21 May 2019

TNI Tak Boleh Diam atas Saham Terselubung Temasek di Balik Lion Air. KPK dan BIN harus proaktif menyelidiki Kasus ini.

JAKARTA- Temasek dicurigai punya saham terselubung dibalik kepemilikan Lion Air, maka TNI AU wajib menggugatnya. Sayangnya, TNI AU diam seribu bahasa. TNI AU tidak boleh pasrah, sebab TNI bukan ayam sayur. TNI tak boleh Diam atas dugaan  saham terselubung Temasek di balik Lion Air. KPK dan BIN harus proaktif menyelidiki kasus ini.

Bila tidak, barangkali orang pertama yang menangis adalah Marsekal Muda “Anumerta” Abdul Halim Perdanakusuma, andai pahlawan nasional itu masih hidup. Kemenangan Lion Air atas PT Angkasa Pura II dan Induk Koperasi TNI AU dalam gugatan pengelolaan Bandara Halim Perdanakusuma menjadi bandara internasional yang dioperasikan secara sementara dan komersil untuk mengalihkan sesaknya penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, sesungguhnya telah mengusik kedaulatan negeri.

Terlebih lagi Lion Air memenangkan perkara itu secara beruntut. Di mulai dari PN Jakarta Timur pada 2010 sampai dengan kasasi di Mahkamah Agung, Oktober 2014. Amar putusan hakim yang memerintahkan pihak TNI AU dan Angkasa Pura II untuk mengosongkan asetnya di Halim Perdanakusma sangat melukai perasaan bangsa jika pihak yang berpesta pora di balik kemenangan ini adalah BUMN Singapura tersebut .

Teramat sulit diterima akal sehat, mengingat bukan saja sebatas nilai-nilai sejarah yang dikandung Markas Komando Operasi Angkatan Udara I TNI AU Halim Perdanakusuma, tapi juga peran dan fungsi letak geografis sekaligus geostrategis markas tersebut.

Sejarah skuadron tempur tertua

Secara historis, Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Halim Perdanakusuma bukan saja simbol perjuangan TNI AU. Tapi juga merekam mozaik sejarah pengorbanan jiwa dan harta benda anak bangsa dalam memperkuat AURI di masa kembalinya Belanda menjajah Indonesia pasca 1945.

Ketika semangat para pejuang republik nyaris pupus akibat Agresi Militer I Belanda pada 21 Juli 1947 yang meluluhlantak Jawa, AURI yang baru setahun terbentuk memompa nyali perjuangan itu kembali. Untuk menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia belum remuk redam, KSAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma memerintah Komodor Halim Perdanakusuma untuk menyusun aksi serangan balik.

Walau hanya dengan tiga pesawat terbang dan jumlah mesiu yang kalah hebat dengan pasukan musuh, misi serangan udara yang dipimpin Halim pada 29 Juli 1947 itu efeknya luar biasa. Serangan balasan itu membuktikan kepada dunia bahwa perjuangan RI sampai titik darah penghabisan, hingga mampu menarik simpatik dunia luar.

Disamping itu, serangan ini juga menjadi pemicu untuk mempercepat konektivitas Pulau Jawa dengan pulau-pulau besar lainnya, mengingat penjajah bisa menginvansi lagi sewaktu-waktu yang menghancurkan sejumlah pangkalan udara RI. Halim Perdanakusuma bertugas menyambung Sumatera dengan Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan darurat dengan membentuk AURI wilayah Sumatera yang saat itu berpusat di Bukittinggi.

Di wilayah Timur, ia juga diminta untuk menyusun strategi AURI menembus blokade Belanda melalui Kotawaringin, Kalimantan Tengah, sekaligus membuka stasiun radio induk yang menghubungkan komunikasi langsung Kalimantan-Yogyakarta.  Misi yang berlangsung  pada 17 Oktober 1947 ini tercatat dalam sejarah sebagai Operasi Penerjunan Militer Pertama di Indonesia sekaligus peristiwa yang menandai lahirnya pasukan elit baret jingga, dikenal dengan Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU.

Di tengah upaya memperkuat AURI itulah sejumlah anak negeri menyumbangkan emas dan harta benda lainnya demi membeli pesawat yang mengganti armada yang telah hancur sebelumnya. Halim Perdanakusuma bertugas menampung sumbangan itu hingga AURI mampu membeli sebuah pesawat Avro Anson VH-BBY dengan harga 12 kg emas murni yang diberi nomor registrasi RI-003.

