25 May 2017

Donald Trump

Trump Puji Cara Duterte Tangani Narkoba

KONFRONTASI-Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas "penanganan hebat yang dijalankan terhadap masalah narkoba".

Pujian itu disampaikan Trump dalam pembicaraan melalui telepon bulan lalu, demikian menurut laporan New York Times yang mengutip salinan pembicaraan, lapor Reuters.

Kedua pemimpin juga berbicara tentang Korea Utara dan potensi pengaruh China, lapor New York Times.

Laporan itu mengutip bagian-bagian salinan pembicaraan pada 29 April oleh pihak Filipina, yang dikeluarkan pada Selasa di dalam lembaran bersampul "rahasia" oleh divisi Amerika Departemen Luar Negeri Filipina.

New York Times mengatakan seorang pejabat pemerintahan Trump di Washington, yang meminta agar jati dirinya tidak diungkapkan, membenarkan bahwa transkrip tersebut merupakan salinan akurat pembicaraan telepon kedua pemimpin.

Hampir 9.000 orang, yang banyak di antaranya adalah para pengguna dan pengedar narkoba, terbunuh di Filipina sejak Duterte mulai menjabat sebagai presiden pada 30 Juni.

Kepolisian mengatakan sepertiga dari jumlah korban itu ditembak oleh para personel, dengan dalih membela diri, saat operasi-operasi sah dilancarkan.

"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Anda karena saya mendengar soal penanganan yang hebat terhadap masalah narkoba," lapor New York Times yang mengutip Trump, berdasarkan transkrip.

"Banyak negara yang memiliki masalah (seperti) ini, kami punya masalah, tapi hebat sekali apa yang sedang Anda lakukan dan saya ingin menelepon dan menyampaikan itu pada Anda."

Duterte memenangi pemilihan pada Mei 2016 dengan persentase perolehan suara yang tinggi. Ia kerap dibanding-bandingkan dengan Trump, yang juga merupakan kandidat alternatif di luar arus utama politik.

Reuters belum dapat memastikan segera kebenaran laporan New York Times.

Minum Kopi Pakai Tangan Kiri, Trump Ditegur Raja Salman

KONFRONTASI - Kunjungan Donald Trump ke Arab Saudi memantik perhatian masyarakat dunia. Trump dianggap lebih "jinak" terhadap Islam di Arab Saudi, apalagi di hadapan Raja Salman.

Setidaknya hal ini dibuktikan dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Dalam video itu, Trump seperti ditegur oleh Raja Salman karena minum kopi dengan tangan kiri.

Trump, in Israel, says he has new reasons to hope for Middle East peace

KONFRONTASI-U.S. President Donald Trump said in Israel on Monday he came away from a weekend visit to Saudi Arabia with new reasons for hope that peace and stability could be achieved in the Middle East.

On the second leg of his first overseas trip since entering office, Trump is to hold talks separately with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu and Palestinian President Mahmoud Abbas in a stopover lasting 28 hours.

Later on Monday, the U.S. leader will pray at Judaism's Western Wall and visit the Church of the Holy Sepulchre in Jerusalem, and on Tuesday he will travel to Bethlehem in the occupied West Bank.

Netanyahu and his wife Sara, as well as President Reuven Rivlin and members of the Israeli cabinet, were at Tel Aviv's Ben-Gurion airport to greet Trump and first lady Melania in a red carpet ceremony after what is believed to have been the first direct flight from Riyadh to Israel.

"During my travels in recent days, I have found new reasons for hope," Trump said in a brief speech on arrival.

"We have before us a rare opportunity to bring security and stability and peace to this region and its people, defeating terrorism and creating a future of harmony, prosperity and peace, but we can only get there working together. There is no other way," he said.

Trump's tour comes in the shadow of difficulties at home, where he is struggling to contain a scandal after firing James Comey as FBI director nearly two weeks ago. The trip ends on Saturday after visits to the Vatican, Brussels and Sicily.

During his two days in Riyadh, Trump received a warm welcome from Arab leaders, who focused on his desire to restrain Iran's influence in the region, a commitment they found wanting in the Republican president's Democratic predecessor, Barack Obama.

"What's happened with Iran has brought many of the parts of the Middle East toward Israel," Trump said in public remarks at a meeting in Jerusalem with Rivlin.

