19 December 2018

Wahai, Belajarlah dari Keberhasilan Tim Ekuin Gus Dur

 KONFRONTASI- Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen, sudah saatnya pemerintah Indonesia melakukan serangkaian inovasi kebijakan dan meninggalkan rumus Bank Dunia: penumpukan utang, pengetatan anggaran, dan penguberan pajak. ”Saat ini, rasio pembayaran utang (debt service) terhadap ekspor Indonesia sudah lampu kuning (39 persen), jauh di atas batas aman 25 persen,” kata peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra yang juga dosen FE-UBK di Jakarta, Jumat (21/12). Mengutip proyeksi Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) yang dirilis pada 13 Desember lalu, Gede Sandra mengatakan, pertumbuhan ekonomi rata-rata negara berkembang di kawasan Asia tahun ini berada di kisaran 6 persen.

Hasil gambar untuk rr dan kwik

Sementara, dengan mengeluarkan negara-negara Asia yang maju industrinya, pertumbuhan ekonomi rata-rata naik ke 6,5 persen pada 2017. ”Indonesia, yang selama ini kerap membanggakan diri karena keanggotaannya di negara G20, pada kuartal III 2017 pertumbuhannya ternyata di bawah rata-rata Asia, dan Asia Tenggara yang sebesar 5,2 persen. Pada kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,06 persen, masih 1-1,5 persen di bawah pertumbuhan rata-rata Asia,” ujarnya. Gede menambahkan, langkah pemerintah dengan melakukan pemotongan anggaran untuk program yang inefisien memang tepat. Tetapi bukan untuk memotong program-program yang mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan rakyat. ”Pada saat ingin ekonomi bertumbuh cepat, pajak seharusnya justru dilonggarkan. Nanti bila ekonomi sudah kencang, barulah pajak dapat kembali diuber,” katanya.

Secara khusus, Gede Sandra mengajak khalayak bercermin dari keberhasilan pemerintah Indonesia pada era Gus Dur dengan tim ekuinnya yakni Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie sebagai tokoh kunci. Usia pemerintahan Gus Dur memang hanya 21 bulan. Namun, di balik riuh rendah kontroversi politiknya – sejak ia dinaikkan hingga dimakzulkan – ternyata capaian pemerintahan Gus Dur di bidang ekonomi terbilang istimewa. ”Padahal, di awal kepemimpinannya, Gus Dur menerima warisan perekonomian dari Presiden Habibie dalam kondisi pertumbuhan -(minus) 3,” tutur Gede.

Hasil gambar untuk belajar dari tim ekuin gus dur

Setelah hampir tiga bulan bekerja, pertumbuhan ekonomi di penghujung tahun 1999 sudah berada di level 0,7 persen atau melompat 3,7 persen. Setahun berikutnya (2000), perekonomian Indonesia kembali berhasil tumbuh ke level 4,9 persen atau melompat 1,2 persen. Sedangkan pada 2001, kendati Gus Dur dimakzulkan di pertengahan tahun, rata-rata pertumbuhan ekonomi di akhir tahun masih berada pada level 3,6 persen. Menjadi istimewa, kata Gede Sandra, karena lompatan pertumbuhan ekonomi tadi dilakukan sambil mengurangi beban utang. Seperti diketahui, selama era Gus Dur, tim ekonomi berhasil mengurangi beban utang sebesar US$ 4,15 miliar.

”Prestasi yang tak kalah istimewa: pertumbuhan ekonomi di era Gus Dur juga berkualitas, karena dibagi adil ke seluruh masyarakat,” ujarnya. Di penghujung era pemerintahan Gus Dur, koefisien gini ratio tercatat paling rendah di Indonesia sepanjang 50 tahun terakhir, yakni 0,31. Terdekat dengan pencapaian ini hanya era Soeharto pada 1993 dengan gini ratio 0,32.