Menggunakan pesawat yang dibeli dari hasil keringat rakyat itu pula Halim Perdanakusuma bersama Opsir I Udara Iswahyudi mengemban sebuah misi penting penerbangan rute Bangkok-Singapura. Misinya adalah membeli persenjataan dan pesawat lainnya; menjalin dukungan perjuangan RI dengan negara-negara sahabat sekaligus inspeksi Perwakilan RI; serta memasok barang ke Singapura untuk menembus blokade Belanda.

Naasnya, dalam perjalanan lanjutan dari Bangkok ke Singapura itulah pesawat Avro Anson jatuh hancur lebur di Tanjung Hantu Malaka. Penyebabnya masih gelap. Diduga antara akibat terbang rendah untuk menghindari kabut tebal dan adanya sabotase. Tapi yang jelas: peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi dunia penerbangan nasional.

Halim Perdanakusuma pergi ketika negeri masih sangat membutuhkan kecakapan dan pengalamannya untuk ditransfer ke AURI. Betapa tidak, ia adalah segelintir putra Indonesia yang menjadi perwira Royal Air Force sekaligus Royal Canadian Air Force pada Perang Dunia II, dan pernah berpangkalan di Colombo.

Dengan pangkat Wing Commander, ia satu-satunya putra Indonesia yang mengantong jam terbang terbilang tinggi dalam mengemban misi navigasi dan pengeboman di wilayah target pada masa perang dunia itu. Setidaknya sudah 44 kali pengeboman yang dilancarkan Halim Perdanakusuma di bumi NAZI Jerman, menggunakan pesawat Liberator dan Lancaster. Sungguh sebuah misi sangar dibalik posturnya yang kurus dan berwajah halus.

Di Indonesia yang masih bayi merah, bayangkan: pria kelahiran Sampang Madura ini adalah salah satu di antara hanya dua orang jumlah navigator yang dimiliki AURI di masa itu. Maka sebagai penghormatan, pada 17 Agustus 1952, nama Pangkalan Udara (Lanud) Cililitan diganti lalu diabadikan dengan namanya sebagaimana yang kita kenal sampai sekarang: Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Halim Perdanakusuma.

Di republik ini hanya ada dua wilayah besar Markas Komando Operasi TNI AU. Pertama, Lanuma Halim Perdanakusuma yang membawahi kurang lebih 20 Lanuma dan Lanud Tipe A-C untuk Wilayah I Indonesia Barat. Ia merupakan Skuadron udara tempur tertua dan paling banyak terlibat dalam operasi tempur Indonesia. Kedua, Lanuma Hasanuddin di Makassar yang membawahi sekitar 19 Lanuma dan Lanud Tipe A sampai D untuk Wilayah II Indonesia Timur.

Fungsi vital Halim Perdanakusuma

Secara geografis dan geostrategis, Lanuma Halim Perdanakusuma adalah Mabes TNI AU. Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia (KOHANUDNAS) memang bermarkas di komplek Lanuma satu ini. Termasuk sebagai pusat komando batalyon tempur korps elit baret jingga itu.

Sebagai Mabes, boleh saja ia kalah pamor dengan Lanuma Iswahyudi lantaran Skuadron udara di Madiun itu merupakan markas pesawat-pesawat seri terbaru nan canggih seperti sukhoi SU-27 atau F-16. Tapi kalau muncul serangan mendadak militer asing dan dalam situasi pertempuran, kendali teritorial dan pertahanan udara RI praktis dioperasikan dari Mabes Halim Perdanakusuma. Beberapa Skuadron tempur udara wilayah Barat-Timur Indonesia juga akan kembali ke pangkuannya.

Sebab, invansi militer musuh yang biasanya diawali dengan pengerahan kekuatan tempur udara ke wilayah target, secara otomatis akan ditangkal terlebih dulu  oleh sejumlah Lanuma dan Lanud di wilayah besar Barat dan Timur Indonesia sehingga Jakarta sebagai pusat pemerintahan relatif lebih terkendali.

Kalau datang dari Barat, otomatis dihalau dari pangkalan TNI AU di berbagai provinsi di Sumatera. Terutama oleh Lanuma Roesmin Nurjadin di Riau serta Lanud Tanjungpinang, Lanud Hang Nadim dan Lanud Ranai (Natuna) Kepulauan Riau sebagai wilayah perbatasan laut-udara RI dengan teritori asing. Bila datangnya dari Timur, Lanuma Hasanuddin berpesan besar menangkalnya.

