14 December 2019

UGM: Jokowi-JK, Rupiah Terpuruk sudah Sangat Mengkhawatirkan

KONFRONTASI- Rupiah terpuruk dan amat mencemaskan masyarakat dan dunia usaha, yang mulai panik. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Anthonius Tony Prasetiantono heran ada orang-orang di pemerintahan yang mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dollar di atas Rp 13.000 menguntungkan Indonesia. Padahal kata dia, nilai tukar saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.  Sementara Ketua DPR Setya Novanto mempertanyakan langkah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dia meminta pemerintah untuk menjelaskan alasan kenaikan itu. 

"Celakanya, pemimpin kita bilang (nilai tukar) rupiah (terhadap dollar) di atas 13.000 ini enggak apa," ujar Tony dalam acara dialog Rupiah dan Ketahanan di Jakarta, Sabtu (28/3/2015). 

Tony menjelaskan, kurs rupiah saat ini yang sudah di atas Rp 13.000 per dollar sangat memukul sektor rill. Dia mencontohkan, karena melemahnya rupiah maka seseorang akan mengurungkan niatnya membeli mobil. Hal itu pasti akan memukul sektor otomotif. 

Menurut Tony, akibat kurs rupiah saat ini, banyak orang atau investor yang lebih memilih menyimpan uangnya di bank. Menurut dia, hal itu merupakan gejala ekonomi yang tak sehat karena uang yang ada tak digunakan untuk hal-hal yang produktif. 

"Ini tak boleh dibiarkan, ini masalahnya bukan masalah ekonomi tapi juga masalah trust. Kalau pasar trust-nya turun, confidentkosong, ya investor akan simpan uang di bank. Ini enggak produktif," kata Tony. 

Pada perdagangan di pasar spot Jumat (27/3/2015) seperti dikutip dari data Bloomberg, rupiah berakhir turun ke posisi Rp13.065 dibanding penutupan sehari sebelumnya pada kisaran 13.018. 

Sementara kurs Jakarta interbank spot dollar rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Jumat lalu berada pada Rp 13.064 per dollar AS, melemah dibanding sebelumnya pada 13.003

RESPON DPR

Ketua DPR Setya Novanto mempertanyakan langkah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dia meminta pemerintah untuk menjelaskan alasan kenaikan itu. 

"Memang dalam kenaikan itu kita minta adanya suatu evaluasi yang disampaikan kepada DPR. Kita menanyakan apa yang menjadi alasan-alasan," kata Novanto di sela-sela kegiatan press gathering DPR, di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/3/2015). 

Novanto menyadari, pemerintah saat ini dapat mengambil kebijakan terkait kenaikan harga BBM tanpa perlu persetujuan DPR. Namun, hal itu bukan berarti pemerintah tak perlu memberikan penjelasan ke DPR terkait setiap kenaikan harga BBM yang dilakukan. 

"Sekarang kita sudah dalam peraturan perundang-undangan diserahkan kepada pemerintah dan hanya pada tahun ini. Tahun berikutnya kita kembalikan lagi ke DPR," ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie ini. 

Novanto berharap komisi-komisi DPR terkait bisa segera melakukan rapat dengan pemerintah terkait kenaikan harga BBM ini. Jika memang pemerintah bisa menjelaskan dengan baik, DPR tidak akan memprotes kenaikan harga BBM. 

"Kalau itu alasan-alasan yang kuat dan itu betul kenaikan itu bisa dipertanggungjawabkan, kita akan pertimbangkan sebaik-baiknya," ucap dia. 

Pemerintah menaikkan harga BBM jenis solar dan premium Rp 500 per liter dari harga lama. 

Pelaksana Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) IGN Wiratmadja Puja mengatakan, harga solar naik menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter. Harga premium di wilayah penugasan menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter. Sementara itu, harga premium untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) menjadi Rp 7.400 per liter.

Wira menuturkan, keputusan tersebut diambil terutama atas dinamika dan perkembangan harga minyak dunia. Harga ini berlaku pada Sabtu (28/3/2015) mulai pukul 00.00 WIB.(KCM)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...