18 February 2018

Amerika Serikat

Profesor AS Dipecat karena Sebut Australia Bukan Negara

Konfrontasi - Sebuah kampus Amerika Serikat (AS) memecat seorang profesor setelah menyatakan Australia bukan negara tapi sebuah benua. Sang profesor bahkan hendak melakukan penelitian independen terhadap masalah tersebut.

Southern New Hampshire University memecat seorang dosen wanita, yang identitasnya dirahasiakan, atas pengaduan seorang mahasiswa sosiologi bernama Ashley Arnold. Pengaduan itu bermula ketika Arnold tidak lulus dalam sebuah tugas. Tugas itu mengharuskan mahasiswa membandingkan norma sosial antara AS dengan negara lain.

2 Militan ISIS Asal Inggris 'The Beatles' Ditangkap di Suriah

Konfrontasi - Dua militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) asal Inggris telah ditangkap di Suriah. Kedua militan ini merupakan anggota sel penculik yang dijuluki 'The Beatles' yang kerap merekam pemenggalan para sandera. 

Seperti dilansir AFP, Jumat (9/2/2018), penangkapan dua militan ISIS ini diungkapkan seorang pejabat pertahanan AS yang enggan disebut namanya.

Danai Kelompok ISIS, Pria Asal AS Dijatuhi Hukuman 18 Tahun Penjara

Konfrontasi - Seorang pria warga negara Amerika Serikat dijatuhi hukuman penjara 18 tahun setelah ia mengaku bersekongkol mendanai ISIS serta menyerang seorang petugas penegak hukum federal.

Pria tersebut, Munther Omar Saleh (22 tahun), divonis oleh Hakim Distrik AS Margo Brodie di Brooklyn, ungkap John Marzulli, juru bicara kejaksaan federal.

“Bapak Saleh dengan tulus menyatakan sangat menyesal,” kata pengacara Saleh, Deborah Colson.

“Ia merasa lega masalah ini sudah usai dan dia siap untuk memperbaikinya.” Saleh, warga Kota New York yang tinggal di kecamatan Queens, pada Februari 2017 menyatakan bersalah.

Ia mengaku bahwa pada 2015 dirinya membantu seorang warga New Jersey bernama Nader Saadeh untuk melakukan perjalanan ke Jordania dan mengantarnya ke Bandar Udara John F. Kennedy. Saadeh ditangkap di bandara internasional New York itu.

Saadeh sendiri telah menyatakan bersalah atas tuduhan melakukan persekongkolan untuk membantu ISIS namun ia belum dijatuhi hukuman.

Tanpa Imigran, Amerika Serikat Bakal Jadi Negara Medioker

Konfrontasi - Isu imigran juga memanas di Amerika Serikat (AS). Semua dipicu sikap Presiden Donald Trump yang ingin mempertahankan kemurnian AS lewat semboyan America First. Banyak yang berdiri menentangnya.

’’Kami (AS) adalah bangsa imigran,’’ tegas Michael L. Pandzik, mantan presiden dan CEO National Cable Television Cooperative AS, sebagaimana dikutip Kansas City Star Minggu (4/2/2018).

Pandzik menyebut dirinya keturunan imigran. Dia dan orang tuanya memang lahir di AS dan berhak menyandang status warga negara AS. Tapi, kakek-neneknya dari garis ayah dan ibu adalah pendatang dari Eropa.

Berdasar Sensus 2013, menurut Pandzik, hanya 2 persen warga AS yang layak disebut sebagai penduduk asli. Yang lain adalah keturunan pendatang alias imigran. Dia menganggap kebijakan kontroversial Trump untuk meminimalkan kedatangan imigran bertentangan dengan nilai-nilai luhur AS.

Tak hanya itu, lanjut Pandzik, seperti negara-negara lain yang populasinya didominasi orang tua, AS harus mendorong regenerasi. Dengan angka kelahiran yang rendah, AS bergantung pada imigran.

’’Mereka adalah solusi yang mudah dan masuk akal,’’ ujar pria 72 tahun itu.

Mengutip World Resources Institute, Pandzik menyatakan bahwa AS membutuhkan kelahiran dua bayi dari tiap perempuan agar populasinya stabil. Faktanya, angka kelahiran mentok pada 1,9.

Dalam kolom yang ditulisnya untuk USA Today pada Jumat (2/2), Jennifer Sciubba menegaskan, imigran adalah salah satu kekuatan AS. Khususnya di bidang ekonomi.

Bank AS Larang Pengguna Kartu Kredit Beli Mata Uang Virtual

Konfrontasi - Semakin banyak bank yang melarang pengguna kartu kreditnya membeli mata uang virtual menggunakan kartu kredit.

JPMorgan Chase & Co., Bank of America Corp. dan Citigroup Inc. mengumumkan bahwa mereka melarang pengguna kartu kredit mereka untuk membeli cryptocurrency menggunakan kartu kredit. 

JPMorgan, yang mengumumkan larangan ini pada hari Sabtu, menyebutkan bahwa mereka tidak ingin mengambil risiko terkait transaksi mata uang virtual, ungkap juru bicara Mary Jane Rogers.

Pasar Saham Amerika Tumbang, Dow Jones Terjerembab Sampai 1,37%

KONFRONTASI -   Pasar saham Amerika Serikat (AS) tumbang pada perdagangan Selasa (30/1). Penurunan indeks saham lebih dalam ketimbang hari sebelumnya. Dow Jones Industrial Average merosot hingga 1,37% ke 26.075,89.

