicara Hariman Siregar tetap sama. Semangat. Meledak-ledak. Hangat.  Membawa rasa gelisah. Kita bisa menangkap semua rasa itu bahkan saat berbicara dengannya lewat sambungan telepon. Tokoh aktivis mahasiswa yang memimpin demo pemicu meletusnya kerusuhan Malari, akronim dari Malapetaka 15 Januari 1974, berada di Yogyakarta sejak Jumat pekan lalu.

Hari-Hari Kelam Hariman Siregar dan Malari 1974

Redaksi: Menjadi aktivis mahasiswa yang berani, kritis dan lantang pada masa Orde Baru  Presiden Soeharto,  acapkali  direspon pemerintah dengan kekerasan dan  'kutukan' bagi sebagian orang. Meski begitu, tidak sedikit orang yang berani bersuara kritis dan lantang pada masa itu. Tidak terkecuali bagi sosok Hariman Siregar, Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia 1970-an.

40 Tahun Malari, Hariman Siregar: Kesenjangan Sosial Makin Parah! Yang Kaya Makin Kaya, yang Miskin Makin Miskin

KONFRONTASI—“Ada apa dengan pembangunan kita. Kenapa yang kaya makin kaya sekarang?” Pertanyaan ini dikemukakan aktvis senior dr Hariman Siregar, dalam acara peringatan peristiwa 44 Tahun Malari dan 18 In-Demo di Gedung UC UGM Yogyakarta, (15/1). Menurut Hariman, jelas ada yang salah karena pembangunan kini malah membuat kesenjangan sosial semakin lebar, yakni ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’.

‘’Persoalan kesenjangan sosial kami para mahasiwa sudah saya resahkan 44 tahun silam. Dalam pertemuan dengan mendiang Presiden Suharto pada hari Jumat tanggal  11 Januari 1974. Pada pertemuan itu kami para mahasiwa uang bertemu dengan Pak Harto di Bina Graha sudah mengutarakannya. Pembangunan harus fokus atau ditujukan ke masyarakat yang bawah. Pak Harto waktu itu hanya mengangguk-angguk saja,’’ kata Hariman.

Dalam acara itu beberapa tokoh seperti Djoko Santoso (mantan Panglima TNI), Soeripto (Petinggi PKS), Lily Wahid, Emha Ainun Najdib, Ari Sudjito (Dosen UGM), Bhima Yudhistira (Dosen UGM), Daniel Dakhidae, Khatibul Umam Wiranu (Anggota DPR), dan ratusan pengunjung lainnya.

Hariman memaparkan, pada saat pertemuan dengan Suharto itu, para mahasiswa mengkhawatirkan apa yang saat itu terjadi di Pakistan. Pada saat itu Pakistan bagian barat makmur, dengan pertumbuhan mencapai delapan persen. Namun, wilayah bagian timur perekembangan pertumbuhan ekonomi sangat rendah. Akibatnya, Pakistan pecah, antara Pakistan barat (Pakistan, sekarang) dan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh).

“Nah, sekarang ternyata masalahnya masih sama. Cuma bedanya dahulu omong begini ditangkap, sekarang tidak. Dan dua-duanya tidak juga dilaksanakan. Jadi dari 44 tahun silam masalahnya sama dan bahkan makin parah. Istilahnya, berputar dan terus berputar,’’ ujar Hariman lagi.

Bayangkan kata Hariman, ada 41 orang terkaya di negara ini, menguasai aset hingga 245 miliar dolar AS. Padahal, utang negara ini hanya 400 miliar dolar AS. Dan juga ada 1 persen orang menguasai 40 persen aset kekayaan nasional. "Makanya yang ada sekarang adalah stagnanisasi keadaan, bukan kemajuan yang kita dapatkan. Inilah masalahnya sekarang,’’ katanya.

