25 May 2019

"Tanpa Mengurangi Hormat Saya Kepada Kiai Ma'ruf Amin, Saya Sebut 4-1, bukan 4-0”

KONFRONTASI -  Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo -Sandiaga Uno, Priyo Budi Santoso menyebut, skor akhir debat cawapres 2019 antara Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin adalah 4-1. Menurut dia, angka itu pantas karena ada juga sanggahan dan pendapat Ma'ruf Amin yang bagus.

"Tanpa mengurangi hormat saya kepada Kiai Ma'ruf Amin, saya sebut 4-1, bukan 4-0. Ada beberapa ide dari Kiai Ma'ruf Amin yang bisa diadopsi jika Prabowo-Sandiaga Uno menang," kata Priyo Budi Santoso dalam tinjauawannya terhadap debat cawapres 2019 di Media Center BPN, Jakarta, Senin 18 Maret 2019.

Kesantunan Sandiaga Uno yang dianggap sebagai strategi debat ditampik Priyo Budi Santoso. Menurut dia, justru Sandiaga Uno hadir dalam bentuk aslinya yang tidak memaksakan diri menjadi orator tapi tetap orisinal dengan pemikiran meski terkesan datar.

"Salah satu dari puncak tersebut, secara khusus ingin saya sampaikan lagi adalah ketika Sandiaga Uno  mencoba menyihir publik dengan meminta publik mengeluarkan dompet dan KTP, ternyata e-KTP yang diambil. Ini yang coba ditawarkan Sandiaga Uno terhadap hiruk-pikuk selama bulan terakhir ini ketika pihak sebelah gencar memamerkan tiga kartu saksi," ucap Priyo Budi Santoso.

TKN tanggapi link and match

Sementara itu, usai debat cawapres 2019, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin Roslan Roeslani menilai penampilan Ma’ruf Amin pada debat ketiga pantas diacungi jempol.

Menurut dia, Ma’ruf Amin sangat tenang dengan pemaparan yang rinci berkaitan dengan data dan angka terkait masalah-masalah yang jadi tema debat cawapres 2019.

“Abah (sapaan Ma’ruf Amin)  hari ini luar biasa penampilannya, akurasinya, ketenangannya, dan pada bidang-bidang yang dibahas kali ini,” kata Roslan Roeslani.

Dia juga mengkritik program yang diusung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Menurut Roslan Roeslani, program link and match yang digaunkan Sandiaga UNo sebenarnya sudah dilakukan sejak 2016 oleh Pemerintah lewat pendidikan vokasi dan kerja sama dengan Kadin.

Dia juga khawatir jika Oke Oce diangkat ke level nasional karena sepengetahuannya, saat diaplikasikan di Jakarta, hasilnya kurang memuaskan.

“Karena pada saat debat berjalan saja servernya down, ada 500 yang error, dari target 40.000 yang daftar 51.000 yang diproses hanya 1,000 dan modal itu hanya 150. Oke Oce Mart juga beberapa tutup. Jadi, untuk dibawa ke level nasional harus hati-hati. Jangan sampai yang dicoba di Jakarta mau di scale up ke skala nasional,” kata dia.(Jft/Pikiran Rakyat)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...