6 December 2019

Dewi Azza

Namanya Angeline : Puisi Dewi Azza

Namanya Angeline

Kamu,
Yang sudah terbaring kaku
Dalam lilitan luka
Terbalut duka
Kamu,
Masih tersenyum
Cantik dan lugu
Dalam rekaman gambar yang beku

Aku,
Hanya mampu melihatmu dalam imaji
Betapa nestapa telah menjadi bagian dalam nafasmu
Siksa bertubi
Sakit tiada henti
Kurasakan
sengalan nafas yang menahan perih
Rejangan tangan-tangan biadab
Mengoyak tubuh mungil dan suci
Merajammu hingga denyut nadi terhenti

Puisi Dewi Azza : Aku dan Puisi

Aku dan Puisi

Kosong
Mencari arti tiap kata yang tersaji
Di hamparan karpet imaji
Tak mengerti

Merupa
Ketika satu demi satu terbedah
tafsirkan makna rangkaian bait bait indah
Ku terpesona

Perlahan jejemari menari
Ikuti arena tak bertepi
Melagukan sajak sajak hati
Entah kau mengerti

Di sini aku
Berteman kalam dan kata
bersenyawa
dalam puisi dan prosa.

Depok Lama, 2015

____________________________________________________________

Puisiku Puisi Sunyi : Kolaborasi Driya Widiana dan Dewi Azza

PUISIKU PUISI SUNYI

puisiku puisi sunyi 

dengan keheningan wajah rupawan 

tak puas hanya dengan memandanginya 

namun tak kuasa 'tuk merengkuh 

dalam pelukan

 

puisi sunyi adalah engkau

yang melenggang dalam diam

menyeberangi pagina kalbuku

 

kata-kata tanpa suara

merangkum berjuta makna

meski dalam sunyi

getarnya merajam sukma

wahai kesunyian yang diam

janganlah kau tegak di sana

binarkanlah rasa ini

dari ketersembunyian diri yang sepi

 

Kamu dalam Puisi Senjaku

senja telah jauh

meninggalkanku yang masih

termangu di beranda

segelas teh teronggok di meja

puntung puntung rokok

berserak

tak tersisa asap

tahu kemana perginya?

 

tak peduli derak ranting yang

tertiup angin

kulewati bersama imagi

mengembara liar

 

seekor tupai melompat

ke pohon jambu

tak tahu apa yang dicarinya

akankah ia pulang ke sarang?

 

gelap semakin pekat

suara jangkrik menjadi musik

menemani serangga malam

Puisi Dewi Azza : Bulan Temani Aku Malam Ini

aku hanya ingin bicara kepada bulan
di kesenyapan
yang hanya menjadi milik kami
tanpa perdebatan
siapa benar
siapa salah
tak peduli
hanya kata kata cinta
meski ada amarah
tapi itu tak berarti
pendar cahayanya penuh kehangatan
membias tatkala menyentuh wajahku
ada semburat rasa terungkap
itu milik kami
aku hanya ingin bicara kepada bulan
di batas terang dan gelap
di antara larik waktu yang menjauh
ku endapkan hasrat bersamanya

: temani aku malam ini, bulan

Puisi Kesunyian : Anggota Kumandang Sastra (KuSas Semarang)

Puisi di Kesunyian

dengkur malam mendekati pagi
melipat cerita usang
tergilas waktu terus berlari
mengejar pelangi sore tadi

berjuta munajat menyebar
berharap Tuhan 'kan menjawab
tergugu
terisak
tengadah tangan
memohon belas kasihNya

jeda jaman terlalu jauh
hingga 'ku mesti tersungkur
berkubang lumpur
nistaku
hinaku
pendosa menanggung azab

Puisi Rindu : Dewi Azza

Konfrontasi-Rindu menjadi tema yang tak usang sepanjang zaman, rindu atau kerinduan menerpa siapa saja, remaja, tua dan muda, rindu tak hanya bermakna pada cinta, tapi lebih luas cakupan dari pada itu semua, sebuah relasi yang melibatkan emosi dan perasaan orang-perorang yang merasakannya, semisal kerinduan pada kampung halaman, yang umum diderita oleh kaum urban dan juga rindu yang transenden atau keillahian umunya  dialami para penganut tarekat tertentu atau para sufi. Rindu bisa lebih luas dari yang saya tulis ini. ( Penyunting : Warih W subekti )

Cerpen ( Aku, Erika dan Gibrania)

Gelap malam rasanya tidaklah sepekat dan sekelam hatiku saat ini. Kegundahan dan keresahan yang sudah setahun terendap pada akhirnya mulai memuai dan membuncah dalam satu kenyataan yang teramat sangat menyakitkan. Kuakui hal ini bukanlah hal yang baru dalam satu cerita kehidupan. Sungguh. Begitu banyak yang sudah terjadi bahkan lebih rumit dari yang kualami. Tetapi tetap saja goresan luka itu teramat nyata dan sulit kuobati.