Letak Halim Perdanakusuma di Cililitan Jakarta Timur juga sesungguhnya bertalian erat dengan posisi Markas Kopassus dan Sat 81 Gultor di Cijantung serta Mabes TNI di Cilangkap; sama-sama berjarak dekat di Jakarta Timur. Tujuannya tak lain untuk memudahkan memobilisasi dan sinergis unit-unit tempur di tubuh TNI, terutama dalam mobilisasi serangan balik ke teritori lawan dan pengatur tempo pada pertempuran infanteri yang telah menembus wilayah RI.  

Marsekal Muda (Purn) TNI AU Prayitno Ramelan pernah mengurai strategi infanteri ini kepada merdeka.com. Menurutnya, pasokan penerjunan pasukan penerjun payung dalam perang infanteri paling banyak dari Halim Perdanakusuma selain dari Lanuma Abdul Rachman Saleh di Malang yang memudahkan mobilisasi pasukan penerjun payung. Karena itulah Halim Perdanakusuma menjadi fasilitas utama Batalyon Infanteri Lintas Udara (Brigif  Linud) 328 (masuk dalam Brigif Linud 17/Kujang I) yang bermarkas di Cilodong-Depok dan saling berdekatan dengan pasukan elit baret hijau di Cijantung.

Begitu pula dengan Brigif Linud 18/Trisula yang bermarkas di Jabung Malang, menjadikan Lanuma Abdul Rachman Saleh sebagai fasilitas utamanya. Mobilisasi pasukan terjun payung itu juga sebagai penjelas kenapa dua Lanuma tersebut menjadi pangkalan Hercules, dan keduanya didekatkan dengan bandara penerbangan sipilnya masing-masing.

Tak cuma itu, di masa darurat, Lanuma Halim Perdanakusuma menjadi titik evakuasi Presiden RI dan tamu-tamu negara lainnya. Akses dari Istana menuju Halim lebih cepat ditempuh ketimbang ke Cengkareng dimana jalan menuju Halim sejak awal sengaja tidak diperlebar. Di dalam area bandaranya, tempat naik-turun penumpang juga sengaja tidak stel lebar. Jumlah landasan pacunya dibiarkan hanya satu landasan, yang itupun panjangnya cuma tiga kilometer. Semua itu tidak absen dari strategi, agar mobilisasi titik pengamanan dan manuver pesawat tidak terhambat sedarurat apapun situasinya.

Nasib Halim Perdanakusuma  

Tapi nampaknya kini nilai sejarah TNI AU dan penghormatan terhadap Halim Perdanakusuma bakal hangus. Sistem pertahanan TNI AU juga praktis banyak berubah. Pihak “Temasek” melalui tangan PT Angkasa Transportindo Selaras, anak perusahaan Lion Air, akan merombak Mabes TNI AU ini dengan dana awal Rp 5 trilyun. Dengan dana jumbo ini bandaranya akan disulap seperti lazim di Eropa sebagai kota bandara. Pihak Lion Air akan membangun taxiway dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas seperti monorel, under pass dan sebagainya.

Itu semua diintegrasikan dengan kawasan bisnis seperti business center, ruang MICE; lengkap dengan perhotelan di area dalam bandara ini yang luasnya mencapai 21 ha. Pihak Lion Air sudah menggandeng PT Adhi Karya untuk menyulap semua itu. Bahkan menurut Dirut-nya bisa jadi kelak pihak BUMN Konstruksi ini memiliki saham.

Dengan skema bagi hasil 80% PT Angkasa Transportindo Selaras dan 20% Induk Koperasi TNI AU, pihak TNI AU tak berkutik dengan rencana yang telah mulai berjalan sejak 2004 itu. Mabes TNI AU merestuinya melalui Kepala Dinas Penerbangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto usai pertemuan dengan pihak Lion Air dan Angkasa Pura II sebagaimana disampaikan sang Marsekal, 13/01/2014.

Sampai dengan setelah kemenangan kasasi Lion Air, 16/10/ 2014, pihak TNI AU masih menunjukan sikap serupa. Malah, Korpaskhas TNI AU tanggap bersiaga di landasan pacu Terminal III Bandara Seokarno Hatta, 20/02/2015, untuk mengamankan aksi blokir para penumpang Lion Air yang terlantar akibat keterlambatan maskapai berlogo kepala singa itu.

Kini sebelum semuanya terlambat, tentu rakyat tidak rela membiarkan Singapura mencaploknya. Kalau tidak, gawat sekali urusannya. Tapi bila semuanya terlaksana, yah..selamat tinggal Halim Perdanakusuma!  ***

(Alfi rahmadi, Indonesian Review )

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...