15 December 2019

Bulog

Bulog akan Kembali Buang 20 Ribu Ton Beras Busuk, Dampak Impor Ugal-ugalan Era Mendag Enggar?

KONFRONTASI-Rencana Perum Bulog membuang 20 ribu ton beras yang mengalami penurunan kualitas, diduga kuat pemberian izin impor yang ugal-ugalan. Bisa jadi ada pihak-pihak yang mengeruk keuntungan dari kebijakan tersebut.

Setelah Jutaan Telur Dihancurkan, Kini Giliran Bulog Buang 20 Ribu Ton Beras

Puluhan ribu ton ini adalah beras impor yang disimpan Bulog untuk persediaan nasional. Karena kualitas turun, maka kebijakannya harus dibuang. Lagi-lagi, impor dituding penyebab berasnya mubazir.

 
oleh Ikhwan Hastanto
 
 

Bulog, Ada untuk Siapa?

Oleh : Ifa Mufida
Pemerhati Kebijakan Publik

Bagaimana perasaan anda ketika melihat ada bahan makanan pokok yang akhirnya dibuang karena rusak, di sisi lain ada rakyat yang kelaparan berkepanjangan? Bagi orang yang masih memiliki akal dan perasaan pasti merasa kaget dan sedih tak tertahan, dan berfikir kenapa bisa demikian?

Bulog Akan Buang 20 Ribu Ton Beras Bernilai Rp160 Miliar

KONFRONTASI -   Perum Bulog menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang ada di gudang mereka. Nilai beras tersebut mencapai Rp160 miliar.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan pemusnahan dilakukan karena usia penyimpanan beras tersebut sudah melebihi 1 tahun.

Data yang dimilikinya, saat ini cadangan beras di gudang Bulog mencapai 2,3 juta ton.

 

Buwas Yakin Beras Bisa Satu Harga

KONFRONTASI-Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso optimistis beras sebagai komoditas pangan utama masyarakat Indonesia bisa satu harga. Sama halnya seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sukses satu harga pula di seluruh wilayah, termasuk Papua.

Buwas Cemas Bulog Bangkrut, Bayar Bunga Rp 250 Miliar per Bulan

KONFRONTASI-  Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menceritakan kesulitan yang dialami perusahaan pelat merah itu kepada Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR. Budi mengatakan saat Bulog mendapatkan penugasan dari negara, seperti membeli atau menyerap, uangnya semua berasal dari pinjaman dengan bunganya komersial.

Bulog Harus Tingkatkan Kualitas Serapan Gabah

KONFRONTASI-Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menginginkan Badan Urusan Logistik (Bulog)  meningkatkan kualitas beras yang diserapnya supaya bisa bersaing di skema bantuan sosial baru yaitu Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Apalagi Bulog bukan satu-satunya pemasok beras dalam BPNT dan skema kartu Sembako Pangan Murah. Dengan meningkatkan kualitas berasnya, Bulog tidak perlu khawatir pendistribusian berasnya akan terganggu," kata Galuh Octania dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Kemarau Panjang Dikhawatirkan Pengaruhi Serapan Beras Bulog

KONFRONTASI-Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menyatakan musim kemarau yang berlangsung sejak April 2019 dan diprediksi berlangsung dalam waktu lama bakal mempengaruhi serapan beras Perum Bulog.

"Berlangsungnya musim kemarau ini berpotensi menimbulkan dampak pada penyerapan beras," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, pada musim kemarau, petani berisiko gagal panen, sehingga memilih tidak menanam padi.

Agustina Wilujeng: Kembalikan Bulog Sebagai Lembaga Nirlaba

KONFRONTASI -  Anggota Komisi IV DPR RI, Agustina Wilujeng berharap pemerintah mengembalikan peran Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebagai lembaga nirlaba yang berperan menjaga ketahanan pangan nasional bukan sebagai lembaga yang berorientasi menghasilkan untung menambah pendapatan Negara.

Buwas: Pasar Pangan RI 94% Dikuasai Kartel, Bulog Hanya 6%

KONFRONTASII- Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan saat ini pasar pangan di Indonesia hampir 100% dikuasai oleh kegiatan kartel atau monopoli. Hal itu tentu merugikan masyarakat.
 
Menurut Buwas, produk-produk pangan Bulog saat ini hanya mengusai pasar sebesar 6%. Sedangkan sisanya 94% dikuasai oleh kartel.
 

Pages