19 March 2019

Terkepung, Jokowi Makin Sulit untuk Menang

Dari tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi yang semula berjarak di atas 20% di bulan Agustus, kini sudah di bawah 10%, adalah tanda bahwa peluang Joko Widodo untuk memenangkan pilpres makin tipis. Waktu tersisa tiga setengah bulan. Jika tak ada hasil dan produk kerja yang spektakuler dan luar biasa, sulit bagi Jokowi untuk menang. Artinya, peluang terjadinya pergantian presiden di 2019 lebih besar.

 

 

Oleh Tony Rosyid

 

 

Head to head lawan Prabowo, Jokowi di atas angin. Survei membuktikan. Ini bukan soal integritas dan kapasitas. Tapi, soal bagaimana merebut hati rakyat. Dalam konteks ini, Jokowi jauh di atas Prabowo. Kemampuan self branding Jokowi tak mudah ditandingi. Jokowi sudah membuktikannya sejak nyalon Wali Kota Solo, lalu Gubernur DKI, lanjut presiden.

Di Pilpres 2019, yang dihadapi Jokowi tak hanya Prabowo. Ada sejumlah pihak yang tak bisa diremehkan kekuatannya. Pertama, Sandiaga Uno. Anak ganteng ini berhasil merebut hati emak-emak di pedesaan dan kaum milenial. Sandi juga mampu berdialog secara rasional dengan kalangan perkotaan dan kelas menengah atas dengan program ekonominya. Kedaulatan pangan, stabilisasi harga, dan pembangunan infrastruktur tanpa utang adalah program yang saat ini jadi antitesa Jokowi. Gagasan Sandi tepat dan menyasar rasionalitas rakyat. Menghadapi Sandi, Jokowi mati langkah. Hadirnya Sandi yang setiap hari 10-15 kali mengunjungi komunitas massa berhasil menggerus kantong-kantong para pendukung Jokowi. Terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kedua, mesin politik umat. Orang mengenalnya dengan gerakan 212. Jokowi kelelahan menghadapi gerakan massa 212. Berbagai ikhtiar rekonsiliasi tak berhasil. Pola ofensif malah sering menciptakan blunder politik. Pelan tapi pasti, operasi terhadap gerakan 212 justru menggerogoti elektabilitas Jokowi. Belum terlihat ada langkah efektif dari kubu Jokowi untuk menghambat, atau menjinakkan gerakan 212.

Kehadiran Ma’ruf Amin yang semula disekenariokan untuk menghadang pengaruh 212, tak berhasil. Buktinya? Fatwa “minor” Ma’ruf terkait dengan Reuni 212 justru dijawab dengan jumlah massa yang jauh lebih besar dari aksi-aksi sebelumnya. Dan dalam reuni itu yang bergema adalah shalawat khas kaum Nahdliyyin. Artinya, massa yang hadir banyak dari kalangan Nahdliyyin. Ini indikasi bahwa pengaruh Ma’ruf di kalangan Nahdliyyin tidak sebagaimana yang dibayangkan orang selama ini. Terutama ketika sejumlah Kiyai dan alumni santri Tambak Beras maupun Tebu Ireng Jombang, tempat lahirnya NU, deklarasi dukung Prabowo-Sandi.

Gerakan 212 bukan sekadar kerumunan massa. Mereka terkonsolidasi dengan cukup baik dan rapi dalam melakukan perlawanan politik terhadap Joko Widodo. Pilgub DKI, Jabar, dan Jateng telah memberi bukti nyata adanya konsolidasi politik keumatan. Mereka mampu memberikan suara signifikan di tiga wilayah itu.

Tidak saja konsolidasi darat yang cukup baik, mesin keumatan juga mampu melahirkan kelompok-kelompok cyber yang menjamur di berbagai wilayah. Tak ada yang tahu pasti berapa jumlah kelompok cyber ini. Mereka adalah sukarelawan yang militan dan masif bergerak di media. Dengan biaya dan logistik masing-masing.

Ketiga, adalah SBY. Presiden RI ke-6 ini gak bisa dikecilkan perannya. Jika di Pilpres 2014 SBY dianggap netral, atau malah lebih condong ke Jokowi, maka di Pilpres 2019, tak ada pintu lain bagi SBY kecuali bergabung dengan Prabowo-Sandi. Resistensi pimpinan PDIP tak memberi ruang yang nyaman buat SBY dan Demokrat untuk berada di kubu Jokowi-Ma’ruf.

