28 May 2018

Tiga Alasan Rizal Ramli Bisa Jadi Faktor Penentu Kemenangan Prabowo atas Jokowi

KONFRONTASI-Lembaga-lembaga penelitian politik, seperti Poltracking dan LSI, sudah merilis hasil survey terakhirnya. Keduanya memastikan bahwa elektabilitas petahana Jokowi berada di bawah 50%. Artinya peluang penantang Jokowi untuk menangi Pilpres 2019 sangat besar.  

Pengamat politik dari New Indonesia Foundation, Reinhard, M.Sc. menilai, bila menjelang Pilpres 2019 hanya terbentuk dua poros koalisi, yaitu Jokowi melawan Prabowo Subianto (PS), maka peran calon wakil presiden (cawapres) merupakan faktor yang sangat menentukan.

“PS akan menang bila menggandeng Rizal Ramli (RR) sebagai cawapres. Meskipun saat ini lembaga-lembaga survey tersebut, dengan berbagai alasan tentunya, belum masukkan nama RR ke dalam kuisioner mereka. Ke depannya pasti akan masuk survey, apalagi setelah yang bersangkutan medeklarasikan diri minggu lalu.”, yakin Reinhard.

Reinhard menyebut tiga alasan yang menguatkan argumennya. Pertama. RR merupakan ekonom di Indonesia yang paling paham kelemahan pembangunan ekonomi Jokowi. Ketidak puasan publik terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi, akan bermuara kepada sosok ekonom yang mereka anggap paling mampu memperbaikinya. 

“Publik kurang puas dengan pembangunan infrastruktur Jokowi yang tidak berhubungan dengan membaiknya perekonomian mereka: daya beli rakyat tidak membaik, impor pangan semakin gencar, ketimpangan pendapatan tetap tinggi, dan pertumbuhan ekonomi stagnan 5%. Pada saat yang sama mereka melihat dan membaca RR banyak memberikan solusi-solusi terobosan untuk atasi semua masalah ekonomi tersebut.”, jelas Reinhard.

Kedua. RR adalah simbol keberpihakan terhadap rakyat yang telah dibuang (baca: direshuffle) oleh Jokowi dari Kabinet. RR adalah tokoh pergerakan yang memiliki rekam jejak 40 tahun, sejak 1978, membela rakyat. Dengan menyingkirkan RR dari kabinet, sama saja Jokowi menghilangkan simbol keberpihakan rakyat dari pemerintahannya.  Hal ini terutama tergambar jelas dari kasus Reklamasi Teluk Jakarta.

“Publik seluruh Indonesia paham benar bahwa RR direshuffle oleh Jokowi setelah berani hentikan reklamasi Pulau G milik Agung Podomoro karena alasan teknis (pipa gas dan PLN) dan kerakyatan (nelayan). Perlu diingat isu reklamasi terbukti sangat ampuh ketika diangkat oleh Anies Baswedan mengalahkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. RR adalah pemilik saham terbesar atas isu reklamasi ini, bukan Anies. Dan isu reklamasi jelas akan muncul lagi saat Pilpres 2019.”, tegas Reinhard.

Ketiga. Republik Indonesia saat ini membutuhkan negarawan berkapasitas internasional yang mampu mengimbangi agresivitas Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Apalagi setelah pemimpin RRT, Xi Jinping dimungkinkan menjabat lebih dari dua periode oleh Kongres Nasional Tiongkok. RR dinilai dapat mengimbangi Xi, karena RR adalah penasehat ekonomi PBB bersama tiga orang peraih Nobel Ekonomi lainnya.

“Publik melihat Jokowi sangat lemah dalam melakukan negosiasi dengan pemerintah RRT. Terutama terlihat dari masih maraknya isu membanjirnya tenaga kerja asal Tiongkok di Indonesia, yang sangat meresahkan publik. Terkait kisruh Laut Cina Selatan pun, posisi pengakuan Indonesia atas Laut Natuna Utara juga masih diingat publik sebagai inisitatif RR sejak saat masih menjabat Menko Kemaritiman Jokowi.”, tutup Reinhard M.Sc.*** 

 

Category: 
Loading...