18 July 2019

Amerika Serikat

Perang Dagang Penyebab Utama Harga Kedelai Berantakan

Konfrontasi - Kabar perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian simpang siur. Dari membaik, kembali jadi memburuk. Hal itu membuat harga komoditas seperti kedelai, terutama sepanjang tahun ini, jadi berantakan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dijadwalkan akan melakukan pertemuan di Argentina bersamaan dengan pergelaran konferensi tingkat tinggi (KTT) negara-negara anggota Group of 20 (G20). Hal itu membawa sentimen positif terkait hubungan dagang antara kedua negara yang diperkirakan akan membentuk suatu kesepakatan untuk memperbaiki hubungan perdagangannya.

Namun, pada pekan lalu Pemerintah AS menyebutkan bahwa China telah gagal untuk memperbaiki perilakunya dalam anggapan pencurian kekayaan intelektual China kepada AS. Pernyataan tersebut membalikkan prospek positif hubungan dagang AS dan China jadi kembali memanas.

Hubungan dagang kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang memanas sudah membuat harga dan perdagangan sejumlah komoditas terutama komoditas pertanian luluh lantak. Salah satu komoditas pertanian yang terjebak sangat dalam pada perang dagang adalah kedelai.

Pembalasan tarif dari China sebesar 25% kepada AS pada 6 Juli lalu dan memasukkan kedelai dalam daftar tarif menjadi penyebab utama kemerosotan harga kedelai yang cukup dalam di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) sebagai patokan global sepanjang tahun ini.

Perang tarif tersebut membuat China sebagai konsumen utama kedelai, menghindari pasokan dari AS yang sebelumnya menjadi pemasok kedelai utama bagi China. Dengan keputusan tersebut, ditambah dengan panen kedelai AS yang membeludak, petani AS kini kian sengsara.

China, yang membeli 60% komoditas biji-bijian itu dari luar negeri, menurunkan pembeliannya hingga 18 – 20 juta ton pada kuartal IV/2018, dibandingkan dengan impor sebanyak 24,1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, Mantan Wakil Menteri Perdagangan China Long Yongtu, yang ikut melakukan negosiasi ketika China ingin masuk ke dalam Organisasi Dagang Dunia (WTO), menyebutkan bahwa China seharusnya hanya melakukan pembalasan terhadap ekspor pertanian AS sebagai upaya pembalasan terakhir.

“Berdasarkan pengalaman perang dagang AS dan China, menurut saya produk pertanian sangat sensitif, dan kedelai menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif. Seharusnya China menghindari menaruh kedelai sebagai target di awal,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Minggu (25/11/2018).

Menurutnya, tarif China pada komoditas kacang-kacangan itu membuat petani AS kesulitan untuk menjual pasokannya dan membuat petani AS harus menyimpan dan menimbun panennya dengan biaya tinggi dan membuat penghasilan mereka mengalami penurunan.

Dengan keputusan untuk melakukan penyimpanan, bukan harga yang sesuai yang diterima, tanaman busuk justru jadi masalah yang harus dihadapi petani saat ini, membuat permintaan lenyap, bahkan dari domestik AS sendiri.

China yang menghindari pasokan kedelai dari AS, kemudian mengalihkan pembelian utamanya ke Brasil, salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Namun, dengan adanya perbedaan musim antara Brasil dan AS, serta jumlah produksinya yang masih di bawah AS, membuat pengiriman pasokan kedelai dari Brasil ikut terhambat.

Adapun, untuk mengatasi hambatan tersebut, China juga sempat memacu petani domestiknya untuk memperbanyak penanaman kedelai dan membuat pasokan domestik China juga mengalami lonjakan dan membuat harga kedelai global tidak bisa terangkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/11), harga kedelai di bursa CBOT mengalami penurunan 2 poin atau 0,23% menjadi US$881 sen per bushel.