Memenangkan Prabowo-Sandi bagi SBY dan Demokrat di Pilpres 2019 adalah harga mati. Tak ada pilihan lain dan juga keraguan yang tidak perlu. Kemenangan Prabowo-Sandi adalah kemenangan SBY dan Demokrat. Tentu juga kemenangan bagi partai-partai pengusung lainnya. Kemenangan ini akan menjadi ruang yang kondusif buat AHY, sang Putra Mahkota untuk tampil dan mempersiapkan diri berkiprah lebih besar terhadap bangsa ini.

SBY dipastikan akan all out. Apalagi setelah partainya mengalami penetrasi dari pihak-pihak yang “misterius”. Pengerusakan bendera, spanduk, dan baliho di Pekanbaru yang jumlahnya ribuan itu adalah sebuah bentuk penghinaan dan pelecehan. Tidak hanya kepada Demokrat, tapi terutama kepada SBY.

Karena, pengerusakan itu bertepatan dengan kehadiran SBY di Pekanbaru. Atribut yang sedianya menyambut SBY diturunkan, sebagian disobek, dan sebagian lagi dimasukin selokan. Padahal, di spanduk dan baliho ada foto SBY. Bahkan foto SBY bersama istrinya.

Soal strategi, SBY adalah salah satu jenderal terbaik. Dua kali menang telak dalam pertempuran pilpres adalah bukti kepiawaian politiknya. Tak banyak jenderal punya kemampuan ini. Bahkan Wiranto, sang mantan Panglima TNI beberapa kali gagal.

Pasca-pengerusakan atribut Demokrat yang dramatis itu, SBY tampak semakin bulat tekadnya mengalahkan Jokowi. Pertemuan SBY-Prabowo Jumat (21/12) kemarin tampak makin menguatkan tekad itu. Ditambah mesin politik PKS yang rapi, solid, dan militan dipastikan akan ikut membesarkan elektabilitas Prabowo-Sandi.

Keempat, Jokowi menghadapi masalah internalnya sendiri. Masalah ini dibagi dua. Pertama, terkait kinerja. Terkait kinerja, Jokowi terbebani dengan janji politiknya yang tak tertuntaskan. Jokowi juga menghadapi masalah kedaulatan pangan dengan berbagai impor yang mengundang protes para petani. Belum juga soal membludaknya tenaga kerja China, infrastruktur yang mangkrak, dan menyisakan utang besar menjadi persoalan yang telah mempengaruhi persepsi publik.

Baca juga: Petahana Jokowi vs Prabowo: Siapa yang Menangkan Pilpres 2019?

Ini semua menjadi beban politik yang harus dihadapi Jokowi di Pilpres 2019. Di sisi lain, belum tampak bahan jualan yang seksi dan mampu menghipnotis rakyat seperti gagasan mobil Esemka saat itu. Yang dilihat rakyat saat ini adalah bukti dan produk kerja, bukan gagasan. Sebab, Jokowi adalah petahana.

Kedua, terkait timses. Langkah timses Jokowi seringkali melakukan blunder politik. Operasi aparat dan birokrasi tak rapi. Misal, tak tuntasnya berbagai kasus, menjadi “aura negatif” bagi kubu Jokowi. Persekusi para pendukung Jokowi justru menggerus elektabilitas. Kampanye vulgar menteri dan bupati telah melukai psikologi rakyat.

Dari tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi yang semula berjarak di atas 20% di bulan Agustus, kini sudah di bawah 10%, adalah tanda bahwa peluang Jokowi untuk memenangkan pilpres makin tipis. Waktu tersisa tiga setengah bulan. Melihat tren suara, karakter, dan dinamika variabel, waktu tiga setengah bulan cukup bagi Prabowo-Sandi untuk menyalib elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

Belum lagi faktor beralihnya dukungan pengusaha dan media serta faktor kepanikan kubu Jokowi-Ma’ruf ketika elektabilitas Prabowo-Sandi sudah rapat. Variabel baru ini akan makin memperburuk elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di awal 2019. Jika tak ada hasil dan produk kerja yang spektakuler dan luar biasa, sulit bagi Jokowi untuk menang. Artinya, peluang terjadinya pergantian presiden di 2019 lebih besar.

 

Tony Rosyid adalah Pengamat Politik

(jft/Mata-mataPolitik)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...