23 May 2018

Amerika Serikat

Amerika Serikat Siap Bantu Indonesia Ungkap Dalang Aksi Teror

KONFRONTASI -  Pemerintah Amerika Serikat (AS) ikut mengutuk rentetan serangan teroris yang melanda wilayah Indonesia, khususnya yang terjadi di tiga gereja di Surabaya.  

Wakil Duta Besar Amerika Serikat (AS)  untuk Indonesia, Erin Mckee menegaskan aksi terorisme tersebut secara otomatis telah menyerang perdamaian yang sudah terbangun.

Dolar Amerika Serikat Melemah, Data Tenaga Kerja AS Tak Banyak Berpengaruh

KONFRONTASI   -  Dolar Amerika Serikat bergerak pada kisaran level tertinggi tahun 2018 ini, pada Senin (7/5/2018) setelah data tenaga kerja dan upah AS tidak banyak mempengaruhi persepsi kekuatan perekonomian AS, meskipun kekhawatiran mengenai friksi perdagangan bisa mengaburkan outlook ekonomi.

Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya, terpantau melemah 0,1% atau 0,088 poin ke level 92,478 pada pukul 8.33 WIB,

Hoax Pengaruhi Pilpres AS 2016?

Konfrontasi - Studi dari Ohio State University mengemukakan berita palsu mungkin saja berperan dalam memenangkan Donald Trump pada Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016 lalu.

Ketegangan China-AS Meningkat, Harga Minyak Mentah Turun

Konfrontasi - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Sabtu pagi WIB (7/4/2018), karena meningkatnya ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat menekan sentimen para investor.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (5/4) mengancam akan mengenakan tarif atas 100 miliar dolar AS produk-produk impor dari Tiongkok, meningkatkan ketegangan perdagangan dan menjerumuskan pertumbuhan ekonomi ke dalam ketidakpastian.

Generasi Muda AS Mulai Terpengaruhi Teori Bumi Datar

Konfrontasi - Maraknya teori konspirasi Bumi datar ternyata mampu memengaruhi pola pikir generasi muda di Amerika Serikat mengenai bentuk Planet Biru ini.

Sebuah survei oleh firma analisis bernama YouGov menunjukkan bahwa hanya 66% milenial usia muda di Amerika Serikat yang meyakini Bumi memiliki bentuk bulat. Milenial usia muda dalam survei tersebut berada di kisaran umur 18-24 tahun.

Inggris dan AS Geger, Puluhan Juta Profil Facebook Dimanipulasi untuk Trump

Konfrontasi - Sebuah perusahaan penganalisis data yang bekerja untuk Tim Sukses Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 dan kampanye memenangkan Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa, diketahui telah memanen jutaan profil pengguna Facebook yang menjadi pemilih Amerika Serikat pada Pemilu 2016.

The Guardian menyebut skandal ini sebagai salah satu pembobolan data terbesar perusahaan raksasa IT tersebut yang hasilnya dimanfaatkan untuk membuat program software canggih yang bisa memprediksi dan mempengaruhi pilihan orang di kotak suara Pemilu.

Seorang whistleblower mengungkapkan kepada surat kabar Inggris The Observer mengenai bagaimana perusahaan bernama Cambridge Analytica yang dimiliki miliarder pengelola dana Robert Mercer dan dikepalai mantan penasihat utam Trump bernama Steve Bannon itu memanfaatkan informasi pribadi yang didapat tanpa izin pada awal 2014 untuk membangun sistem yang bisa memprofilkan para pemilih AS sehingga menjadi sasaran iklan politik pribadi tim sukses Trump.

Christopher Wylie, yang bekerja untuk Universitas Cambridge guna mendapatkan data itu berkata kepada The Observer: "Kami mengeksploitasi Facebook untuk memanen jutaan profil orang. Dan membangun model-model untuk mengeksploitasi apa yang kami ketahui soal profil-profil itu dan membidik lingkaran terdalam profil-profil itu.  Itu adalah basis yang sepenuhnya dibangun perusahaan itu."