Hasil gambar untuk belajar dari tim ekuin gus dur

Bedanya, Soeharto perlu 25 tahun untuk menurunkan gini ratio hingga ke angka ke 0,32 (1993). Sedangkan Gus Dur hanya perlu kurang dari dua tahun untuk menurunkan koefisien gini ratio dari 0,37 (1999) ke 0,31 (2001). Gede Sandra mengingatkan, sebelum krisis ekonomi 1997, indeks ketimpangan (gini ratio) di Indonesia terbilang tinggi. Sedangkan, dalam hitungan matematis, tingginya gini ratio berpotensi mengancam kohesi sosial. ”Itu sebabnya, kemampuan pemerintahan Gus Dur dalam menurunkan gini ratio – ditandai dengan distribusi pendapatan yang lebih merata – patut diapresiasi, karena berkorelasi dalam memperkuat kohesi di tingkat akar rumput,” jelas Gede.

---

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " Belajar dari Keberhasilan Ekonomi Jaman Gus Dur", https://nasional.kompas.com/read/2017/12/22/23351071/belajar-dari-keberh....
 

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen, sudah saatnya pemerintah Indonesia melakukan serangkaian inovasi kebijakan dan meninggalkan rumus Bank Dunia: penumpukan utang, pengetatan anggaran, dan penguberan pajak. ”Saat ini, rasio pembayaran utang (debt service) terhadap ekspor Indonesia sudah lampu kuning (39 persen), jauh di atas batas aman 25 persen,” kata peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra di Jakarta, Jumat (21/12). Mengutip proyeksi Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) yang dirilis pada 13 Desember lalu, Gede Sandra mengatakan, pertumbuhan ekonomi rata-rata negara berkembang di kawasan Asia tahun ini berada di kisaran 6 persen. Sementara, dengan mengeluarkan negara-negara Asia yang maju industrinya, pertumbuhan ekonomi rata-rata naik ke 6,5 persen pada 2017. ”Indonesia, yang selama ini kerap membanggakan diri karena keanggotaannya di negara G20, pada kuartal III 2017 pertumbuhannya ternyata di bawah rata-rata Asia, dan Asia Tenggara yang sebesar 5,2 persen. Pada kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,06 persen, masih 1-1,5 persen di bawah pertumbuhan rata-rata Asia,” ujarnya. Gede menambahkan, langkah pemerintah dengan melakukan pemotongan anggaran untuk program yang inefisien memang tepat. Tetapi bukan untuk memotong program-program yang mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan rakyat. ”Pada saat ingin ekonomi bertumbuh cepat, pajak seharusnya justru dilonggarkan. Nanti bila ekonomi sudah kencang, barulah pajak dapat kembali diuber,” katanya. Secara khusus, Gede Sandra mengajak khalayak bercermin dari keberhasilan pemerintah Indonesia pada era Gus Dur. Usia pemerintahan Gus Dur memang hanya 21 bulan. Namun, di balik riuh rendah kontroversi politiknya – sejak ia dinaikkan hingga dimakzulkan – ternyata capaian pemerintahan Gus Dur di bidang ekonomi terbilang istimewa. ”Padahal, di awal kepemimpinannya, Gus Dur menerima warisan perekonomian dari Presiden Habibie dalam kondisi pertumbuhan -(minus) 3,” tutur Gede. Setelah hampir tiga bulan bekerja, pertumbuhan ekonomi di penghujung tahun 1999 sudah berada di level 0,7 persen atau melompat 3,7 persen. Setahun berikutnya (2000), perekonomian Indonesia kembali berhasil tumbuh ke level 4,9 persen atau melompat 1,2 persen. Sedangkan pada 2001, kendati Gus Dur