14 November 2019

Filipina

ISIS Bunuh dan Perbudak Warga Sipil di Marawi

KONFRONTASI-Militer Filipina mengungkap kekejaman kelompok ISIS yang membunuh dan memperbudak warga sipil di Marawi. Kelompok ISIS di Filipina yang sebelumnya bernama kelompok Maute ini memperbudak warga sipil sebagai pelayan dan juru masak bagi mereka.

Para warga sipil yang dibunuh para militan ISIS merupakan warga yang mencoba melarikan diri dari Kota Marawi.

Menurut militer Filipina, ada sekitar 1.000 orang yang masih terjebak di kota Marawi, kota yang dikendalikan oleh militant ISIS.

Duterte Tak Tahu Tentara AS Ikut Terjun di Marawi

KONFRONTASI-Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, dia tidak mengetahui pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan bantuan kepada pasukan pemerintah dalam pertempuran melawan kelompok Maute di Filipina Selatan. Dia juga mengaku tidak pernah meminta bantuan kepada AS.

"Saya tidak pernah mendekati Amerika untuk meminta bantuan. Saya tidak menyadari kehadiran mereka, sampai mereka tiba," kata Duterte dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Minggu (11/6).

Sebelumnya diwartakan, pasukan khusus AS dilaporkan mulai terlibat dalam operasi melawan kelompok sayap ISIS di Filipina. Bantuan AS ini datang di tengah kesulitan yang dialami tentara Filipina untuk merebut kembali Marawi dari kelompok Maute. 

Militer Filipina mengatakan, tentara AS hanya memberikan bantuan teknis untuk mengakhiri pengepungan di kota Marawi, yang sudah memasuki minggu ketiga. Militer Filipina menegaskan tidak terlibat langsung pertempuran di kota yang terletak di FIlipina Selatan itu.

"Mereka (tentara AS) tidak berperang, mereka hanya memberikan dukungan teknis," kata juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera dalam sebuah pernyataan.

Duterte Tawarkan Rp2,6 Miliar Bagi yang bIsa Menangkap Pimpinan Abu Sayyaf

KONFRONTASI-Hadiah uang 10 juta peso atau Rp 2,6 miliar ditawarkan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, bagi siapa saja yang bisa menangkap pimpinan Abu Sayyaf Isnilon Hapilon.

Demikian disampaikan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Eduardo Ano, Senin (5/6/2017), untuk menangkap pria yang disebut sebagai Emir ISIS di Asia Tenggara itu.

Duterte juga menawarkan hadiah uang masing-masing 5 juta peso atau Rp 1,3 miliar untuk dua bersaudara pemimpin kelompok Maute yaitu Abdullah dan Omar.

Duterte Ungkit Perselingkuhan Bill Clinton

KONFRONTASI-Presiden Filipina Rodrigo Duterte mencela Chelsea Clinton, putri mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton karena mengkritiknya soal lelucon tentang perkosaan. Duterte yang marah membalas dengan mengusik kasus perselingkuhan Bill Clinton dengan perempuan magang di Gedung Putih.

Perangi ISIS, Duterte Ajak Separatis dan Pemberontak Maois Bergabung

KONFRONTASI-Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah meminta kepada separatis Muslim dan pemberontak pimpinan Maois untuk bergabung dalam perang pemerintahnya melawan militan yang terkait dengan Islam. Duterte bahkan siap membayar dan memberikan rumah jika mereka bersedia bergabung untuk mengalahkan musuh bersama yaitu kelompok Maute.

Hal itu diungkapkan Duterte kala mengunjungi sebuah pangkalan militer di Pulua Jolo. Di pulau ini, pasukan Filipina tengah memerang kelompok militan Islam lainnya Abu Sayaf.

Duterte mengatakan bahwa ia akan memperlakukan gerilyawan komunis dan separatis sama seperti tentara pemerintah jika mereka bergabung dalam peperangannya.

"Saya akan mempekerjakan Anda sebagai tentara; bayaran yang sama, hak istimewa yang sama, dan saya akan membangun rumah untuk Anda di beberapa daerah," kata Duterte, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (28/5/2017).

Dia mengajukan penawaran tidak konvensional ke Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Dia juga meminta Tentara Rakyat Baru (NPA) komunis untuk meninggalkan perang gerilya yang berlarut-larut dan bekerja dengan pemerintahannya.

MILF dan MNLF telah melancarkan pemberontakan separatis sejak akhir 1960-an dan telah menandatangani kesepakatan damai yang terpisah dengan pemerintah. Namun kesepakatan tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan.

Tawaran Duterte kepada Maois terjadi setelah pemerintahnya membatalkan perundingan damai terakhir dengan sayap politik NPA. Pemerintah Filipina menuduh pemberontak merencanakan lebih banyak serangan.

"Jika ini terus berlanjut, dan Anda ingin bergabung, ambillah kesempatan Anda dengan Republik," kata Duterte.

Tidak ada reaksi langsung dari para pemimpin kelompok atas tawaran Duterte.

