24 November 2017

China

Lima Tahun Jokowi Berkuasa, 30 Juta Cina Masuk Indonesia? demikian sebuah Laporan

JAKARTA - Indonesia secara demografis (kependudukan) akan mengalami perubahan demografis secara radikal. Komposisi penduduk akan berubah dengan drastis, demikian sebuah laporan mengungkapkan.

Menyoal Pengaruh China di Zimbabwe

Hanya dalam hitungan hari setelah militer menguasai stasiun televisi nasional di Ibu Kota Harare, panglima militer Zimbabwe bertolak ke Beijing. Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan kunjungan itu adalah "lawatan militer yang normal". Namun, sebenarnya seberapa jauh hubungan antara Cina dan Zimbabwe?

Berita bahwa Jenderal Constantino Chiwenga berkunjung ke Cina setelah militer menguasai Harare adalah sebuah kebetulan yang mendapat sorotan.

AS Sebut Korut Pendukung Teror, China Serukan Perundingan

KONFRONTASI-China pada Selasa mengatakan bahwa "lebih banyak yang harus dilakukan" untuk menyelesaikan krisis nuklir Korea Utara melalui dialog setelah Amerika Serikat (AS) kembali menyebut Pyongyang sebagai negara yang mendukung terorisme.

Mengapa Ekonomi Indonesia Makin Tertinggal Tetangga di Asia? Ini jawaban Rizal Ramli

KONFRONTASI- Di tengah gelombang kebangkitan negara-negara Asia, Indonesia justeru terpuruk. Mengapa demikian? Ekonomi negara Asia seperti China, Korea Selatan dan Singapura terus melesat hingga menjadi negara maju dunia. Padahal 50 tahun lalu, negara-negara tersebut sama miskinnya dengan Indonesia.

Beijing Buka Lowongan dengan Standar Gaji Internasional, Berminat?

KONFRONTASI-Pemerintah Kota Beijing, China, membuka lowongan kerja dengan gaji standar internasional bagi calon pegawai dari luar negeri itu.

Kebijakan baru tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan di Ibu Kota China itu terbuka terhadap siapa pun untuk menjalankan mandat Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis China, demikian penilaian pakar sebagaimana dikutip media resmi setempat, Selasa.

Mengenal Asal Mula Harbolnas

Konfrontasi - Hari ini, dunia perbelanjaan di internet heboh dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Ternyata hari belanja dengan diskon besar-besaran itu merupakan ajang yang diadopsi dari hari Jomblo di China. Ajang pencarian jodoh di Kampus Nanjing itu kemudian dimodifikasi menjadi hari diskon oleh Alibaba.

Rizal Mallarangeng Puji Presiden XI Jinping Sebagai Manusia Setengah Dewa

Konfrontasi - The world’s most powerful man. Itulah laporan utama majalah terkemuka The Economist dua minggu lalu yang mengulas China dan pemimpinnya, Xi Jinping.

Bukan Donald Trump, bukan pula Vladimir Putin. Manusia terkuat, paling berkuasa, dan paling menentukan arah perjalanan sejarah dunia ke depan adalah Xi Jinping, tokoh kelahiran Beijing yang dalam lima tahun terakhir ini memegang tiga jabatan penting sekaligus, yaitu Presiden Republik Rakyat China, Ketua Komite Sentral Militer, dan Sekjen PKC (Partai Komunis China).

"Dalam kongres PKC yang baru saja berakhir, Xi Jinping bahkan secara resmi diangkat menjadi manusia setengah dewa," demikian seperti dikutip dari tulisan Rizal Mallarangeng berjudul "Manusia Setengah Dewa: Presiden Xi" yang diunggah ke Qureta, Minggu (5/11/2017).

Dalam konstitusi partai sekarang kompilasi pidato Xi dimasukkan sebagai pemikiran fundamental. Hanya Mao Zedong yang pernah diperlakukan setinggi itu. Pemikiran Deng Xiaoping juga pernah dimuat dalam konstitusi partai, tetapi hanya disebut sebagai teori, lilun, yang derajatnya setingkat di bawah.

Kaum pengagum Deng, tentu saja bisa berdebat dan menyampaikan keberatan. Deng turut memimpin long march yang monumental pada 1935-1936, dua kali terbuang dan didepak oleh Mao, serta pada periode 1978-1995 memimpin transformasi China lewat aplikasi mekanisme pasar dan meraih sukses besar yang kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh generasi pemimpin baru sekarang.