Sepanjang 2018, harga kedelai di CBOT sudah mengalami penurunan sebanyak 7,43%, jauh jika dibandingkan dengan harga komoditas biji-bijian seperti jagung dan gandum yang masing-masing mengalami kenaikan harga secara year-to-date (ytd) mencapai 2,35% dan 17,04%.

Donald Trump akan Kunjungi 'Kota Neraka'

Konfrontasi - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan mengunjungi wilayah terdampak kebakaran hutan di California pada hari ini, Sabtu 17 November 2018. Trump akan mengamati dampak kerusakan dan juga menyapa sejumlah korban selamat.

Dalam wawancara dengan kantor berita Fox News menjelang kunjungan, Trump kembali menyinggung klaimnya bahwa kebakaran hutan California ini disebabkan buruknya manajemen dinas kehutanan setempat.

CIA Tuding Putra Mahkota Saudi Dalang Pembunuhan Khashoggi

Konfrontasi - Badan intelijen Amerika Serikat, CIA, yakin bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman, memerintahkan pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi, sebut media AS.

Sumber yang dekat dengan badan intelijen itu menyebut CIA sudah menganalisa bukti-bukti yang ada secara mendetail.

Kendati tidak terdapat bukti yang mengarahkan pembunuhan itu secara langsung terhadap sang pangeran, namun pejabat AS mengatakan operasi tersebut membutuhkan persetujuan putra mahkota.

Kerajaan Arab Saudi membantah tudingan tersebut dan mengatakan Pangeran Mohammad bin Salman tidak mengetahui mengenai upaya pembunuhan tersebut.

Saudi bersikukuh Khashoggi terbunuh dalam aksi ‘operasi liar’.

Di sisi lain, pada Sabtu (17/11/2018) Wakil Presidan AS Mike Pence bersumpah akan membuat pembunuh Khashoggi bertanggung jawab.

Berbicara di sela-sela konferensi tingkat tinggi di Papua Nugini, Pence mengatakan AS akan “berusaha dengan sekuat tenaga mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.”

Khashoggi tewas di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober silam. Hingga kini jenazahnya belum ditemukan.

Turki menyebut perintah pembunuhan itu datang dari tingkat tertinggi pemerintahan Saudi.

Koran The Washington Post, tempat Khashoggi bekerja, menyebut pemeriksaan CIA sebagian berdasarkan pada panggilan telepon dari kakak putra mahkota, Pangeran Khaled bin Salman, yang merupakan duta besar Saudi untuk AS.

Pangeran Khaled diduga menghubungi Khashoggi atas perintah putra mahkota dan meyakinkan sang jurnalis bahwa aman baginya untuk mendatangi konsulat.

Namun, Pangeran Khaled mengatakan dia sudah tidak berkomunikasi dengan Khashoggi nyaris selama satu tahun. Dia juga membantah ‘menganjurkan’ Khashoggi – yang tengah berada di London untuk mengikuti konferensi sebelum menghilang – untuk pergi ke Turki demi alasan apapun.

Gedung Putih maupun Kementerian Luar Negeri AS belum berkomentar apapun terkait perkembangan yang dilaporkan CIA, namun sumber menyebut kedua lembaga pemerintahan itu sudah mendapat informasi mengenai kesimpulan CIA.

Selain itu, CIA juga memeriksa panggilan telepon kepada asisten senior Pangeran Mohammad bin Salman, dari tim yang melakukan pembunuhan.

Sumber dari media AS menekankan bahwa tidak ada satu pun bukti yang mengarah langsung pada putra mahkota, namun CIA yakin pelaksanaan operasi tersebut membutuhkan persetujuannya.

“Pemahaman yang bisa diterima adalah tidak mungkin hal ini terlaksana tanpa sepengetahuan ataupun persetujuan putra mahkota,” tulis The Washington Post, mengutip sumber tersebut.

Apa kata Saudi tentang pembunuhan Khashoggi?