"And you could say that's one of the - if there's a benefit, that would be the benefit. Because I've seen such a different feeling toward Israel from countries that as you know were not feeling so well about Israel not so long ago. And it's brought a lot of folks together," Trump said.

Apa Alasan Trump Gunakan Istilah "Ekstrimisme Islamis"?

KONFRONTASI-Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan kalimat "ekstremisme islamis" sewaktu berbicara kepada 50 pemimpin negara-negara muslim dalam KTT Islam-Amerika Serikat di Riyadh.  Istilah itu dianggap lebih lembut ketimbang "terorisme Islam radikal" yang sering dia kemukakan sewaktu kampanye Pemilu AS 2016.

Mengenai hal ini seorang pejabat Gedung Putih berkilah bahwa Trump hanya mengalami kelelahan. "Hanya orang yang sudah kelelahan," kata dia kepada wartawan seperti dikutip Reuters.

Raja Salman Langsung Sambut Donald Trump di Bandara

Konfrontasi - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Arab Saudi untuk mengawali rangkaian kunjungan luar negeri perdananya sejak dilantik Januari 2017 lalu. Trump menjadi satu-satunya Presiden AS yang menjadikan Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjungi setelah menjabat.

Donald Trump Sebut: Pemecatan Direktur FBI 'Mengurangi Tekanan'

KONFRONTASI - Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada pejabat Rusia bahwa pemecatan direktur FBI James Comey mengurangi "tekanan besar" terhadap dirinya, seperti dilaporkan media AS.

New York Times, mengutip sebuah dokumen yang merangkum pertemuan pekan lalu, mengatakan dia menyebut Comey sebuah "pekerjaan yang benar-benar gila".

Comey telah melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan kolusi anyara Rusia dan tim kampanye Donald Trump.

Trump Murka, Mantan Direktur FBI Diangkat Jadi Jaksa Khusus Selidiki Kasusnya dengan Rusia

Konfrontasi - TrumpPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bereaksi keras atas penunjukan mantan Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) Robert Mueller menjadi jaksa khusus menyelidiki kemungkinan kolusi antara tim kampanye pemilu Presiden Donald Trump dengan Rusia dalam kampanye presiden 2016.

Reaksi Trump diungkapkan melalui akunnya di Twitter, Kamis (18/5/2017).

Trump menulis twit, "Ini adalah perburuan penyihir terbesar terhadap seorang politikus dalam sejarah Amerika".

Selain itu Trump menulis, "Dengan seluruh tindakan ilegal yang terjadi pada kampanye Clinton dan pemerintahan Obama, tidak pernah ada jaksa khusus yang ditunjuk!"

Ia pun menegaskan tidak ada kolusi antara dirinya, kampanyenya dan Rusia. Malah menurut Trump, masalah ini memecah belah negeri.

Hal itu disampaikannya saat ditanya mengenai penyelidikan tersebut dalam sebuah konferensi pers bersama Presiden Kolombia Juan Manuel Santos.

Mantan Direktur FBI memiliki mandat yang luas mencakup tindakan menyelidiki Presiden Donald Trump dan bahkan menyelidiki pemecatan mendadak mantan Direktur FBI James Comey, pekan lalu.

"Saya menerima tanggung jawab ini dan akan melaksanakannya dengan memberikan yang terbaik dari kemampuan saya," Mueller mengatakan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AP.

JIka Nuklir Korut Hantam AS, Trump Hanya Punya Waktu 10 Menit untuk Ambil Keputusan

KONFRONTASI-Presiden Donald Trump akan membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk bereaksi jika rudal nuklir Korea Utara (Korut) benar-benar menghantam daratan Amerika Serikat (AS). Analisis waktu itu disampaikan para ahli keamanan global.

Waktu sekitar 10 menit itu akan menjadi keputusan Trump untuk meluncurkan serangan balasan atau tidak.

Berbicara kepada Associated Press tentang apa yang akan terjadi jika terjadi serangan nuklir dari Korut, ilmuwan David Wright, dari Program Keamanan Global UCS dan analis roket Markus Schiller, dari ST Analytics di Jerman, menggambarkan bagaimana drama tersebut akan terungkap.