Indeks S&P 500 anjlok 1,09% ke 2.882,43. Sedangkan Nasdaq turun 0,86% ke 7.402,48. Pada indeks S&P, sektor kesehatan menjadi sektor dengan penurunan terburuk.

Oprah Winfrey Bicara Peluang Jadi Presiden Amerika Serikat

Konfrontasi - Sempat bungkam setelah pidatonya yang luar biasa dalam perhelatan Golden Globes awal bulan ini, Oprah Winfrey akhirnya buka suara ihwal peluang menjadi Presiden Amerika Serikat pada 2020.

Kepada majalah InStyle, seperti dikutip Reuters, Sabtu (27/1/2018), Oprah menegaskan tak tertarik menghuni Gedung Putih.

“Maju menjadi presiden bukan sesuatu yang menarik minat saya,” kata Winfrey.

“Saya tidak memiliki gen untuk itu.”

Facebook Bongkar Bukti Keterlibatan Rusia di Pilpres AS

Konfrontasi - Facebook mengumumkan petugas Rusia membuat 129 acara di jaringan media gaulnya selama kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) pada 2016, demikian kesaksian Facebook kepada Kongres, yang memberikan titik terang terhadap dorongan disinformasi oleh Rusia kepada pemilih AS.

Industri media sosial itu, dalam pernyataan tertulis kepada anggota parlemen AS yang disiarkan pada Kamis (25/1/2018) dan 8 Januari 2018, mengemukakan bahwa 338.300 alamat Facebook berbeda melihat acara tersebut, dan ada 62.500 ditandai bahwa mereka akan hadir.

Namun, perusahaan media jejaring sosial tersebut mengatakan tidak memiliki data tentang acara yang terjadi.

Jaringan terbesar media gaul di dunia tersebut mengungkapkan bahwa pada September 2016 pihak Rusia membuat "beberapa acara, yang diiklankan".

Salinan halaman acara, yang telah muncul sejak saat itu, menunjukkan bahwa setidak-tidaknya beberapa di antaranya adalah unjuk rasa politik berpusat pada topik memecah belah, seperti imigrasi.

Rusia menyangkal kesimpulan badan intelijen AS bahwa mereka mencoba untuk ikut campur dalam demokrasi AS.

Facebook menyampaikan rinciannya ke Kongres bulan ini sebagai tanggapan atas pertanyaan tertulis dari Komite Intelijen Senat AS.

Pihak Facebook melaporkan bahwa mereka telah menemukan "tumpang tindih" antara pemasaran dalam jaringan yang dilakukan pada 2016 oleh agen Rusia dan oleh pendukung kampanye Presiden Donald Trump, serta menyebutnya "tidak signifikan."

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa pihaknya tidak berada dalam posisi untuk membenarkan atau membantah tuduhan adanya kolusi antara kedua kubu tersebut.

Trump menyangkal adanya kolusi dan telah menyebut penyelidikan oleh panel kongres dan penasihat khusus sebagai perburuan pihak yang yang memiliki paham berseberangan.

Trump Tawarkan Kewarganegaraan bagi Imigran Ilegal, Ini Syaratnya

Konfrontasi - Gedung Putih mengumumkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menawarkan proposal baru ke Kongres.

Proposal tersebut berisi tawaran pemberian kewarganegaraan kepada sekitar 1,8 juta imigran ilegal untuk periode 10-12 tahun ke depan.

Donald Trump menyuguhkan proposal itu menjelang pembahasan anggaran baru pemerintah untuk bulan Februari.

Proposal tersebut juga ditujukan untuk imigran muda yang masuk dalam program Penangguhan Tindakan bagi Imigran Anak-anak (DACA).

DACA menjadi salah satu penyebab utama pembahasan anggaran menjadi alot dan membuat pemerintahan federal AS mengalami penghentian pelayanan atau shutdown pada hari Sabtu, 20 Januari 2018.

Anggota Senat asal Partai Republik, Tom Cotton, menyambut baik rencana presiden AS ke-45 itu.

"Presiden sangat murah hati, manusiawi, tetapi juga memegang teguh keputusannya," ujar Cotton dikutip dari BBC, Jumat (26/1/2018).

Namun, anggota Senat dari kubu Demokrat meradang dan menyebut bahwa Donald Trump sengaja menahan "Dreamers" -- sebutan untuk imigran muda ilegal -- agar kepentingannya berhasil.

"Miliaran pajak Amerika Serikat seharusnya tidak dihamburkan hanya demi sebongkah tembok," tegas Dick Durbin.

Anggota Demokrat lainnya, Bob Menendez, menuduh proposal tersebut hanyalah langkah kompromi kelompok sayap kanan.

"Rencana Gedung Putih hanyalah bentuk supremasi kulit putih," demikian pernyataan organisasi imigran muda United We Dream.

Siramkan Air Panas, Bule AS di Bali Dihajar Suami Sendiri

Konfrontasi - Warga negara asing (WNA) bernama Olya Lapina (44) yang kini tinggal di kawasan Sanur, Denpasar, Bali menjadi korban tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pemegang paspor Amerika Serikat (AS) itu dihajar oleh suaminya, I Made Buda (44), warga Jalan Kesari II No 4 Gang Tegal, Sanur, Denpasar Selatan.

Made menghajar istrinya pada Jumat lalu (19/1) di Pantai Banjar Sental Kangin, Desa Ped, Nusa Penida. Akibatnya, Lapina mengalami luka robek pada bibir bagian bawah dan benjol pada kepala belakang.

Pages