20 March 2019

Hancurkan

Awas! Robot Seks Bisa Hancurkan Alat Vital Pria

KONFRONTASI -  Robot seks sering kali dianggap sebagai robot yang tidak memiliki pengaruh penting dalam kehidupan manusia. Namun, para ahli memberi peringatan, robot seks dapat menghancurkan alat vital pria saat mereka sedang bercinta.


Dikutip dari situs Metro, Rabu, 20 Februari 2019, para pakar hukum mengatakan bahwa alat vital juga bisa hancur karena robot yang dibuat dengan buruk. Bukan hanya organ intim, bagian tubuh lain juga berisiko menderita saat pengguna melakukan interaksi fisik dengan robot seks.

Hancurkan Tuan Rumah UAE 4 - 0, Qatar Ukir Rekor, Ketemu Jepang di Final Piala Asia 2019

KONFRONTASI -  Qatar mencetak rekor di Piala Asia 2019. Untuk pertama kali dalam sejarah, negara emirat yang terletak di semenanjung kecil di jazirah arab Asia Barat itu lolos ke final Asian Cup.

Sungguh Biadab, Serangan Israel Hancurkan Ribuan Rumah Warga Gaza !

 

KONFRONTASI -   Pemerintah Palestina menuturkan, ribuan rumah warga Gaza hancur dalam serangan terakhir yang dilancarkan oleh Israel. Jet tempur Israel pekan lalu melancarkan serangan dalam skala besar di Gaza, sebagai respon atas serangan rudal Hamas.

"Sebanyak 1.252 unit telah rusak dalam eskalasi militer Israel terakhir di Gaza," kata Naji Sarhan, wakil Menteri Perumahan yang bermarkas di Gaza dalam sebuah konferensi pers di Gaza.

Hancurkan Filipina 4 - 1, Tim U-19 Hujan Pujian Indra Sjafri

KONFRONTASI  -    Timnas Indonesia U-19 kembali mampu meraih tripoin usai menundukan tamunya Filipina dengan skor 4-1 dalam laga ketiga Piala AFF 2018 yang digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (5/7/2018). Namun, kali ini, kemenangan itu tak mudah diraih.

Pelatih Timnas U-19 kembali melakukan rotasi di tubuh timnya. Tak ada nama Asnawi Mangkualam, Muhammad Firli, Saddil Ramdani atau David Kevin di susunan pemain yang tampil sejak awal di laga sebelumnya.

Peran Adik Ternyata Hancurkan Ahok Lewat Pledoi "Ikan Nemo"

KONFRONTASI- Fifi Lety Indra, adik biologis Ahok, yang masuk dalam tim penasihat hukum Basuki Tjahaya Purnama (BTP), malah memberi efek negatif kepada nama baik sang kakak dan upaya pembelaan hukum terhadapnya.

Bayangkan, pengacara muda tak berpengalaman bersandingan dengan nama-nama besar pengacara senior seperti Trimoelja D. Soerjadi, Humphrey R. Djemat, Sirra Prayuna, Teguh Samudera, I Wayan Sudirta, dan nama lainnya, tetapi lagaknya melebihi advokat sekelas almarhum Adnan Buyung Nasution.

Suara sumbang mengenai Fifi menyeruak. Tim penasihat hukum yang terlihat begitu solid itu, sebenarnya menyimpan bara di dalamnya. Konon, beberapa orang penasihat hukum menyatakan ingin keluar dari tim pensihat hukum BTP karena tersinggung dengan sikap Fifi.

Ada apa dengan Fifi? Tingkah apa yang dibuat Fifi, sehingga membuat tim penasihat hukum Ahok menjadi terpecah? Lantas mengapa bisa ada kemungkinan Fifi sendiri yang akan menghancurkan Ahok?

Menurut sumber, Fifi kerap kali blunder, baik terkait pernyataan di media massa maupun sikapnya yang cenderung angkuh. Fifi kerap kali tidak bisa membedakan posisinya sebagai tim penasihat hukum atau sebagai adik Ahok. Fifi juga tidak paham dengan konstelasi dan perkembangan yang terjadi di luar. Fifi pun tidak menghormati pengacara-pengacara yang lebih senior. Dalam beberapa sidang, Fifi sering ditegur hakim karena pertanyan-pertanyaannya yang tidak substantif.

Dan terakhir, mungkin yang paling parah, Fifi adalah orang di balik Pledoi "Ikan Nemo".

Masih ingatkah ketika Fifi membuat pernyataan heboh "Al-Quran diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW"? Sebuah pernyataan yang sesungguhnya masuk delik penodaan agama lebih berat dari delik kakaknya. Namun sayang, ACTA mencabut gugatannya karena lebih fokus ke Ahok.

Sikap otoriter Fifi membuat harmonisasi tim BTP menjadi retak. Bahkan, dalam setiap sidang, Fifi membatasi tim pengacara yang bertanya dan tidak segan menghentikan pertanyaan itu kalau tidak sreg dengan pemikirannya. Padahal, menurut keterangan, beberapa pihak pengacara yang tergabung dalam penasihat hukum BTP free of charge alias tidak dibayar. Para pensihat hukum dengan sukarela membela Ahok. Namun pribahasa air susu di balas air tuba.

