15 December 2019

Denny JA

Ibu Tak Lagi Bernyanyi

Oleh: Denny JA

Hampir setiap pagi,
Kala matahari bernyanyi bawa fajar
Ketika burung bernyanyi mengantar hari,
Ibu juga bernyanyi.

Dengan nada, aku diajar membaca.
Dengan musik, aku diajar cinta
Akupun tumbuh 
Diasuh oleh melodi.

Aku ikut bernyanyi bersama Ibu.
Ibu bersenandung,
Aku mainkan gitar.

Tapi sejak hari itu,
Matahari tetap bernyanyi,
Burung tetap bernyanyi,
ibu tak lagi bernyanyi.
Gitar teteskan air mata.

Menyambut Tahlilan Kelompok Pembaharu: Beragama di Zaman Now

Oleh: Denny JA

Beragama di Zaman Now, di era Google, hanya bisa damai jika kita ikhlas hidup bersama  secara rukum dengan aneka keanehan. Ini hukum besinya. Zaman terus berubah. Apa yang dulu dianggap aneh bahkan dilarang hukum, kini menjadi biasa dan dibolehkan oleh hukum.

Ini zaman ketika transgender, mereka yang berganti kelamin, terpilih oleh rakyat menjadi pemimpin di Amerika  Serikat. Ini zaman ketika anggota parlemen melamar kekasihnya satu jenis kelamin sesama homoseks di ruang parlemen di Australia.

Konflik Palestina-Israel dan Nobel Perdamaian untuk Jokowi?

Oleh: Denny JA

Mungkinkah suatu ketika Jokowi mendapatkan Nobel Perdamaian atas upayanya ikut mendamaikan Palestina- Israel?

Inilah pertanyaan paling jauh setelah Presiden Amerika Donald Trump membuat “Slap of The Century.” Ia mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Ini sekaligus mengabaikan perjuangan sangat panjang dan melelahkan Palestina. Sejak lama Palestina menginginkan Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina dalam solusi damai dua negara merdeka.

Airlangga Hartato dan Lima Bintang Baru Golkar

Oleh: Denny JA

Jika ada yang memprihatinkan dari Partai Golkar selaku partai paling senior, itu adalah tak muncul tokoh di partai ini yang punya kaliber kelas berat. Lima calon presiden 2019 yang paling sering disebut, misalnya, tak satupun tokoh Golkar.

Aku Besimpuh di Hadapan Saham

Oleh: Denny JA

Di hadapan saham,
Rosa bersimpuh.
Bermuka dengan angka dan grafik,
Berjam jam sudah.
Keheningan menyusup ke lubuk hati.

Rosa terdiam.
Ini keheningan yang sama,
Ketika di masa kecil,
ia duduk di beranda mushola
setelah belajar mengaji.

Ini keheningan yang sama,
Ketika Jaka, kekasih hati melamarnya:
“Kupinang kau menjadi ibu anakku.”

Prospek Politik REUNI 212 dan Perspektif Demokrasi

Oleh: Denny JA

Jika perspektif demokrasi yang digunakan, bagaimana kita menilai gerakan sosial REUNI 212 dan prospek politiknya di Indonesia masa kini? Bahayakah gerakan ini? Akankah ia membesar dan menggulung yang menentangnya? Akankah Indonesia kembali ke Piagam Jakarta?

Untuk menilai secara adil, kita pisahkan dulu REUNI 212 sebagai sebuah gerakan sosial atau  forum civil society. Dan REUNI 211 sebagai perjuangan ideologis atau cita cita sosial.

Langkah Akhir Setya Novanto dan Kejayaan Golkar

Oleh: Denny JA

Menyambut desakan People Power gerakan 98 yang memprotes keras Presiden saat itu, Suharto, Madame Albright, menteri luar negeri Amerika Serikat, menyampaikan pidato.

Ujarnya, Presiden Suharto sebaiknya mengambil langkah “act of statesmanship,” untuk mengundurkan diri demi kemajuan negaranya. Act of Statemanship itu semacam langkah kearifan seorang pemimpin yang ingin mendahulukan kepentingan publik.

Mengenang 9 Bintang: Untuk Gus Dur, Cak Nur, Pak Djohan, dkk

Oleh: Denny JA

Rahasia langit,
rahasia hati nurani,
bersembunyi dalam gelap.
Tuhan bersabda:
Lahirlah pemikir!
Lalu segala terang benderang

Malam lalu, Rosa kembali tafakur
Kembali  berpulang seorang pemikir
Bumi lebih redup
Satu bintang kembali ke langit
Menyusul delapan bintang lain.

Kata “Pribumi” Gelisah di dalam Kamus

Oleh: Denny JA

(Tak biasa, hari itu Kamus Besar Bahasa Indonesia, bersidang.
Anggotanya, lebih dari 67 ribu kata, 
hadir menunjukkan solidaritas,
rasa persahabatan kepada sesama kata.
Kata “Pribumi” pun curhat.)

Mengapa Kata “Pribumi” Menjadi Begitu Sensitif?

Oleh: Denny JA

Jika  hanya sebagai sebuah kata atau terminologi, tak ada yang salah dengan kata “pribumi” ataupun kegiatan kaum pribumi. Ia menjadi sensitif jika kata “pribumi” itu berubah menjadi sebuah kesadaran kolektif mayoritas menyusun perjuangan ekonomi dan politik.

Itulah respon cepat saya terhadap hingar bingar dan hiruk pikuk di ruang publik akibat digunakannya kata pribumi dalam pidato pertama Gubernur DKI terpilih setelah dilantik: Anies Baswedan.

Pages