Karena itu, bagi banyak intelektual terkemuka, antara lain Henry Kissinger, Francis Fukuyama, Ezra Vogel-Deng Xiaoping layak disebut sebagai salah satu negarawan terbesar abad ke-20, sejajar dengan Franklin Roosevelt dan Winston Churchill.

Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Presiden Xi selama lima tahun terakhir, selain keberaniannya memberantas korupsi, yang membuatnya layak mendapat posisi begitu tinggi melampaui Deng Xiaoping?

"Tentu saja saya tidak ingin membawa tulisan ini pada perdebatan intramural seperti itu. Setuju atau tidak, itulah faktanya saat ini. Xi Jinping, manusia paling kuasa, pemimpin tertinggi 1,4 miliar manusia, dengan butir-butir pemikiran yang harus menjadi referensi utama, dari komite sentral partai hingga ke ruang-ruang kelas di sekolah dasar," papar Rizal Mallarangeng dalam tulisannya.

Dengan legitimasi baru, tokoh berusia 64 tahun itu praktis menjadi pemain tunggal dalam puncak piramida kekuasaan China. Secara prinsipil, berbeda dengan kepemimpinan Deng yang bersifat kolegial, tidak ada lagi yang bisa menghambat Presiden Xi untuk berkata, seperti Louis XIV di Perancis: l’etat, c’est moi, negara adalah aku, aku adalah negara.

Majalah Economist sendiri, setia pada tradisi jurnalisme dalam aliran liberal klasik, melontarkan skeptisisme terhadap perkembangan seperti itu, dengan kalimat cerdas: Xi Jinping might be good for the party, but not necessarily for the people of China.

Presiden Xi Jinping dan Donald Trump

"Saya cenderung setuju pada skeptisisme seperti itu. Kekuasaan yang terlalu terpusat di tangan satu orang di negeri sebesar China akan menciptakan persoalan teramat kompleks, apalagi jika orang tersebut, seperti Presiden Xi, tepat berada di persilangan tiga lembaga utama sekaligus, yaitu partai, birokrasi, dan militer," kata Rizal dalam tulisannya.

Ssebelum membahas problem politik itu, satu hal memang harus diakui. Dalam tahun-tahun terakhir ini China dan Xi Jinping menjadi daya tarik tersendiri, katakanlah sebagai narasi alternatif terhadap apa yang sedang terjadi di AS dengan Donald Trump, di Rusia dengan agresi teritorial Vladimir Putin, atau di Eropa dengan meningkatnya populisme dan xenophobia.

Dibandingkan dengan Trump misalnya, person to person, Xi Jinping akan tampil sebagai sosok yang kalem, berisi, dan berwibawa. Donald Trump, setelah hampir setahun di Gedung Putih, justru menjadi makin parah.

"Penjelasan favorit saya dalam menggambarkan sosok Presiden Trump sejauh ini adalah: dia tidak memiliki cukup disiplin untuk menjadi seorang fasis, dan dia juga tidak cukup lucu untuk menjadi seorang komedian," ucap Rizal.

Selain itu, dalam proyeksi kekuatan internasional, AS sekarang tampak goyah dan menjadi hegemoni yang kehilangan kepercayaan diri. Edward Luce, kolumnis Financial Times, di awal tahun ini menerbitkan sebuah buku dengan judul yang langsung menjelaskan apa yang kini sedang terjadi: The Retreat of Western Liberalism.

Sementara itu, China justru melakukan hal sebaliknya dengan mengembangkan kebijakan luar negeri yang lebih asertif. Malah, di Davos pada Januari lalu, Presiden Xi menegaskan bahwa China akan memimpin globalisasi perdagangan lewat prinsip-prinsip yang sudah disepakati di WTO.

Hal terakhir ini sebenarnya merupakan salah satu ironi terbesar di awal abad ke-21. Xi Jinping formalnya adalah pemimpin negara komunis, tetapi dengan jeli dia melihat sebuah ruang kosong yang sedang ditinggalkan “pemiliknya,” dan karena itu dia muncul menjadi the new champion of the liberal international order, setidaknya dalam retorika. Hal seperti ini tak terbayangkan terjadi dua atau tiga tahun lalu.

Di luar masalah persona individual dan politik global semacam itu, faktor terpenting yang berada di balik daya tarik China adalah sukses besar yang diraihnya dalam pembangunan ekonomi.