Anehnya, sang Kakak (Ahok) sangat menuruti langkah-langkah yang diambil oleh adiknya itu. Ada apa? Lantas apa hubungannya dengan pledoi "Ikan Nemo" yang dibacakan Ahok?

Coba perhatikan lebih cermat pledoi yang dibacakan Ahok, Selasa (25/4) lalu. Pasti ada yang aneh. Pledoi yang diberi judul "Melayani Walau Difitnah", jauh dari kata menarik. Isinya sangat datar, tidak substantif dan tidak menggambarkan pokok persoalan yang dibahas di persidangan.

Bandingkan dengan eksepsi yang dibacakan Ahok di awal-awal persidangan dulu; begitu dalam, berisi, komprehensif serta menggugah orang-orang yang hadir di persidangan maupun pemirsa yang menonton tayangan ulang karena sidang sendiri di awal-awal tertutup.

Sementara dalam pledoi kemarin, Ahok seakan mengkerdilkan dirinya sendiri. Mengibaratkan Ahok dengan ‘Finding Nemo’ sekuel film animasi anak-anak seperti kehilangan contoh konkret. Masak, Ahok dibandingkan dengan tokoh fiktif. Argumentasi Nemo, ikan kecil yang berani melawan arus sama seperti Ahok sekarang, buat saya itu out of context . Nemo si Ikan kecil, kalau dibahas lebih jauh, setelah terpisah dari bapaknya justru dalam beberapa kesempatan tidak melawan arus. Bahkan si Nemo dalam beberapa kesempatan se-arus dan bergaul dengan macam-macam ikan, baik yang kecil dan besar, yang beracun dan yang tidak. Apakah Ahok bergaul dengan koruptor atau ikan beracun?!

Yang bikin geger dan tidak diketahui publik, yaitu perkara sensitif yang satu ini. Fifi bersikeras memasukkan referensi Islam Sontoloyo yang pernah disampaikan Bung Karno di tahun 1940-an. Dan, ajaibnya, itu di-aminkan saja oleh sang kakak.

Pemikiran Islam Sontoloyo yang dikemukakan oleh Bung Karno itu tentu berbeda konteks dengan persoalan Ahok sekarang ini. Bung Karno saat itu adalah penguasa dan menyampaikan gagasan keagamaan berdasarkan referensi pribadi sebagai pribadi muslim dan pergaulannya di pergerakan aktivis saat itu. Perlu diingat, Soekarno adalah salah satu murid HOS Tjokroaminoto yang adalah pendiri Partai Sarikat Islam (PSI). Soekarno berguru kepada Tjokro bersama Kartosuwiryo yang kemudian hari menjadi pencetus negara Islam DI/TII.

Islam Sontoloyo menurut paham Bung Karno waktu itu yaitu Royal Mencap Kafir, Taklid Buta, Mengutamakan Fikih, Tak Melek Sejarah, dan terakhir Hadis Lemah sebagai Pedoman.

Sementara Fifi, asal jiplak referensi Islam Sontoloyo itu dalam pledoinya itu.

Tim penasihat hukum BTP pun memanas. Yang mereka inginkan, pledoi-pledoi yang sudah dibuat saling memperkuat bukan malah sebaliknya. Pada akhirnya pledoi Fifi pun tetap dipakai, namun "Islam Sontoloyo" sudah dihilangkan. Tim penasihat hukum BTP bekerja keras menghindari masalah dan eskalasi yang lebih besar.

Bagaimana jadinya kalau Islam Sontoloyo masuk dalam pledoi yang dibacakan Ahok? Apa enggak chaos negeri ini? Sangat membahayakan kebhinnekaan bangsa dan juga pemerintahan Jokowi itu sendiri. Bahasa keras sudah dinyatakan oleh Amin Rais, "Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish".

Orang tipikal Fifi akan membusungkan dada mengklaim keberhasilan tim sebagai keberhasilan dirinya. Sebaliknya, akan melemparkan masalah kepada tim jika tujuannya tidak tercapai.

Sudah seyoganya orang seperti ini tidak pantas menjadi penasihat hukum BTP, walaupun secara fakta dia adalah adiknya. Peran Fifi justru akan menghancurkan Ahok, bukan menyelamatkan Ahok.

Inilah Rahasia Bayern Hancurkan Porto

KONFRONTASI-Pelatih Bayern Muenchen, Josep Guardiola, mengaku sangat senang terhadap penampilan anak asuhnya saat mengalahkan FC Porto, pada pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions, di Allianz Arena, Selasa atau Rabu (22/4/2015) dini hari WIB.

Takluk 1-3 pada leg pertama, Bayern bangkit. Mereka tampil luar biasa dengan unggul 5-0 atas Porto pada babak pertama. Setelah jeda, Bayern sempat kebobolan tetapi Xabi Alonso mampu menciptakan gol pada menit-menit akhir sekaligus memperbesar keunggulan Bayern dengan skor 6-1.