27 May 2019

Tunggangi Partai, Terlihat Jelas Ahok "Haus Kekuasaan"

Calon petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya resmi memilih jalur partai politik (parpol) untuk berlaga dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Pilihan Ahok ini dinilai tidak konsisten dan bukan kriteria seorang pemimpin.

Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing sudah memprediksi bila Ahok akhirnya maju melalui jalur partai. Sebab, sebagai politikus cair Ahok sadar bila kendaraan ideal di negara demokrasi adalah parpol.

Menurut dia, terbentuknya relawan `Teman Ahok` memang diciptakan untuk menarik parpol mengusungnya mengingat Ahok tidak punya parpol. Terlebih, pengumpulan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dilakukan relawan 'Teman Ahok' tidak bisa dibuktikan kebenaranya dan membuat Ahok tambah ragu apakah lolos verifikasi atau tidak.

Kendati demikian, lanjut Emrus, sebagai calon petahana, Ahok harusnya konsisten agar warga dapat menilai bila dia adalah seorang pemimpin yang ideal. Terlebih, dia berulangkali mengucapkan untuk maju melalui jalur independen lantaran menghargai kerja keras 'Teman Ahok' yang sudah mengumpulkan satu juta Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat untuk maju melalui jalur independen.

"Seorang pemimpin itu harus konsisten. Ahok harus minta maaf secara referendum terhadap pemilik KTP yang diberikan kepadanya. Termasuk dengan Heru yang disebut sebagai wakil dirinya di jalur independen. Saya yakin pemilik KTP kecewa," kata Emrus saat dihubungi Harian Terbit di Jakarta, Rabu (27/7/2016).

Emrus menjelaskan, Ahok merupakan seorang politikus cair yang sudah seringkali meninggalkan partai pendukungnya ketika sudah mendapat kekuasaan. Artinya, apapun akan dilakukan Ahok demi kekuasaan semata.

Sementara itu, Gubernur Ahok dalam pidatonya meminta agar relawan 'Teman ahok' menghargi parpol pendukungnya yang mengsung tanpa syarat.

"Jadi saya berpikir, kalau kamu kerjanya benar, tidak terima suap, tidak berpihak, kerja buat rakyat otomatis kamu dapat pendukung. Pasti. Lu gak usah keluar duit lah, keluar tenaga saja deh. Nah itu yang terjadi di saya. Makanya saya mau uji coba, dan ini sudah berhasil. Partai sudah membuktikan bukan cuma ngomong, dari dulu kan sudah pribadi-pribadi mendukung. Sudah kita pakai parpol saja lah. Terima kasih," jelasnya‎.

Hargai Keputusan

Juru Bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas mengatakan, pihaknya menghargai keputusan Ahok yang akhirnya menentukan jalur pencalonan dalam Pilkada DKI 2017 melalui partai politik bersama dengan tiga partai pendukung Golkar, Nasdem dan Hanura bersama-sama dengan Teman Ahok untuk melanjutkan tugasnya membenahi Jakarta

"Kami menghargai dan mendukung keputusan Ahok, setelah kami melakukan dialog dengan BTP, perwakilan dari tiga partai pendukung Golkar, Nasdem dan Hanura akhirnya, Ahok memutuskan untuk maju menggunakan kendaraan partai politik bersama dengan Teman Ahok," jelas Amalia di Sekretariat Teman Ahok, Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (27/7/2016).

Amalia menjelaskan, kendaraan partai dan kendaraan yang dirakit oleh Teman Ahok melalui Sejuta KTP mempunyai tujuan yang sama untuk mendukung Gubernur Ahok, melanjutkan tugasnya membenahi dan menjadikan Jakarta Baru pada periode 2017-2022.

Gerindra

Sementara itu Partai Gerindra tampak mulai ancang-ancang mencari teman koalisi terkait Pilgub DKI Jakarta 2017. Hal itu menyusul sinyal PDI Perjuangan yang masih membuka pintu bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk diusung.

Ketua DPD Gerindra DKI, M Taufik, memastikan partainya tak akan memberikan dukungannya ke Ahok. "Kalau PDIP dukung Ahok, Gerindra ya cari koalisi yang lain," ujarnya di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2016).Juft/HT)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...