27 May 2018

Arab Saudi

Dari Jerman, Pangeran Khaled Serukan Kudeta Raja Salman

KONFRONTASI- Pangeran Khaled bin Farhan menyerukan kudeta terhadap Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Pangeran Saudi yang mendapatkan suaka di Jerman itu memberi seruan kepada pangeran-pangeran Saudi lainnya yang merupakan pamannya, seperti Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz.

Seperti dilansir Press TV, Rabu (23/5/2018), seruan bertujuan mencegah struktur berkuasa saat ini yang dipimpin putra Raja Salman, Pangeran Mohammed bin Salman, merusak Kerajaan Saudi. Seruan itu disampaikan dalam komentar portal berita Middle East Eye yang dirilis Senin (21/5) lalu.

Dalam seruannya, Pangeran Khaled meminta Pangeran Ahmed dan Pangeran Muqrin menggunakan pengaruh mereka di kalangan anggota Kerajaan dan militer Saudi untuk melakukan kudeta terhadap Kerajaan Saudi. 

Pangeran Khaled mengatakan perubahan diperlukan untuk menyelamatkan Kerajaan Saudi dari arahan 'irasional, tak terduga, dan bodoh'. Raja Salman secara mengejutkan menunjuk Pangeran Mohammed bin Salman atau MBS menjadi putra mahkota Saudi pada Juni 2017.

MBS pun menggantikan Putra Mahkota Saudi sebelumnya, Pangeran Muhammed bin Nayef. Pangeran Khaled menyebut naiknya MBS secara drastis memicu pertanyaan.

"Jika Raja Salman dalam kondisi kesehatan yang baik, hal-hal tidak akan mencapai tahap ini. Ketika kita melihat kebijakan publik di Arab Saudi, kita bisa melihat bahwa Raja Salman sepenuhnya absen dari layar atau dari panggung politik di Arab Saudi," sebut Khaled.

MBS kini menjabat Menteri Pertahanan Saudi dan dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh di Saudi. Gebrakan yang dibuatnya menaikkan dinamika, baik di dalam maupun luar Saudi.

Akhir 2017, dilakukan penangkapan ratusan pangeran dan pengusaha Saudi dalam operasi yang disebut 'kampanye antikorupsi'. Total US$ 100 miliar disita dari orang-orang yang ditangkap, sebagai pertukaran atas pembebasan mereka.

Namun, setelah dibebaskan, sebut Pangeran Khaled, orang-orang itu bukan benar-benar bebas. Menurutnya, orang-orang yang baru dibebaskan itu dipantau dengan alat yang dipasang di kaki, kemudian telepon genggamnya dipantau dan mereka dilarang pergi ke luar Saudi.

"Jadi mereka hidup dalam situasi yang sangat memalukan," sebutnya.

Pangeran Khaled menyebut operasi penangkapan massal itu memicu banyak kebencian di kalangan keluarga Kerajaan Saudi terhadap MBS sendiri. "Keluarga merasakannya sebagai pelecehan," sebutnya. 

"Ada banyak kemarahan di dalam keluarga kerajaan," klaim Pangeran Khaled.

Pangeran Khaled menyebut seruan kudeta itu didukung '99 persen anggota keluarga kerajaan, dinas keamanan dan militer akan berdiri di belakang mereka'. 

"Saya menerima sejumlah besar email dari kalangan kepolisian dan militer yang mendukung seruan saya," klaimnya lagi.

MBS juga dipandang sebagai arsitek dari operasi militer pimpinan Saudi di Yaman selama tiga tahun terakhir, yang telah menewaskan dan membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Selain itu, Pangeran Khaled juga menyebut Pangeran Mohammed bin Salman memiliki masalah psikologis. Namun dia tak mau menyebutkan secara detail masalah psikologis yang dimaksudnya.

"Di sekolah, dia memiliki masalah psikologis dan saya lebih baik tidak membahasnya terlalu detail, tapi kesehatan mental bisa berdampak pada seseorang secara keseluruhan, dan saya bisa melihat dengan jelas bahwa setelah dia memegang kekuasaan dan cara dia berurusan dengan politik, mencerminkan masalah psikologisnya," ucap Pangeran Khaled dalam wawancara dengan portal berita Middle East Eye, seperti dilansir pada Rabu (23/5/2018).

Pangeran Khaled melihat masalah psikologis itu muncul karena MBS belum berpengalaman. Selain itu, masalah psikologis MBS juga muncul terkait sepupunya yang ditangkap.

"Tapi ketika dia masih muda, dalam keluarga kerajaan, dia tidak punya status. Dia hanya anggota keluarga biasa. Saudara-saudaranya punya posisi lebih tinggi, dan mereka memiliki suara di dalam lingkungan elite penguasa Saudi. Tentu saja, sepupu-sepupunya lebih tua, lebih berpengalaman, posisinya lebih bagus, lebih berpendidikan dan hal lainnya," sebut Pangeran Khaled yang kini mengasingkan diri di Jerman.

"Jadi saya pikir dia (MBS-red) mulai memiliki masalah psikologis, karena salah satu sepupunya yang ditangkap, ketika dia (MBS-red) bertemu dengannya, dia (MBS-red) harus meminta izin bertemu, dan mungkin pangeran itu akan bertemu dengannya, atau tidak. Jadi ini memicu masalah psikologis di dalam dirinya (MBS-red) dan sekarang ini, dia sedang membalas dendam terhadap sepupu-sepupunya," tudingnya.

Pangeran Khaled mengaku mengenal dan kerap berurusan dengan Raja Salman di masa lalu. Namun untuk MBS, Pangeran Khaled mengaku tidak pernah bertemu atau berurusan langsung dengannya. 

