23 February 2017

Ferdinand Hutahaean

Sosok Tepat Pimpin Pertamina, Siapa?

KONFRONTASI - Persaingan memperebutkan posisi jabatan Direktur Pertamina tampaknya semakin memanas. Bukan Pilkada Jakarta saja yang memanas untuk memperebutkan kursi Gubernur 5 tahun kedepan. Jabatan Dirut Pertamina pasca dicopotnya Dwi Sutjipto sebagai Dirut menyisakan perebutan kursi kosong yang saat ini diawaki oleh PLT.

Selamatkan Pertamina: Jangan Ulangi Kesalahan Masa Lalu

KONFRONTASI - Pencopotan Dwi Sutjipto dari kursi Direktur Utama Pertamina adalah bentuk nyata kegagalan orang dari luar Pertamina dalam memimpin BUMN sebesar Pertamina yang membutuhkan kecerdasan, akselerasi tinggi, memiliki terobosan-terobosan, mampu memimpin tim kerja, dihormati dan diterima dari dalam serta punya pengetahuan tentang seluk beluk bisnis Pertamina dari hulu hingga hilir. Fakta nyata bahwa orang dari luar Pertamina seperti Dwi Sutjipto gagal dalam segala hal tersebut hingga mengakibatkan kisruh di internal Pertamina yang berujung pada pencopotan dirinya.

Demokrasi Kaum Oligarkhi: Suara Uang, Suara Rakyat

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Pilkada serentak 2017 baru saja menunaikan agenda pemutungan suara dari rakyat atas nama demokrasi. Perhitungan suara belum selesai namun pemenang pilkada sudah bisa kita ketahui dari publikasi Quick Count atau perhitungan cepat yang dilakukan oleh para lembaga survey. Meski kontroversial, namun itulah demokrasi kita saat ini.

Pintu Nusantara Untuk AHY Pasca Pilgub Jakarta

Oleh:  Ferdinand Hutahaean

AHY tentu wajar dan manusiawi mengalami rasa sedih ketika harus menerima kenyataan perolehan suara dalam pilkada gubernur DKI Jakarta kemarin 15 Pebruari 2017 yang secara mengejutkan menempatkan Agus Harimurti Yudhoyono pada urutan ketiga berdasar hitung cepat. Dengan jiwa seorang ksatria dan karakter pemimpin, AHY mengucapkan selamat kepada para kompetitornya.

Ferdinand Hutahaean: Presiden Jokowi Harus Batalkan Grasi Antasari Azhar

KONFRONTASI - Manuver hukum berbau politik yang dilakukan oleh Antasari Azhar dengan melaporkan proses penyelidikan ke Bareskrim Polri kemarin 14 Pebruari 2017 sehari sebelum hari pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta adalah satu perbuatan yang tidak mengakui 7 tingkatan proses pemegakan hukum pada dirinya yaitu Penyelidikan oleh Polri, Penyidikan oleh Polri, Pengadilan tingkat pertama, Banding, Kasasi dan dua kali Peninjauan Kembali yang kesemuanya mengukuhkan dan menguatkan vonis bersalah dengan pidana penjara 18 tahun atas pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Kehendak Kekuasaan yang Melawan Kehendak Rakyat

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Hari ini nasib Jakarta akan ditentukan oleh rakyatnya. Semestinya seperti itu jika demokrasi pemilihan kepala daerah berlangsung jujur dan adil tanpa rekayasa oleh kekuasaan yang tampak berpihak kepada salah satu pasangan calon Gubernur yang saat ini MENYANDANG GELAR TERDAKWA sebagaimana dakwaan yang dituduhkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara tentang PENONADAAN AGAMA terhadap agama Islam dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Dialah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok paslon nomor urut 2 pada pilkada DKI Jakarta.

Halusinasi Sang Terpidana Pembunuhan Nasrudin

KONFRONTASI - Antasari Azhar menyandang gelar terpidana pada tanggal 11 Feb 2010 setelah divonis 18 tahun penjara oleh majelis hakim yang dipimpin Herry Swantoro dengan anggota Nugroho Setiadji dan Prasetyo Ibnu Asmara, setelah pada tanggal 19 Januari 2010, Antasari dituntut hukuman mati oleh jaksa yang dipimpin Cirus Sinaga. Jaksa menganggap Antasari terbukti terlibat bersama-sama terdakwa lain membunuh Nasrudin. Dan atas vonis tersebut, Jaksa dan Antasari sama-sama mengajukan banding karena tidak puas stas vonis yang dibetikan hakim.

Ruang Terbuka Kalijodo Yang Merampas Kehidupan Masyarakat Miskin

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Keheranan tak henti-henti mengaduk-aduk pikiranku menyaksikan tayangan di beberapa stasiun TV baik dalam bentuk iklan maupun dalam bentuk informasi atau berita yang ditayangkan berulang-ulang tentang Ruang Terbuka Hijau Kalijodo.

Tampaknya tayangan itu diputar berulang-ulang bukanlah karena kebutuhan informasi tapi tampak ada pesanan agar tayangan tersebut selalu menghiasi ditengah publik demi kepentingan politik dalam rangka Pilkada DKI Jakarta.

Ahok Tidak Mungkin Bebas, Kasihan Pendukungnya Jadi Korban Politik

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Mencermati sidang ke 10 TERDAKWA Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas dakwaan PENODAAN AGAMA sebagaimana diatur dalam pasal 156a KUHP yang diancam dengan hukuman penjara 5 tahun. Hati-hati kepada para pendukung Ahok akan menjadi korban sebuah kelicikan politik.

Indonesia Menuju Kerusakan Tatanan Kenegaraan

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan megambil kisah Louis XIV yang berhasil menerapkan absolutisme dan negara terpusat dalam rejim kekuasaannya. Bahkan Louis XIV terkenal dengan ungkapan "L'État c'est moi" ("Negara adalah saya"). Bagi Louis XIV dia adalah negara, dan perkataannya adalah hukum.

Pages