Dalam soal ini banyak hal bisa dijelaskan. Namun pada intinya bisa dikatakan bahwa keberhasilan China belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, tumbuh cepat selama empat dekade dengan skala jauh lebih masif dibanding pertumbuhan yang dialami naga-naga Asia sebelumnya, seperti Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan.

Saat Deng Xiaoping mulai melakukan transformasi setelah masa panjang kekuasaan Mao yang kelam, China adalah negara terbelakang, dengan GDP per kapita USD 200-300, hampir sama dengan negara miskin Afrika seperti Somalia. Sekarang, angka itu sudah mendekati USD 8.000, dan 600 juta orang sudah berhasil terangkat dari jurang kemiskinan.

Semula, reformasi ekonomi dimulai di sektor pertanian yang dikombinasikan dengan penciptaan zona perdagangan bebas di beberapa kota pantai timur dan selatan. Langkah ini kemudian disusul dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran, plus perluasan basis manufaktur berorientasi ekspor. Setelah itu, khususnya dalam sepuluh tahun terakhir, China mulai merambah basis produksi bernilai tinggi, dan sekarang sudah berada di garis terdepan sektor-sektor baru yang inovatif, seperti e-commerce, e-payment (Ali Baba, WeChat), artificial intelligence, dan robotics.

Semua itu membalikkan posisi China, dari negara tertinggal menjadi salah satu dinamo ekonomi dunia. Bahkan kalau ukurannya memakai purchasing power parity, skala ekonomi China tahun depan diramalkan akan menjadi nomor satu di dunia, menyalip posisi Amerika Serikat.

"Menyilaukan? Dahsyat? That’s the point: sementara ekonomi AS bergerak lambat, dan Eropa baru mulai melangkah keluar dari krisis yang tajam, China seolah meloncat dari satu puncak sukses ke puncak lainnya, dan karena itulah Presiden Xi dipandang penuh kagum oleh banyak kalangan," pungkas Rizal.

China di Bawah Xi Jinping

Kembali pada kekuasaan Xi Jinping yang begitu dominan, apa yang kini bisa kita katakan? Apakah dengan konsentrasi kekuasaan yang begitu besar di tangannya sendiri, pelan-pelan dia akan membangun sistem absolutisme personal, mengulang kembali tradisi bad emperor yang di China memiliki sejarah begitu panjang? Mampukah dia melanjutkan tipologi pemerintahan yang kurang lebih saat ini dapat disebut good and successful authoritarianism?

"Dalam hal ini kita bisa berkata bahwa diktum Actonian tentang kekuasaan berlaku universal, termasuk di China. Kalau belum sekarang, dampaknya yang ekstrem mungkin akan terjadi nanti," ujar Rizal Mallarangeng dalam tulisannya.

Saya Yakin Reklamasi untuk China, Kenapa TNI Kok Diam?, Kata Amien Rais

KONFRONTASI -  Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais tegas menolak reklamasi. Menurutnya, reklamasi hanya untuk kepentingan negeri tirai bambu alias China saja. "Saya sudah haqul yakin, yakinul yakin, bahwa 17 pulau palsu itu nanti memang dipersembahkan untuk kepentingan China. Untuk kepentingan ekonomi, politik, bahkan militer (China)," ujar Amien di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Menurut Amien, sudah saatnya Indonesia bergerak. Dia lantas mempertanyakan kinerja TNI terkait reklamasi.

China Saat Ini Jadi Penghasil Miliarder Terbanyak di Dunia

KONFRONTASI -  Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Asia menjadi penghasil miliarder terbanyak di dunia. Berdasarkan data UBS dan Pricewaterhouse Coopers, China adalah negara dengan jumlah miliarder terbanyak, melampaui AS.

Ibu 83 Tahun di China Bunuh Anaknya yang Difabel

Konfrontasi - Namanya hanya diketahui sebagai Huang. Usianya telah 83 tahun. Selama bertahun-tahun, ia merawat putranya, Li (46). Namun pada 9 Mei, Huang memberikan sekira 60 pil tidur kepada buah hatinya, menutup lubang hidungnya dengan kapas dan mencekik leher Li dengan selendang sutra. Darah dagingnya itu pun meninggal dunia.

Dan Huang, dinyatakan bersalah karena membunuh Li.

Vonis bersalah diputuskan oleh Pengadilan Menengah Rakyat di Guangzhou. Huang diganjar hukuman percobaan tiga tahun penjara.

Pages