Diakui Pangeran Khaled bahwa dirinya memiliki dendam pribadi terhadap Raja Salman, saat dia menjabat Emir Riyadh yang berwenang mengurusi setiap masalah keluarga kerajaan. Pangeran Khaled menyebut Raja Salman seorang rasis, karena memaksa ayahnya bercerai dengan ibunya yang berasal dari Mesir dan memaksa saudara perempuannya bercerai dengan suaminya yang berasal dari Kuwait.

Seruan Pangeran Khaled ini mencuat di tengah menghilangnya MBS dari publik secara misterius sejak aksi baku tembak dan ledakan di luar Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, bulan lalu. Sejumlah sumber mengklaim bahwa insiden 21 April yang disebut otoritas Saudi sebagai penembakan drone kecil, sebenarnya merupakan upaya kudeta oleh keluarga Kerajaan Saudi yang menentang Raja Salman.

Arab Saudi, Riwayatmu Kini

Oleh: Ita Mumtaz
Aktivis Revowriter

Berita mengagetkan datang dari jantung negeri kaum muslimin, Arab Saudi. Wajah kultural Arab Saudi mengalami perubahan besar-besaran. Bahkan hampir di semua sektor. Kebijakan dari pewaris tahta Arab Saudi, Mohammad bin Salman telah mengubah wajah Arab Saudi menjadi lebih "manis". Nampaknya keran kebebasan telah dibuka di negeri itu, dengan dalih modernisasi.

Arab Saudi Izinkan Perempuan Mengemudi 24 Jam

KONFRONTASI - Perempuan Arab Saudi akan diizinkan untuk mulai mengemudi di kerajaan itu pada 24 Juni, ungkap Direktur Jenderal Departemen Lalu Lintas Jenderal Mohammed al Bassami pada Selasa (08/05).

"Seluruh persyaratan untuk perempuan di kerajaan ini untuk mulai mengemudi telah ditetapkan," kata Bassami seperti dikutip dari pernyataan yang dirilis oleh pemerintah.

Pada September 2017, sebuah keputusan kerajaan mengumumkan berakhirnya larangan selama beberapa dekade terhadap para pengemudi perempuan - yang merupakan satu-satunya di dunia.

Walah, Putra Mahkota Saudi Malah Bela AS dan Israel

KONFRONTASI-Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang dikenal sebagai MBS mengatakan pemimpin Palestina harus menerima syarat perdamaian yang diajukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu disampaikan MBS di hadapan para pemimpin kelompok Yahudi yang berbasis di AS pada 27 Maret lalu di New York.

Pesta Pernikahan Dihantam Serangan Udara Saudi, 20 Nyawa Melayang

KONFRONTASI- Serangan udara koalisi militer pimpinan Arab Saudi telah membunuh paling sedikit 20 orang yang sedang menghadiri pernikahan di sebuah desa di Yaman barat laut, Minggu waktu setempat, kata warga dan sumber-sumber medis seperti dikutip Reuters.

Saudi Hibahkan USD150 Juta untuk Yerusalem Timur

KONFRONTASI-Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al Saud mengumumkan penyediaan sumbangan 150 juta dolar AS (sekitar Rp2,06 triliun) untuk pemeliharaan warisan Islam di Yerusalem Timur.

"Arab Saudi mengumumkan hibah senilai 150 juta dolar AS untuk mendukung tata laksana properti Islam Yerusalem," kata sang raja pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab di Dhahran, Arab Saudi, Minggu (15/04),

Saudi Dukung Serangan Koalisi AS ke Suriah

KONFRONTASI-Arab Saudi menyatakan dukungan penuh untuk serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas militer Suriah, serangan tersebut dinilai sebagai tanggapan atas "kejahatan rezim" terhadap warga sipil.

"Arab Saudi sepenuhnya mendukung serangan yang diluncurkan Amerika Serikat, Prancis dan Inggris di Suriah karena itu mencerminkan respons atas kejahatan rezim," menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dilansir dari AFP.

Saudi Pertimbangkan Ambil Bagian Dalam Aksi Militer di Suriah

KONFRONTASI-Arab Saudi mungkin akan mengambil bagian dalam aksi militer di Suriah setelah terjadinya serangan yang diduga menggunakan senjata kimia, kata Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Selasa.

Serangan itu menewaskan setidaknya 60 orang di wilayah Ghouta Timur pada akhir pekan lalu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menjanjikan tindakan cepat dan keras sebagai tanggapan atas serangan tersebut. Ia tampaknya akan mengambil langkah militer sebagai tanggapan.

Pemerintah Arab Saudi Meminta Moratorium ke Indonesia, Komisi IX: Kita Menolak!

KONFRONTASI -  Ketua Komisi IX Dede Yusuf menyatakan Pemerintah Arab Saudi ternyata sudah merevisi peraturan tentang tenaga kerja (naker) asingnya, termasuk dari Indonesia.

“Namun mereka meminta kita membuka moratorium, kita tolak,” katanya, Kamis (29/3).

Dede menjelaskan pemerintah dan DPR hanya setuju penghentian pengiriman tenaga kerja (moratorium) ke Arab Saudi dibuka secara terbatas dan hal itu semata-mata untuk menjaga hubungan kedua negara.

Saudi Temukan Situs Pemukiman Tertua di Asia

KONFRONTASI-Satu bekas situs pemukiman manusia paling tua di Asia ditemukan pihak pariwisata Arab Saudi yang terletak di desa Shuweihtia, sekitar 45 kilometer barat laut Sakakah di daerah Al-Jawf.

Menurut Direktur Pariwisata Al-Jawf, Dr. Jahz al-Shammari, situs permukiman diyakini telah ada lebih dari satu juta tahun yang lalu dan merupakan daerah tertua yang dihuni di Semenanjung Arab.

Pages