12 December 2019

Belajar

Kamu Mau Belajar Menggiring-Bola-Seperti-Lionel-Messi? Baca Ini !

KONFRONTASI -   Lionel “Leo” Messi membuat pemain-pemain belakang yang hebat tampak bodoh. Dribelnya mengingatkan kita pada pemain hebat seperti Diego Maradona, dan kemampuannya untuk menjaga bola tetap dekat dengan tubuh serta mengubah arah gerakan secara eksplosif adalah alasan mengapa ia secara luas diakui sebagai salah satu pemain terhebat di generasinya, dan mungkin sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa.

Belajar dan Berwisata di Taman Arkeologi Onrust

KONFRONTASI -   Museum Bahari menggelar Wisata Sejarah Kebaharian di kawasan Arkeologi Onrust. Onrust, dipilih karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Ketua Panitia Wisata Sejarah Kebaharian, Burhanudin Azis mengatakan acara tersebut bukan semata-mata berwisata, melainkan mengajak dan berdiskusi untuk menemukan solusi bersama dalam permasalahan yang ada di Kawasan Onrust.

Indef: Ingin Cabut Subsidi 900 VA, PLN Diminta Belajar Dari Kesalahan di Tahun 2017

KONFRONTASI -   Ekonom Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira meminta agar pemerintah dapat berhati-hati dalam menarik subsidi  24,4 juta  pelanggan tarif listrik 900 VA.

Pemerintah sendiri sudah sepakat menghapus subsidi untuk pelanggan listrik rumah tangga mampu 900 VA mulai tahun depan. Imbasnya, ada 24,4 juta pelanggan yang akan kena penyesuaian tarif mulai 2020.

Di Peneleh, Sukarno Lahir, Belajar dan Memadu Kasih

Sukarno lahir dan sempat tinggal sebentar di Jalan Pandean, lalu ketika sekolah kos di Jalan Paneleh dan pernah sebentar tinggal di Jalan Plampitan.

 

 

Oleh: Petrik Matanasi 

 

Mari Belajar Kasih Sayang dan Kejujuran dari Jenderal Hoegeng dan Merry Roeslani

KONFRONTASI -  Sebuah anekdot yang kini sudah tak asing lagi terdengar soal polisi jujur. Katanya, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Hoegeng adalah Kepala Polri kelima yang menjabat pada tahun 1968-1971. Karirnya sebagai polisi dimulai dari pangkat rendahan yang tak bergaji hingga menjadi orang nomor satu Polri.

Rizal Ramli: Motto Pemerintahan Jokowi ' Beri Aku Ikan" - Gus Dur, "Beri Aku Kail"

Oleh: Muda Saleh

 

Pernahkah anda mendengar istilah ‘beri aku kail, jangan beri aku ikan?, tampaknya anda akan merasakan bahwa pepatah tersebut memiliki makna yang sangat dalam, terhadap sisi kehidupan manusia. Tentunya kata-kata tersebut pernah kita dengar sebagai ungkapan bagaimana seseorang berupaya memperkuat dirinya dengan tidak menerima apa yang langsung dirasakan oleh perut, yang sebetulnya adalah bersifat sementara.

Belajar Dari Malaysia Dan Maladewa, Rakyat Memilih Pemimpin Anti Dominasi China

KONFRONTASI -   Setelah Malaysia kini Maladewa memperlihatkan bahwa sebagian besar rakyat akan memilih pemimpin yang menolak dan melawan dominasi negara lain, khususnya Republik Rakyat China (RRC) di dalam negeri.“Pemimpin-pemimpin yang dimenangkan rakyat adalah yang menolak dominasi China,” ujar peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra, Minggu pagi (18/11).

Dampak Negatif Jika Paksa Anak Belajar Agar Dapat Nilai Bagus

Konfrontasi - Orangtua pasti bangga jika anaknya mendapat nilai sekolah yang bagus dan sempurna. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kemampuan belajar yang sama. Ada anak yang dengan mudah mendapatkan nilai bagus di sekolah dan sebaliknya.

Anda tidak perlu kecewa dan memaksa anak belajar terus-menerus supaya nilainya meningkat. Menekan anak belajar untuk mendapatkan nilai bagus ternyata memberikan dampak buruk. Apa saja dampak buruknya dan bagaimana cara terbaik untuk mendukung prestasi belajar anak.

Efek negatif orangtua yang suka memaksa anak belajar

Cara mengasuh dan mendidik anak jadi faktor penting bagi tumbuh kembang anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh Arizone State University pada November 2016, meneliti sikap orangtua pada kinerja akademik dari 506 siswa kelas 6.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan tekanan untuk belajar lebih keras berdampak negatif pada kesejahteraan anak dan kesuksesan anak di masa depan.

Dampak negatif yang mungkin dialami anak-anak ketika orangtua terlalu memberi tekanan padanya untuk memiliki prestasi cemerlang, antara lain:

1. Risiko penyakit mental lebih tinggi

Anak yang mendapat tekanan besar terus-menerus lebih mudah gelisah dan cemas. Belajar di bawah tekanan membuat anak mengalami kesulitan belajar, stres, dan depresi. Bahkan, tanggung jawab besar yang dipegang anak untuk selalu jadi nomor satu, bisa memunculkan pikiran anak untuk bunuh diri.

2. Merusak rasa percaya diri anak

Mendorong anak untuk terus berprestasi bisa mengganggu perkembangan kepercayaan dirinya. Anak jadi merasa tidak percaya diri karena hasil usahanya selalu tidak memuaskan.

3. Merusak kualitas tidur

Anak yang harus mendapatkan nilai bagus, cenderung akan belajar hingga larut malam dan menyebabkan kualitas tidur anak jadi memburuk. Jika kualitas tidurnya buruk, maka ia akan sulit fokus di sekolah. Alih-alih nilainya bagus, si kecil akan semakin sulit mengikuti pelajaran.

4. Memiliki perilaku yang bermasalah

Tekanan untuk mendapat nilai bagus akan membuat anak melakukan hal yang salah, seperti mencontek atau melakukan kecurangan lainnya dalam belajar. Anak takut jika ia tidak mendapatkan nilai yang bagus, jadi ia akan melakukan berbagai cara.

Hei Aktifis Zaman Now, Ayo Belajar Dari Sejarah Kegagalan IMF Di Indonesia

KONFRONTASI -  

Yudi Latief Belajar Menjadi Pejabat Negara - Kisah Copy Rights dan Pancasila

Oleh:   Denny JA

Di sebuah grup WA, Yudi Latief, asyik berkreasi.  Kini Yudi sudah menjadi pejabat negara, pimpinan UKP Pancasila. Hari itu, 10 Feb 2018, di grup WA NewsPropAds Indostudies, Yudi mengkopi, memotong dan memberikan keterangan pada foto aneka tokoh dunia. Ia sedang asyik.

Pages