18 January 2020

Agama

Agama Mulia - Makrifat Pagi

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, agama adalah jalan menuju mata air kebahagiaan di dunia dan hari nanti yang harus dilalui dengan kehendak baik akhlak mulia.

Agama dimulai saat kau melihat orang di tepi jurang, lantas kau tarik-selamatkan tanpa mempertanyakan apa agamanya.

Agama dihayati saat kau menikmati warna-warni perbedaan untuk saling mengarifkan dalam berlomba menumbuhkan kebajikan.

Agama ditinggikan saat kau menghargai orang yang sujud di masjid, berlutut di gereja dan vihara, serta bersimpuh di sinagog.

Ucapkan "Allah" Saja Selalu Salah, Wajar Bila Jokowi Ingin Pisahkan Agama & Politik

KONFRONTASI -   Pernyataan Presiden Jokowi agar tidak mencampurkan urusan politik dengan urusan agama dinilai sebagai bentuk ketidakpahamannya dalam beragama.

Hal itu disampaikan politikus Gerindra Muhammad Syafi’i, di Jakarta, Jumat (31/3).

“Jokowi itu kan tidak paham agama, dari pengucapan kalimat Allah yang selalu salah, ketika menjadi imam bacaan al fatihahnya juga salah, sampai statmennya saat di Sumatera Utara pun yang memisahkan agama dan politik,” kata Syafi’i.

Hubungan Agama, Negara, dan Politik

Oleh: Moh Mahfud MD
Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN)

Yusril: Ajakan Presiden Pisahkan Agama dan Politik Tak Punya Pijakan Sejarah

KONFRONTASI-Pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945, Ketuhanan ditempatkan dalam urutan kelima sesudah empat sila yang lain. Sila Ketuhanan itu malah dapat diperas menjadi ekasila, yakni Gotong Royong.

Dalam kompromi tanggal 22 Juni dan 18 Agustus 1945, Sila Ketuhanan ditempatkan pada urutan pertama, yang menandai bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa adalah fondasi utama dalam membangun bangsa dan negara ini. Dalam konteks historis itu, secara filosofis mustahil agama dipisahkan dari negara, dan memisahkan agama dari politik.

Agama dan Politik Tidak Harus Dipisahkan

Pernyataan Presiden Joko Widodo di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tentang agama harus terpisah dari politik menimbulkan tanda tanya di sebagian kalangan masyarakat. Isu hubungan antara keduanya sudah lama diperbincangkan oleh komunitas intelektual Indonesia, mulai sejak diperdebatkannya di Konstituante pada masa awal para elite Indonesia menetapkan Dasar Negara Republik Indonesia. Hasil akhir perdebatan itu disepakatinya Pancasila sebagai falsafah hidup sekaligus dasar bernegara.

Ajakan Presiden Jokowi Pisahkan Agama dan Politik Bisa Timbulkan Kesalahpahaman

Persoalan hubungan agama dan negara itu bukan persoalan sederhana yang bisa diungkapkan dalam satu dua kalimat seperti dalam pidato Presiden Jokowi di Barus, Sibolga, Sumatera Utara minggu akhir Maret yang lalu, karena hal itu dengan mudah dapat menimbulkan kesalah-pahaman.Dalam sejarah pemikiran politik di tanah air, debat intelektual tentang hubungan agama dengan negara pernah dilakukan antara Sukarno dan Mohammad Natsir, sebelum kita merdeka.

Politik Dicampur Agama Akan Galak & Radikal, Sebut Ketua PBNU

KONFRONTASI -  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, berbeda pendapat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait politik dan agama. Menurutnya, politik dan agama tidak bisa dipisahkan harus saling menopang agar kehidupan berbangsa menjadi kuat.

Pernyataan Ma'ruf Amin ternyata berbeda dengan pemikiran Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj. Dia justru sependapat dengan Jokowi jika agama tidak boleh disatukan dengan politik.

Ajakan Jokowi "Jangan Kaitkan Politik Dengan Agama" Tidak Perlu Ditaati

KONFRONTASI =- Ketua Majelis Syuro DPP Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban mengkritisi pernyataan Presiden RI Joko Widodo yang meminta agar rakyat Indonesia tidak mencampuradukkan urusan politik dan agama.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Negara saat meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara, di Barus, Tapanuli Tengah, Sumut, Jumat (24/3).

MS Kaban mengingatkan bahwa Jokowi dilantik menjadi Presiden dengan disumpah berdasarkan agama yang dianut.

Agama Dalam Politik Dan Politik Dalam Agama

Oleh : Ferdinan H

Jangan Gunakan Agama untuk Tebar Kebencian

KONFRONTASI-Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin mengatakan agama adalah media pemersatu umat dan jangan jadikan agama sebagai alat konfrontatif atau penyebar kebencian.

"Harus gunakan agama untuk tujuan positif, jangan gunakan agama untuk hal negatif, karena kita hidup di tengah berbagai agama dan kemajemukan lainnya," kata Lukman Hakim Saifuddin kepada sejumlah tokoh agama pada dialog kerukunan antar umat beragama se Sultra di Baubau, Senin.

Pages