dimakzulkan di pertengahan tahun, rata-rata pertumbuhan ekonomi di akhir tahun masih berada pada level 3,6 persen. Menjadi istimewa, kata Gede Sandra, karena lompatan pertumbuhan ekonomi tadi dilakukan sambil mengurangi beban utang. Seperti diketahui, selama era Gus Dur, tim ekonomi berhasil mengurangi beban utang sebesar US$ 4,15 miliar. ”Prestasi yang tak kalah istimewa: pertumbuhan ekonomi di era Gus Dur juga berkualitas, karena dibagi adil ke seluruh masyarakat,” ujarnya. Di penghujung era pemerintahan Gus Dur, koefisien gini ratio tercatat paling rendah di Indonesia sepanjang 50 tahun terakhir, yakni 0,31. Terdekat dengan pencapaian ini hanya era Soeharto pada 1993 dengan gini ratio 0,32. Bedanya, Soeharto perlu 25 tahun untuk menurunkan gini ratio hingga ke angka ke 0,32 (1993). Sedangkan Gus Dur hanya perlu kurang dari dua tahun untuk menurunkan koefisien gini ratio dari 0,37 (1999) ke 0,31 (2001). Gede Sandra mengingatkan, sebelum krisis ekonomi 1997, indeks ketimpangan (gini ratio) di Indonesia terbilang tinggi. Sedangkan, dalam hitungan matematis, tingginya gini ratio berpotensi mengancam kohesi sosial. ”Itu sebabnya, kemampuan pemerintahan Gus Dur dalam menurunkan gini ratio – ditandai dengan distribusi pendapatan yang lebih merata – patut diapresiasi, karena berkorelasi dalam memperkuat kohesi di tingkat akar rumput,” jelas Gede. ADVERTISING EditorTjahjo Sasongko Berita Terkait Pelajaran dari PKI, Soekarno, Soeharto, hingga Gus Dur Gus Dur dan Sembilan Tokoh Lain Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional Selamat Ulang Tahun, Gus Dur! "Yang Berkorban Itu, Kata Gus Dur Besar Pahalanya" Komentar Ada 3 komentar untuk artikel ini Kompas.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Alvan Wiravan Sabtu, 23 Desember 2017 | 18:58 orang hebat, guru bangsa, semoga lahir pemimpin2 yang berjiwa seperti beliau (0) (0) Tanggapi Laporkan Bambang Boedi Cahyono Sabtu, 23 Desember 2017 | 09:07 seharusnya ditambahkan analisa dari sudut pandang prof amien rais yang memimpin poros tengah waktu itu untuk melengserkan gus dur. saya kira ada yang lebih krusial dari pertumbuhan ekonomi yang membuat gus dur dilengserkan. jadi pelajaran yang diambil bisa lengkap lagi. (0) (0) Tanggapi Laporkan Vially Lejap Sabtu, 23 Desember 2017 | 07:26 salah satu presiden tercerdas indonesia.. (1) (0) Tanggapi Laporkan Terkini Lainnya Rusia Sudah Kerahkan Lebih dari 63.000 Pasukan ke Suriah Rusia Sudah Kerahkan Lebih dari 63.000 Pasukan ke Suriah Internasional 22/08/2018, 23:48 WIB Polisi Jerman Tangkap Seorang Pria Rusia Terkait Dugaan Perencanaan Teror Polisi Jerman Tangkap Seorang Pria Rusia Terkait Dugaan Perencanaan Teror Internasional 22/08/2018, 23:28 WIB Polisi: Mobil Berstiker Asian Games yang Tabrak Anak Kecil di GBK Bukan Milik Inasgoc Polisi: Mobil Berstiker Asian Games yang Tabrak Anak Kecil di GBK Bukan Milik Inasgoc Megapolitan 22/08/2018, 22:56 WIB Putin: Sanksi AS Kontraproduktif dan Tak Masuk Akal Putin: Sanksi AS Kontraproduktif dan Tak Masuk Akal Internasional 22/08/2018, 22:51 WIB Taiwan Terancam Kehilangan Tiga Lagi Negara Sekutunya Taiwan Terancam Kehilangan Tiga Lagi Negara Sekutunya Internasional 22/08/2018, 22:23 WIB Tiba di Kupang, Joni Dijamu Makan Penjabat