Reaksi Panglima TNI Ketika Indonesia Rawan Disusupi ISIS dari Filipina

Konfrontasi - Konflik bersenjata di Filipina dan adanya teror di Kampung Melayu, Jakarta Timur, membuat Indonesia disebut-sebut rawan disusupi oleh kelompok ISIS dari Filipina. 

Menanggapi hal itu, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan kesiapannya untuk menghalau mereka. Dia pun menyiapkan patroli bahkan dari laut. 

19 Penduduk di Kota Marawi Filipina Tewas Usai ISIS Mengamuk

Konfrontasi - Dikabarkan bahwa pertempuran antara militan ISIS dengan pasukan keamanan di kota Marawi, Filipina telah menewaskan 19 warga sipil, ungkap militer seperti yang dilansir dari the guardian.com pada Minggu (28/5/2017), setidaknya jumlah dalam satu minggu pertempuran ada 85 orang.

Filipina Batalkan Perundingan Damai dengan Pemberontak Maois

KONFRONTASI-Perundingan perdamaian pemerintah Filipina membatalkan perundingan perdamaian dengan pemberontak pimpinan Maois di Belanda pada Sabtu sesudah Tentara Rakyat Baru (NPA) meningkatkan serangan di pedesaan.

Kedua pihak terlibat dalam pembicaraan perdamaian, yang ditengahi Norwegia untuk mengakhiri perang hampir lima dasawarsa, yang menewaskan lebih dari 40.000 orang.

Pada putaran terakhir pembicaraan dengan Kubu Demokratiik Bangsa, lengan politik NPA, penasihat presiden Jesus Dureza menyatakan pemerintah menunda perundingan karena pemberontak tidak membalas upaya perdamaian Presiden Rodrigo Duterte.

Dengan membaca pernyataan, Dureza mengatakan pembicaraan akan dilanjutkan hanya bila ada "tanda jelas, yang memungkinkan lingkungan dapat mencapai perdamaian adil dan berkelanjutan di negeri itu melalui perundingan perdamaian".

Dureza menyatakan keputusan itu diambil saat pemimpin pemberontak memerintahkan gerilyawan "meningkatkan serangan" sesudah keadaan darurat diberlakukan pada Selasa malam di pulau selatan, sebagai tanggapan atas perebutan kota oleh gerilyawan kelompok keras Maute, yang tidak terhubung dengan NDF.

Itu adalah kedua kali pemerintah menghentikan pembicaraan perdamaian dengan pemberontak komunis atas serangan gerilya terhadap tentara dan usaha, seperti, pertambangan dan perkebunan.

Duterte sangat ingin mengadakan kesepakatan perdamaian dengan komunis tapi marah karena kelompok itu terus melakukan kekerasan. Ia menyatakan tuntutan mereka berlebihan dan ia sudah memberi konsesi.

Militan Maute Penggal Kepala Polisi Filipina

KONFRONTASI-Kelompok militan Maute membakar gereja, menculik seorang pastor dan beberapa jemaat di Marawi, Mindanao, Filipina selatan, Rabu (24/5/2017). Mereka juga telah memenggal kepala seorang polisi.

Kabar itu disampaikan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Rabu. Ia telah mempersingkat kunjungannya ke Rusia dan kembali lagi ke Manila pada Rabu (24/5/2017) tak lama setelah serangan militan tersebut.

Militan Pro ISIS Serbu Marawi, Baku Tembak Pecah, 21 Orang Tewas

KONFRONTASI-Lebih dari 100 militan pro-ISIS Maute menyerbu Kota Marawi di Pulau Mindanao, Filipina, Rabu (24/5). Serangan itu menyebabkan terjadinya pertempuran antara militan dan polisi selama berjam-jam. Akibatnya, 21 orang dialporkan tewas dalam baku tembak tersebut.

Salah satu korban tewas adalah Kepala Polisi Marawi yang dilaporkan dipenggal oleh salah satu militan. "Kepala polisi sedang berada di Malabang dalam perjalanan pulang. Dia dihentikan di sebuah pos pemeriksaan yang diawaki oleh teroris dan mereka memenggal kepalanya saat itu juga," kata Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dikutip Daily Mail.

Teroris juga menyerang Gereja Katedral Our Lady Help dan menculik staf gereja termasuk Pastor Chito Suganob. "Mereka mengancam akan membunuh para sandera," kata Uskup Agung Filipina, Socrates Villegas, dalam sebuah pernyataan.

"Pada saat penangkapannya, Pastor Chito sedang menjalankan tugasnya sebagai imam. Dia bukan pejuang. Dia tidak membawa senjata. Dia bukan ancaman bagi siapa pun. Penangkapan dia dan rekan-rekannya melanggar norma konflik beradab," kata Uskup Agung Villegas.

Juru bicara Militer Nasional Filipina Kolonel Edgard Arevalo mengatakan, 13 tentara pemerintah dinyatakan tewas bersama dengan 13 militan. Presiden Duterte mengumumkan status darurat militer di beberapa wilayah di Mindanao setelah serangan itu.

Ia mengatakan dapat memperpanjang status tersebut ke wilayah lain jika para ekstremis mencari perlindungan di tempat lain. "Kami dalam keadaan darurat," katanya kepada wartawan di Manila setelah melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow.

Pages