”Batas waktu pendek,” ucap Wright. ”Bahkan untuk rudal jarak jauh, ada banyak langkah yang bisa dilakukan dalam mendeteksi peluncuran dan mencari tahu apa yang terjadi, membiarkan presiden tersebut mungkin memerlukan waktu 10 menit untuk memutuskan apakah akan melakukan serangan balasan (atau tidak),” lanjut Wright, yang dilansir Kamis (18/5/2017).

Para ahli bersikeras bahwa Korut yang dipimpin diktator muda Kim Jong-un masih belum mampu meluncurkan rudal yang bisa mencapai daratan AS. Namun, rezim komunis itu pada hari Senin lalu mengklaim mampu melakukannya.

Dalam pengumuman di kantor berita KCNA, rezim Pyongyang menyatakan bahwa Korut sekarang memiliki kemampuan untuk mengirim hulu ledak nuklir berskala besar melintasi Pasifik. Klaim itu menyusul kesuksesan Korut dalam uji tembak rudal balistik Hwasong-12 selama akhir pekan lalu.

Kim Dong-yub, profesor di Universitas Kyungnam Korea Selatan, mengatakan kepada media lokal bahwa kemungkinan terburuk dari serangan rudal nuklir Korut adalah melanda Alaska atau Hawaii.

Jika Korut memang memiliki kemampuan untuk mencapai target di AS, Wright dan Schiller memprediksi bahwa segala sesuatunya bisa lepas kendali dan berlangsung cepat.

Trump willing to try engagement with North Korea, on conditions: Seoul

KONFRONTASI-U.S. President Donald Trump told South Korea's presidential envoy that Washington was willing to try to resolve the North Korean nuclear crisis through engagement, but under the right conditions, South Korea's foreign ministry said on Thursday.

Trump has said "a major, major conflict" with North Korea is possible and all options are on the table but that he wanted to resolve the crisis diplomatically, possibly through the extended use of economic sanctions.

South Korean President Moon Jae-in, who took office last week, has campaigned on a more moderate approach toward the North but he has said it must change its attitude of insisting on arms development before dialogue can be possible.

Moon's envoy to Washington, South Korean media mogul Hong Seok-hyun, said Trump spoke of being willing to use engagement to ensure peace, Hong said in comments carried by television.

"The fact that Trump said he will not have talks for the sake of talks reiterated our joint stance that we are open to dialogue but the right situation must be formed," Foreign Ministry spokesman Cho June-hyuck told a regular briefing.

South Korea and the United States agreed during a visit to Seoul by Trump's national security advisers this week to formulate a "bold and pragmatic" joint approach, Cho added.

The North has vowed to develop a missile mounted with a nuclear warhead that can strike the mainland United States, saying the program is necessary to counter U.S. aggression.

The United States, which has 28,500 troops in South Korea to guard against the North Korean threat, has called on China to do more to rein in its neighbor.

China for its part has been infuriated by the U.S. deployment of an advanced Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) anti-missile system in South Korea, saying it was a threat to its security and would do nothing to ease tension with Pyongyang.

South Korea has complained that some of is companies doing business in China have faced discrimination in retaliation for the system's deployment.

North Korea conducted its latest ballistic missile test on Sunday in defiance of U.N. Security Council resolutions, saying it was a test of its capability to carry a "large-size heavy nuclear warhead".

Trump-Erdogan Saling Puji, Ada Apa?

KONFRONTASI-Pujian setinggi langit dilntarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Trumo menegaskan Turki merupakan pendukung setia AS dalam beberapa dekade. Trump pun menyampaikan pujian khususnya karena Turki menjadi negara yang konsisten melakukan perang melawan ekstrimis Islam.

"Hari ini, kita menghadapi musuh baru dalam perang melawan terorisme, dan kita menghadapi ancaman ini bersama-sama,"kata Trump sebagaimana dikutip dari Reuters, saat menerima kunjungan Erdogan di Gedung Putih, Washington, AS, Rabu (17/5).

Trump mengatakan bahwa AS akan terus mendukung Turki melawan negara Islam (ISIS) dan kelompok pejuang Kurdi yang melakukan pemberontakan di Turki.

"Kami (AS-Turki) memiliki hubungan yang bagus dan kami akan membuatnya lebih baik lagi. Hubungan (AS-Turki) tak akan bisa dikalahkan,"kata Trump.

Pages