Dokumen-dokumen yang diperlihatkan kepada Observer yang kemudian dibenarkan Facebook, menunjukkan bahwa pada akhir 2015 perusahaan analisis data itu telah memanen data dalam jumlah tak terkira. Saat itu perusahaan itu tidak mewanti-wanti pengguna dan hanya mengambil langkah seperlunya untuk mengamankan informasi pribadi milik 50 juta orang.

New York Times melaporkan bahwa salinan data yang dipanen Cambridge Analytica masih bisa ditemukan secara online, bahkan tim reportase mereka mendapati data mentahnya.

Profesor AS Terkesan dengan Dakwah di Indonesia

Konfrontasi - Profesor Jurnalisme Universitas George Washington, Amerika Serikat, Janet Steele mengaku terkesan pada konsep dakwah yang disampaikan responden-respondennya saat melakukan penelitian tentang jurnalisme Islam di Indonesia.

"Saya sangat terkesan dengan dakwah, saya coba ungkapkan dalam bahasa Inggris it is the best way to understand dakwah is it is done to you, adat teman-teman di Republika atau media di Surabaya yang memberikan waktu untuk saya untuk berdiskusi," kata Profesor Steele di Jakarta, Sabtu (17/3/2018).

Rusia Peringatkan AS Untuk Tidak Serangan Basis Militer Suriah

Konfrontasi - Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan serangan terhadap basis militer Suriah. Ini merupakan respon atas ancaman yang ditebar Washington kepada Damaskus beberapa waktu lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov menyatakan pihaknya akan merespon dengan keras setiap serangan yang menargetkan basis militer Suriah. Alasanya, banyak penasihat militer Rusia yang ditempatkan di basis-basis militer itu.

Menko Luhut: Proyek Infrastruktur Indonesia Bakal Dipamerkan di Washington

Konfrontasi - Pemerintah akan kembali memamerkan sejumlah proyek strategi nasional Indonesia ke kancah mancanegara. Kali ini akan di lakukan di forum ekonomi dunia (World Economic Forum/WEF) yang akan menghadirkan berbagai investor dari sejumlah negara di dunia.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan seusai melakukan pertemuan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di kantornya.

Gedung Putih Berharap Pertemuan Trump-Kim Terlaksana

Konfrontasi - Gedung Putih mengaku berharap rencana pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dapat terlaksana.

Sementara itu Pyongyang hingga kini belum berkomentar secara terbuka mengenai kemungkinan pertemuan kedua pemimpin tersebut.

Sebelumya pada pekan lalu, seorang delegasi dari Korea Selatan yang mengunjungi Korea Utara mengatakan bahwa Kim berharap bisa bertemu Trump dan presiden Korea Selatan untuk membicarakan masalah denuklirisasi.

Media Korea Utara membenarkan adanya kunjungan dari Seoul, namun tidak melaporkan isi pembicaraan dalam kunjungan itu.

Saat ditanya apakah diamnya Korea Utara berarti kemungkinan pertemuan antara Trump dengan Kim tidak akan terjadi, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders menjawab, “Tentu saja kami berharap akan terlaksana. Tawaran sudah disampaikan dan kami menerimanya. Korea Utara telah menjanjikan sejumlah hal dan kami berharap mereka bisa menepatinya. Jika demikian, maka pertemuan akan terlaksana sesuai rencana,” kata Sanders, seperti diberitakan Reuters, Selasa (13/3/2018).

Pihak Korea Selatan mengatakan bahwa Pyongyang masih diam karena berhati-hati dalam menyiapkan pertemuan itu. Sementara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengaku berharap bisa mendengar langsung dari Pyongyang.

“Kami belum menerima jawaban resmi dari rezim Korea Utara terkait pertemuan puncak Korea Utara dengan Amerika Serikat,” kata Baik Tae-hyun, juru bicara kementerian Unifikasi Korea Selatan.

“Saya menduga mereka menghadapi persoalan ini secara hati-hati dan butuh waktu untuk menyiapkan sikap,” kata dia.

Di sisi lain, Tillerson menegaskan bahwa sejumlah hal masih perlu dilakukan untuk menyepakati lokasi dan poin-poin perundingan.

“Ini masih dalam tahap awal. Kami belum mendengar langsung jawaban dari Korea Utara,” kata dia saat mengunjungi Nigeria.

Pages