8 April 2020

Dewi nurhalizah

Puisi Dewi Nurhalizah : Tetap Telanjang

Tetap Telanjang

terdiam,
masih belum cukup malam
debar dentam dada

depan cermin,
kulepas satu persatu penutup tubuh
telanjang
memandang seluruh lekuk
dan bertatap mata
siapa engkau?

engkaulah waktu,
masa yang telah menapak jejak
pada kulit kerut pepori dan bulu-bulu
kisah bercerita sendiri
pada cermin yang tiba-tiba buram
mengembun
keringat terpantul
dadaku berdetak
tak elak

Puisi Dewi Nurhalizah : ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK

Yang Tak Diserupakan

Engkau hanya kenalkan satu titik saja
hitam
karena putih adalah cahaya
yang memercik dalam butiran bening
membasuh segala kelam
dalam hening

bukan karena dikata sebagai mau
insan yang ditera sangsai
atas angan yang dianggap binar benar
lalu tersungkup dalam tabir
hingga tiba akhir
tak bermalu

Puisi Dewi Nurhalizah : Wanita Tanpa Bayang

Wanita Tanpa Bayang

wanita tanpa bayang,
wanita etalase
yang berganti baju setiap kali perlu
untuk sebuah trend
diam ditelanjangi
diam di bikini
diam dalam gaun mewah
diam dalam celana panjang lelaki,
dengan resleting terbuka
wanita boneka manequin itu
tak punya kata
ketika lelaki kencing depan kaca

malang, 102015

 

Aku Mau Bilang Apa

Puisi-puisi Dewi Nurhalizah : Parade Sejuta Puisi Penyair Facebook (PSPPF)

Ketika Puisi Tak Lagi Terdengar

ia susuri pantai dari fajar hingga sore hendak pergi
tak bisa didengarnya guruh gelombang
karang dihempas putih menampias
ombak berlari gelitik kaki dan menepi
pasir mencetak tapak sejenak
lenyap kembali

Puisi-puisi Dewi Nurhalizah : Parade Sejuta Puisi Penyair Facebook (PSPPF)

Konfrontasi- Saya mengenal dengan baik penulis buku puisi "Perempuan dan Matanya" ini dan saya merasakan betul proses kreatifnya kami intens menjalin komunikasi dan saling memberikan dukungan hingga lahir buku puisinya itu, saya merilis karya-karyanya tiga tahun belakangan ini, dan mengetahui benar alasan ia menulis puisi juga menerbitkan buku puisi. Bagi saya ada kesamaan visi antara kami berdua, kami sama-sama merayakan kehidupan melalui puisi, (Redaksi)

Tak Mau Cinta Membara, Tuan
oleh dewi nurhalizah

Dua Puisi Cinta Transedental Dewi Nurhalizah : Sedebu Cinta dan Tak Berwajah, Sebuah Ulasan

Oleh : Warih W Subekti*)

Manusia betapa pun dia telah dibekali kesadaran keilahian sebagaimana juga mahkluk hidup yang lain, kita tahu kecambah dan tumbuhan lain akan condong dan menggerakan batang/ranting ke arah matahari, itu bukan sesuatu yang tiba-tiba dan mekanis tapi sebuah kesadaran akan kelahiran dan ketuhanan.

Tak Berwajah

aku menatapmu dengan ketidak tahuanku
hati yang tak mampu bicara, semua aksara tiada
mencintaimu dengan kelembutan yang meruyak,
mengoyak akuku

Puisi-puisi Dewi Nurhalizah : Di Sanakah Rumah Itu?, Bukan Hanya Api dan Tak Puisi Siang

Di Sanakah Rumah Itu?

 

Selalu tak kutemui angin hanya

kerik jangkrik sayup irama malam

alam tenggelam dalam

hening alangkah tenang tanpa angan

jiwa-jiwa lelap lena renangi mimpi ingin

dan jiwa yang terjaga menari dalam puja mantera

tak bergoyang dedaun tak berayun kembang

tafakur dan berdiam

menyusur jalannya sendiri

di riuh mimpi atau di hening bening

aku hanya bisa memandang bintang

kerlip di kejauhan pada bentang malam

di sanakah rumah itu?

malang, 042015

Puisi : Ahok

AHOK

Oleh : Driya Widiana M S, Dewi Nurhalizah, Ekbi Tan dan Warih W Subekti

Aku bilang dia si kepala batu
bukan ' lempar batu sembunyi tangan'

ala politisi kacangan yang ' memancing di air keruh'

Ahok seorang penberani
itu yang dibutuhkan negeri ini

kalau kalain setuju ayo ' kepalkan tinju'
dan rapatkan barisan
" Maju, Serbu, Serang..., Terjang !*)

kita tabuh genderang perang

                ***

mulut setajam pisau
kelupas wajah-wajah bertopeng

Puisi Dewi Nurhalizah : Perempuan Sunyi

Perempuan Sunyi

jelang dini dan wangi pagi,
perempuan tergolek cumbui sunyi
dicobanya bangkit singkapkan wingit, tak mampu
menyisih repih dan serpih
langit-langit kamar mengejek sinis
apa yang kau cari perempuan?

waktu tak henti ditepis
dan helai uban mengintip di selah hitam rambut pelipis
perempuan berbaring mengeja ingin, tak ditemuinya
serat bertapis dibaca berkali
tak menemu arti
silir angin dini di ujung malam
menerpa lembut dan membungkam
senyap menggodam dada, nyeri

Di Tepi Tebing : Puisi Dewi Nurhalizah

Di Tepi Tebing

perempuan di tepi tebing
gumpal berdenyut tergeletak di ujung kaki
geming berdebu tanpa terompa
ia lupa dimana semula
ketika waktu makin menjauh

getar lembut runtuh
menggelinding jatuh
bulir keringat dan airmata diteguk
lepas dahaga keluh
mabuk kala jalan meliuk

senjakala pucat jingga hilang warna
pasi di tepian hari meski diulasnya berkali
desir nadi tak dimengerti
sedang bayang merupa arsiran
garis-garis hitam putih
di tentang mata lamur,
blur

Pages