Gubernur NTT Tiba di Kupang, Joni Dijamu Makan Penjabat Gubernur NTT Regional 22/08/2018, 22:20 WIB Selain Menganiaya di Lapangan Banteng, Pelaku Juga Curi Uang Iyan Selain Menganiaya di Lapangan Banteng, Pelaku Juga Curi Uang Iyan Megapolitan 22/08/2018, 22:16 WIB Sebanyak 664 Titik Panas Terpantau di Kalbar Hari Ini Sebanyak 664 Titik Panas Terpantau di Kalbar Hari Ini Regional 22/08/2018, 22:01 WIB Kepala Daerah yang Diusung PAN, PKS, Gerindra, Demokrat Diminta Menangkan Prabowo-Sandiaga Kepala Daerah yang Diusung PAN, PKS, Gerindra, Demokrat Diminta Menangkan Prabowo-Sandiaga Nasional 22/08/2018, 21:58 WIB Melihat Pemotongan Hewan Super Cepat dan Higienis di RPH Dharma Jaya Melihat Pemotongan Hewan Super Cepat dan Higienis di RPH Dharma Jaya Megapolitan 22/08/2018, 21:34 WIB Jenguk Anthony Ginting, Jokowi Katakan Hal Ini... Jenguk Anthony Ginting, Jokowi Katakan Hal Ini... Nasional 22/08/2018, 21:32 WIB 4 Korban Tewas dalam Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat 4 Korban Tewas dalam Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat Regional 22/08/2018, 21:24 WIB Sri Lanka Siap Eksekusi 18 Terpidana Mati Kasus Narkoba Sri Lanka Siap Eksekusi 18 Terpidana Mati Kasus Narkoba Internasional 22/08/2018, 21:21 WIB Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot Regional 22/08/2018, 21:09 WIB Padamkan Karhutla, Petugas Damkar Temukan Ular Piton Sepanjang 3 Meter Padamkan Karhutla, Petugas Damkar Temukan Ular Piton Sepanjang 3 Meter Regional 22/08/2018, 21:06 WIB Load More Terpopuler 1 Melihat Aksi Serda Ambar, Paspampres Cantik dari TNI AL... Dibaca 104.472 kali 2 Elektabilitas Prabowo-Sandiaga Tertinggal, Sekjen PAN Bandingkan dengan Pilkada DKI Dibaca 30.537 kali 3 Jenguk Anthony Ginting, Jokowi Katakan Hal Ini... Dibaca 28.984 kali 4 Jokowi Saksikan Langsung Partai Final Bulu Tangkis Indonesia Vs China Dibaca 13.263 kali 5 Sandiaga: "The New Prabowo" Sekarang Asyik dan Cair... Dibaca 10.586 kali Now Trending Final Bulu Tangkis, Fajar/Rian Kalah, Indonesia Harus Puas Raih Perak Final Bulu Tangkis, Fajar/Rian Kalah, Indonesia Harus Puas Raih Perak Tim Prabowo-Sandiaga Bakal Adopsi Konsep Pemenangan di Pilpres 2014 Tim Prabowo-Sandiaga Bakal Adopsi Konsep Pemenangan di Pilpres 2014 Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot Buntut Karnaval Anak Bawa Senjata Mainan, Kepala TK Kartika Dicopot Sponsored Headline Siap Umroh Dengan Berkah Energi Pertamina Siap Umroh Dengan Berkah Energi Pertamina Susunan Pemain Final Bulu Tangkis Asian Games 2018, Indonesia Vs China Susunan Pemain Final Bulu Tangkis Asian Games 2018, Indonesia Vs China Daging Kambing dan Sapi Aslinya Sehat, yang Berbahaya Garamnya Daging Kambing dan Sapi Aslinya Sehat, yang Berbahaya Garamnya Jenguk Anthony Ginting, Jokowi Katakan Hal Ini... Jenguk Anthony Ginting, Jokowi Katakan Hal Ini... Final Bulu Tangkis Asian Games, Marcus/Kevin Ungkap Peran Jokowi Final Bulu Tangkis Asian Games, Marcus/Kevin Ungkap Peran Jokowi

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " Belajar dari Keberhasilan Ekonomi Jaman Gus Dur", https://nasional.kompas.com/read/2017/12/22/23351071/belajar-dari-keberhasilan-ekonomi-jaman-gus-dur.
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...