Peringati Malari, Aktivis dan Politisi Kumpul di Yogyakarta

KONFRONTASI - Semangat meneguhkan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial masih terus bergelora di jejaring kaum prodemokrasi Indonesia. Pasca reformasi 1998, berbagai problematika kebangsaan seperti liberalisme, disintegrasi sosial, hingga masalah pemenuhan hak sosial ekonomi masyarakat, terus berkelindan dan belum mampu diakomodir oleh negara sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.

Hariman Siregar: Gerakan Kebangkitan Indonesia Bukan Makar

KONFRONTASI - Sejumlah tokoh nasioanl lintas latar belakang resmi mendeklarasikan 'Rumah Kebangkitan Indonesia' di ruang serba guna Is Plaza, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Minggu (7/1/2018).

Selain dihadiri Mantan Panglima TNI (Purn) Djoko Santoso dan aktivis legendaris Hariman Serigar, tampak juga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Wagub DKI Mayjen TNI (Purn) Prijanto serta puluhan tokoh senior lain seperti adik kandung Gus Dur, Lily Chodidjah Wahid.

Hariman Siregar: Pancasila Jangan Dijadikan Alat Penggebuk Lawan Politik seperti era Orde Baru

KONFRONTASI- Aktivis  senior untuk reformasi Hariman Siregar, mengajak masyarakat Indonesia memahami Pancasila agar Indonesia bangkit dari segala problema sosial dan moral bangsa. Pancasila, menurutnya, tidak boleh dijadikan alat menggebuk lawan politik penguasa seperti yang terjadi di masa Orde Baru.

Aktivis Tulen Itu Bernama Hariman Siregar

Hanya ada satu aktifis tulen. Dia adalah Hariman Siregar. Seorang tokoh yang konsisten, kadang galak, tajam, tapi dihormati. Saya kira dia orang hebat.

Hariman Siregar anak ke empat dari tujuh bersaudara. Lahir di Padang Sidempuan, tanggal 01 Mei 1950. Jadi, usianya sudah 67 tahun sekarang. Sudah 10 tahun, saya ngga liat dia. Ternyata masih begitu-begitu aja. Ngga berubah. Rambutnya masih hitam. Awet muda. Pikirannya masih tajam. Ramah. Saya nyaman dekat-dekat dengan dia.

Surat terbuka dr. Hariman Siregar: “Kejinya Pemerintah, Tega Membodohi Rakyat Demi Menangkan Jagoan Istana

KONFRONTASI-Tokoh dan Aktivis Malari DR.Hariman Siregar kecewa dengan pemerintah saat ini yang sudah tidak netral dalam menjalankan roda pemerintahan dengan sistem demokrasi. Kekecewaan tersebut dituangkan dalam surat terbuka yang ditulis langsung oleh Hariman Siregar, berikut isi surat tersebut : “Tulisan ini saya buat dengan sepenuh kekecewaan.

Keji, Pemerintah Tega Bodohi Rakyat Demi Menangkan Jagoan Istana

Oleh: Hariman Siregar

Tulisan ini saya buat dengan sepenuh kekecewaan. Tidak sampai nalar saya menyikapi manuver-manuver politik dalam Pilkada DKI Jakarta, yang kian lama kian kental nuansa main kayunya.

Kekuasaan ambrol, bukan lagi untuk memperkuat yang benar, melainkan mati-matian membela jagoannya. Demi kemenangan jagoan versi istana, bahkan melacurkan kebenaran, menginjak moralitas politik pun dilakukan. *Sungguh tragis*

Kita Butuh Civic Nasionalism guna Mengatasi Populisme

KONFRONTASI- Indonesian Democracy Monitor (InDemo) menggelar kegiatan dengan Tajuk “Menyikapi Perubahan, Kebangkitan Populisme”.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati 43 Tahun Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) dan merayakan ulang tahun Indemo yang ke 17 tahun serta Peluncuran Media Online Nusantara.news.

Acara tersebut digelar di Mawar Conference Room, Lt. 2, Gedung Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan, Minggu (15/1/2017).

Pages