19 May 2019

Amerika Serikat

AS Bantah Bangun Puluhan Basis Militer di Suriah

Konfrontasi - Koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) membantah bahwa pihaknya telah membangun puluhan basis militer di Suriah. Tudingan bahwa AS telah membangun puluhan basis militer di Suriah pertama kali disampaikan oleh Rusia.

2.400 Jadwal Penerbangan di Amerika Serikat Ditunda karena Badai

Konfrontasi - Angin kencang, hujan lebat, gelombang tinggi dan salju yang turun sporadis menimbulkan kekacauan di seluruh East Coast, Amerika Serikat,  Jumat (2/3), menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan, mematikan listrik di bagian Washington DC, dan membuat 22 juta warga pantai menerima peringatan banjir.

Sekuriti SMA Florida Mundur karena Tak Mampu Hentikan Pembataian

Konfrontasi - Investigasi terbaru penembakan massal di SMA Marjory Stoneman Douglas, Parkland, Florida, Amerika Serikat, mengungkap fakta mengecewakan tentang Scot Peterson.

Saat pembantaian yang menewaskan 17 orang tersebut berlangsung, dia sedang mengemban tugas sebagai penjaga keamanan di sekolah yang memiliki sekitar 3.000 siswa itu.

16 Investor Amerika Lirik Pulau Jawa dan Bali

Konfrontasi - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) “all out” berupaya meningkatkan minat investasi pengusaha Amerika Serikat (AS) ke Indonesia

Direktorat Amerika I, Kementerian Luar Negeri, kali ini, membutikan bekerjasama dengan KJRI New York, menyelenggarakan “Seminar Investasi Nasional “How to Attract Investors from US Investors Perspective”. Seminar ini ternyata dihadiri 16 orang investor yang sengaja datang dari Amerika Serikat.

Tiba di Seoul, Korsel Pastikan Ivanka Trump Tidak Ada Pertemuan dengan Korut

Konfrontasi - Putri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Ivanka, telah tiba di Seoul, Korea Selatan (Korsel) untuk menghadiri upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin. Terkait hal tersebut, juru bicara Departemen Luar Negeri Korsel mengatakan tidak ada rencana Ivanka untuk bertemu dengan anggota delegasi Korea Utara (Korut).

"Ivanka Trump datang ke upacara penutupan Olimpiade untuk menunjukkan penghargaan kepada tim Amerika Serikat dan untuk menunjukkan kekuatan aliansi Amerika Serikat-Korea Selatan," ujarnya.

Trump Sebut Game Jadi Biang Penembakan Massal di Negaranya

Konfrontasi - Membahas soal penembakan massal yang sering terjadi di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengimplikasikan bahwa film dan game bertema kekerasan merupakan salah satu penyebab dari masalah tersebut. 

"Kita harus melakukan sesuatu tentang apa yang mereka lihat dan bagaimana mereka melihatnya dan juga, game," kata Trump dalam diskusi tentang keamanan sekolah di Gedung Putih.

"Saya semakin sering mendengar tingkat kekerasan di game mengubah pemikiran generasi muda."

Profesor AS Dipecat karena Sebut Australia Bukan Negara

Konfrontasi - Sebuah kampus Amerika Serikat (AS) memecat seorang profesor setelah menyatakan Australia bukan negara tapi sebuah benua. Sang profesor bahkan hendak melakukan penelitian independen terhadap masalah tersebut.

Southern New Hampshire University memecat seorang dosen wanita, yang identitasnya dirahasiakan, atas pengaduan seorang mahasiswa sosiologi bernama Ashley Arnold. Pengaduan itu bermula ketika Arnold tidak lulus dalam sebuah tugas. Tugas itu mengharuskan mahasiswa membandingkan norma sosial antara AS dengan negara lain.

2 Militan ISIS Asal Inggris 'The Beatles' Ditangkap di Suriah

Konfrontasi - Dua militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) asal Inggris telah ditangkap di Suriah. Kedua militan ini merupakan anggota sel penculik yang dijuluki 'The Beatles' yang kerap merekam pemenggalan para sandera. 

Seperti dilansir AFP, Jumat (9/2/2018), penangkapan dua militan ISIS ini diungkapkan seorang pejabat pertahanan AS yang enggan disebut namanya.

Danai Kelompok ISIS, Pria Asal AS Dijatuhi Hukuman 18 Tahun Penjara

Konfrontasi - Seorang pria warga negara Amerika Serikat dijatuhi hukuman penjara 18 tahun setelah ia mengaku bersekongkol mendanai ISIS serta menyerang seorang petugas penegak hukum federal.

Pria tersebut, Munther Omar Saleh (22 tahun), divonis oleh Hakim Distrik AS Margo Brodie di Brooklyn, ungkap John Marzulli, juru bicara kejaksaan federal.

“Bapak Saleh dengan tulus menyatakan sangat menyesal,” kata pengacara Saleh, Deborah Colson.

“Ia merasa lega masalah ini sudah usai dan dia siap untuk memperbaikinya.” Saleh, warga Kota New York yang tinggal di kecamatan Queens, pada Februari 2017 menyatakan bersalah.

Ia mengaku bahwa pada 2015 dirinya membantu seorang warga New Jersey bernama Nader Saadeh untuk melakukan perjalanan ke Jordania dan mengantarnya ke Bandar Udara John F. Kennedy. Saadeh ditangkap di bandara internasional New York itu.

Saadeh sendiri telah menyatakan bersalah atas tuduhan melakukan persekongkolan untuk membantu ISIS namun ia belum dijatuhi hukuman.

Tanpa Imigran, Amerika Serikat Bakal Jadi Negara Medioker

Konfrontasi - Isu imigran juga memanas di Amerika Serikat (AS). Semua dipicu sikap Presiden Donald Trump yang ingin mempertahankan kemurnian AS lewat semboyan America First. Banyak yang berdiri menentangnya.

’’Kami (AS) adalah bangsa imigran,’’ tegas Michael L. Pandzik, mantan presiden dan CEO National Cable Television Cooperative AS, sebagaimana dikutip Kansas City Star Minggu (4/2/2018).

Pandzik menyebut dirinya keturunan imigran. Dia dan orang tuanya memang lahir di AS dan berhak menyandang status warga negara AS. Tapi, kakek-neneknya dari garis ayah dan ibu adalah pendatang dari Eropa.

Berdasar Sensus 2013, menurut Pandzik, hanya 2 persen warga AS yang layak disebut sebagai penduduk asli. Yang lain adalah keturunan pendatang alias imigran. Dia menganggap kebijakan kontroversial Trump untuk meminimalkan kedatangan imigran bertentangan dengan nilai-nilai luhur AS.

Tak hanya itu, lanjut Pandzik, seperti negara-negara lain yang populasinya didominasi orang tua, AS harus mendorong regenerasi. Dengan angka kelahiran yang rendah, AS bergantung pada imigran.

’’Mereka adalah solusi yang mudah dan masuk akal,’’ ujar pria 72 tahun itu.

Mengutip World Resources Institute, Pandzik menyatakan bahwa AS membutuhkan kelahiran dua bayi dari tiap perempuan agar populasinya stabil. Faktanya, angka kelahiran mentok pada 1,9.

Dalam kolom yang ditulisnya untuk USA Today pada Jumat (2/2), Jennifer Sciubba menegaskan, imigran adalah salah satu kekuatan AS. Khususnya di bidang ekonomi.

Pages