Turki Tolak Penukaran Ekstradisi Fethullah Gulen dengan Khashoggi

Konfrontasi - Turki mengesampingkan kesepakatan apapun dengan Amerika Serikat untuk menurunkan penyelidikannya atas pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi jika AS mengusir ulama yang Ankara katakan berada di belakang kudeta gagal dua tahun lalu.

Api Ubah California dari 'Surga' Menjadi 'Neraka'

Konfrontasi - Kota Paradise di California kini berubah menjadi bak 'neraka' usai dilanda salah satu kebakaran terdahsyat di negara bagian California, Amerika Serikat. Paradise, atau Surga dalam Bahasa Indonesia, kini sudah hampir tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan.

"Kehancuran akibat kebakaran ini luar biasa besar," ucap Mark Nees, salah satu petugas pemadam yang didatangkan dari Oregon ke California.

Amerika Serikat Setop Isi Bahan Bakar Buat Jet Saudi untuk Perang Yaman

KONFRONTASI  -   Arab Saudi dan Amerika Serikat sepakat untuk mengakhiri pengisian bahan bakar pesawat AS dari koalisi pimpinan Saudi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman.

Hal itu mengakahiri aspek dukungan AS terhadap perang yang telah membuat Yaman masuk ke jurang kelaparan. Langkah yang diumumkan oleh koalisi itu pada Sabtu dan dibenarkan oleh Washington, terjadi pada saat Riyadh sedang dalam tekanan. 

Kebijakan Baru Trump Semakin Tak Ramah untuk Imigran

Konfrontasi - Pemilu sela telah usai. Di beberapa negara bagian, penghitungan suara masih berlangsung. Termasuk di Negara Bagian Georgia. Namun, Presiden Donald Trump tidak mau terlalu lama larut dalam euforia kemenangan Partai Republik di senat atau kekalahan timnya di House of Representatives. Kamis (8/11) dia langsung mengumumkan kebijakan imigrasi anyar.

"Kami hanya berusaha menertibkan jalur pengajuan suaka di perbatasan agar semakin efektif," kata seorang pejabat Departemen Dalam Negeri dalam jumpa pers.

Tensi Dagang Tinggi, AS-China Harus Hindari Konflik Militer

Konfrontasi - China dan Amerika Serikat (AS) harus menghindari konflik militer yang tidak disengaja mengingat saat ini tensi dagang antar kedua negara tengah tinggi.

China dan AS harus membahas cara-cara untuk menghindari konflik yang tidak disengaja, kata Menteri Pertahanan China Wei Fenghe kepada rekan sejawatnya di AS, Menteri Pertahanan James Mattis, pada pertemuan di Washington Jumat (9/11/2018), setelah insiden kelautan antara kedua negara bulan lalu.

Kebakaran Jenggot, Trump Ancam Pecat Semua yang Menyelidikinya

Konfrontasi - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha terlihat santai menanggapi kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela. Namun, keputusannya memecat Jeff Session dari jabatan jaksa agung mengatakan sebaliknya. Dia tahu, Demokrat bakal mendukung penyelidikan skandal pemilu 2016.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa dirinya terbuka untuk bekerja sama dengan Demokrat. Tapi, jika House of Representatives yang dikuasai Demokrat menyelidiki pemerintahannya, prospek kerja sama itu bisa terhalang.

Korut Ancam Kembali Produksi Nuklir Jika AS Langgar Janji

Konfrontasi - Korea Utara (Korut) memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka akan serius mempertimbangkan untuk kembali mengembangkan rudal balistik jika AS tak segera mencabut sanksi ekonomi.

Pernyataan ini dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Korut atas nama direktur untuk Studi Amerika. 

"Pengembangan rudal mungkin akan kami pertimbangkan lagi secara serius jika AS tak mencabut sanksi ekonomi yang keras itu," sebut pernyataan Kemenlu Korut dikutip dari KCNA, Minggu (4/11/2018).

Pages