21 September 2019

Din Syamsuddin

Din Syamsuddin: Pemakaian Istilah Kafir Memang Harus dengan Bijak

Konfrontasi - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, menyampaikan pemikirannya mengenai hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) Organisasi Islam Nahdlatul Ulama terkait penggunaan istilah kafir yang menjadi perdebatan di masyarakat.

Menurutnya, di masyarakat majemuk seperti Indonesia pemakaian istilah kafir untuk menyebut non-muslim harus dengan bijak dan hati-hati. Tapi juga tidak dengan 'gebyah uyah' kata kafir dihilangkan.

Din Anggap Isu HGU Jadi Bumerang Bagi Jokowi

KONFRONTASI-Pernyataan calon presiden nomer urut 01 Joko Widodo, yang menyinggung kepemilikan lahan Prabowo Subianto, pada pelaksanaan debat putaran ke dua makin melebar. Lantaran dinilai sangat kontraproduktif terhadap fakta yang ada di sekelilingnya.

Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengatakan, jika isu-isu semacama itu dibuka tidak bisa dielakkan akan melebar. Terlebih menurutnya, betapa banyak yang mendapatkan konsesi Hak Guna Usaha (HGU) dari negara.

Din: Pilihan Boleh Beda, Ukhuwah Jangan Sampai Porak-Poranda

KONFRONTASI-Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin menyerukan agar partai-partai politik menjaga suasana menjelang Pileg dan Pilpres 2019 agar tetap damai.

"Marilah kita jalani agenda demokrasi ini secara damai dan beradab," kata Din dalam acara Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI ke 36 bertajuk Silaturahim dan Dialog Capres-Cawapres 2019, di Kantor MUI, Jakarta, Rabu.

Ia meminta perbedaan pilihan politik tidak menjadikan umat Islam terpecah.

Din Syamsuddin: Pilih Presiden yang Perjuangkan Umat Islam

KONFRONTASI - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengatakan lembaganya mengimbau kepada seluruh umat Islam cerdas dalam memilih capres-cawapres dalam Pilpres 2019. Menurut dia, MUI memberikan kriteria wajar secara subjektif untuk memilih calon pemimpin sesuai kepentingan umat Islam.

"Baik legislatif dan eksekutif, calon presiden dan calon wakil presiden yang secara sejati memperhatikan, memedulikan, dan memperjuangkan kepentingan Islam dan umat Islam," ujar Din di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019.

Soal Polemik Pernyataan Said Aqil, Din: Saya Kira Cukuplah

KONFRONTASI-Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta semua pihak untuk tidak meneruskan polemik pernyataan Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj. Said sebelumnya menginginkan posisi strategis jabatan publik dan umat diisi oleh kader NU.

"Perkara KH Said Aqil Siradj ini saya kira dicukupkan saja demikian," kata Din kepada wartawan di Jakarta, Rabu (30/1).

Din Syamsuddin Minta Almamater Gontor tak Boleh Dipakai Dukung Paslon

Konfrontasi - Sebagai alumni Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Din Syamsuddin menegaskan bahwa alumni Gontor tidak boleh menggunakan nama almamater Gontor dalam mendukung salah satu pasangan calon capres-cawapres di Pilpres.

"Sebagai alumni Gontor tidak boleh bawa almamater. Bahwa dia pribadi silakan. Kalau ada yang bawa nama alamamater itu kurang pede dan manipulatif," ujar Din saat ditemui usai menggelar rapat di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Jokowi Jadi Imam, Din Syamsuddin Mengaku Tak Khusyuk Shalat

KONFRONTASI -  Ketua Umum PP Muhammadiyah Pusat Din Syamsuddin mengaku pernah mengetes keislaman calon presiden Joko Widodo dengan meminta Gubernur DKI Jakarta itu menjadi imam shalat zuhur. "Saya ajak Pak Jokowi untuk shalat zuhur, dan beliau imam. Saya sebagai makmum, bayangkan beliau imam, dan saya pimpinan Muhammadiyah makmumnya," kata Din dalam sidang Tanwir Muhammadiyah di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (24/5/2014).

Kenangan Rizal Ramli, Azyumardi Azra, Din Syamsuddin dan T Mulya Lubis di Boston

KONFRONTASI- Pada 1987 di Boston, AS: Rizal Ramli sedang menyelesaikan Doktor (PhD) di Boston University, Din Syamsuddin sedang ambil Summer Course di Harvard, Azyumardi  Azra dari Colombia University  di New York. Kemudian  datang Din Syamsuddin (Tokoh Muhammadiyah), dan  T.Mulya Lubis bersama isteri dari UC Berkeley,  yang kebetulan sedang jalan-jalan ke Boston. Mereka bertemu di dekat Kampus MIT.

Din: Tempat Ibadah Jangan Dijadikan Ruang Kampanye

KONFRONTASI-Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mengingatkan semua pihak agar jangan menjadikan tempat ibadah untuk berkampanye politik atau menggiring untuk memilih tokoh tertentu.

Ada 3 Alasan Din Syamsuddin Mengundurkan Diri dari Jabatan Utusan Presiden

KONFRONTASI -  Din Syamsuddin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Utusan Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban. Din belum genap setahun menduduki jabatan itu.

Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakan. Pertama, dia tidak ingin dipersepsikan mendukung Joko Widodo sebagai Capres 2019.

Kedua, ingin menegakkan khittah Muhammadiyah. Ketiga, menjaga netralitas Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Din diangkat Joko Widodo menjadi utusan sejak 23 Oktober 2017 lalu. Kemudian mulai efektif bekerja mulai Februari 2018.

Pages