23 October 2019

Tak Bela KPK, Jokowi Krisis Legitimasi karena Lembek dan Cupet

JAKARTA-Ada beberapa kejadian di luar kebiasaan, ketika pertama kali Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto berangkat mengantarkan anak bungsunya ke sekolah hingga ditangkap Bareskrim Polri.

Menurut Bambang, kegiatan mengantar anak bungsunya bernama Mohammad Yattaqi ke sekolah merupakan kegiatan rutin, setelah supir pribadinya mengundurkan diri. Supir Bambang untuk mengantar anaknya bukan disediakan kantor.

"Saya punya supir, tapi kan itu dari kantor. Jadi pas ada urusan pribadi saya harus menggunakan supir pribadi atau saya sendiri yang menyupir," ucap Bambang kepada wartawan di rumahnya, Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2015).

Kejadian di luar kebiasaan pertama yaitu, ketika anak nomor duanya ikut menemani Bambang mengantarkan adiknya ke sekolah Nurul Fikri. Padahal, hari-hari biasanya tidak pernah ikut karena lokasi kampusnya jauh dari rumah.

Kejadian kedua ketika Bambang mulai memasuki Jalan Bahagia Raya yang dikenal kerap macet setiap pagi hari. Namun, pada saat itu kondisi jalanan lancar akibat Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo ikut mengatur lalu lintas.

"Saya agak suprise karena ada Pak Kapolsek di situ (Jalan Bahagia Raya) mengatur jalan raya mengurai kemacetan. Jarang sekali saya mendapatkan keistimewaan (keadaan jalan enggak macet)," tutur Bambang.

Direktur JK School of Government UMY, Achmad Nurmandi, turut menyayangkan konflik yang terjadi antara KPK dan Polri. Jokowi pun terkesan lembek dan cupet. Para analis melihat kelemahan da kecupetan itu amat kental.

Menurutnya, konflik berkepanjangan antara KPK dan Polri ini membuat sebuah momentum bagi para koruptor untuk bisa melepaskan diri dari jeratan hukum.

Achmad juga memaparkan, dari ilmu kelembagaan dan organisasi, tampak sekali bahwa pelembagaan anti korupsi di Indonesia belum mencapai titik kemampuan yang baik.

Ditandai dengan belum bersinerginya dua lembaga negara yang seharusnya bekerjasama menegakkan hukum di Indonesia.

"Dengan sikap Presiden Joko Widodo yang cenderung mengambil sikap normatif, kami melihat kepemimpinan politik anti korupsi periode pemerintahan saat ini justru menunjukkan ketidakpastian," ujar Achmad.

Mantan aktivis 98, Andre Rosiade, menilai permasalahan yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri yang semakin meruncing karena lemahnya kinerja Presiden Joko Widodo. Menurutnya, janji-janji Jokowi yang akan memperkuat KPK sampai saat ini masih sekedar angin surga.

"Kan kita tahu janji-janjinya waktu kampanye seperti halnya akan meningkatkan jumlah penyidik KPK dan memperkuat anggaran KPK. Fakta yang ada kita lihat adalah Presiden Jokowi malah membiarkan Bareskrim yang baru beberapa hari diangkat oleh Polri malah mengkriminalisasi saudara BW (Bambang Widjojanto) dengan kasus lama," kata Andre kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (24/1/2015).

Andre menuturkan, mengutip dari klarifikasi panitia seleksi KPK Todung Mulya Lubis menuturkan masalah yang menimpa BW itu sudah selesai. Andre pun membandingkan penyelesaian masalah yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kalau SBY di saat menjabat itu mengumpulkan KPK dan Polri untuk diberikan arahan-arahan untuk penyelesaiannya. Kalau Jokowi terkesan tersandera oleh partai koalisi yang mendukungnya," tuturnya.

"Dalam hal ini terkesan PDIP dengan Megawati yang sangat ngotot menginginkan Budi Gunawan dilantik sebagai Kapolri. Jadi menunjukkan bahwa kecurigaan masyarakat waktu kampanye bahwa Jokowi presiden boneka semakin terbukti," tuturnya.

Sebelumnya, Komjen Pol Budi Gunawan telah ditetapkan sebagai tersangka. Budi tersangkut kasus penerimaan hadiah atau janji saat menjabat sebagai Kepala Biro Mabes Polri.

Penetapan status tersangka langsung diumumkan oleh Ketua KPK Abraham Samad beserta Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

"Perkara itu masuk penyidikan dan tersangka Komjen BG sebagai tersangka kasus penerimaan hadiah atau janji saat menjabat kepala biro Mabes Polri," ujar Samad.

Sementara, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap oleh aparat kepolisian dari Bareskrim Polri saat setelah mengantar anaknya sekolah di kawasan Depok, Jawa Barat, Jumat (24/1/2015) pagi kemarin.(k/tribunews)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...