20 May 2019

Taipan di balik Jokowi: Salim Group Terus Moncer

KONFRONTASI-Perihal dukungan pengusaha – pengusaha besar dibalik Jokowi ini sudah menjadi rahasia umum. Sejumlah pengusaha besar yang diketahui berada di belakang Jokowi adalah Anthony Salim, James Riady, Robert Budi Hartono dan Edward Soeryadjaya. Dukungan para pengusaha besar ini pada bukanlah “gratis”, berikut kepentingan cukong – cukong Jokowi bila dirinya terpilih menjadi Presiden. Dalam artikel ini saya akan membahas lebih mendalam mengenai Sang cukong terbesar, Anthony Salim.

Anthony Salim adalah pemilik PT Indofood yang memonopoli pangsa pasar sejumlah produk pangan seperti gandum. Nilai impor gandum saat ini sangat besar, sekitar 80 persennya dikuasai oleh Indofood. Sejatinya monopoli pangan seperti sudah tidak diperbolehkan dan di atur dalam undang – undang. Namun impor gandum ini dipertahankan karena harganya lebih murah padahal Indonesia bisa menanam gandum sendiri. Karena punya kuasa atas impor gandum tersebut, pengusaha yang lain tidak bisa melakukan produksi pangan sejenis. Selain itu, Di BCA pun kini Anthony Salim memiliki saham sebesar 1,76 persen. Namun, Anthony masih mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Millsn sebagai tombak bisnisnya. Bisnis taipan Tionghoa terus moncer, sementara pribumi kian keteter. Teranyar, Antony Salim terus membenahi bisnis Grup Salim. Salim tetap ingin dihormati oleh para pelaku bisnis di Asia.

Liem Sioe Liong alias Sudono Salim boleh mati, tapi tidak dengan bisnisnya. Di tangan Antony Salim, puteranya, Grup Salim terus berbenah setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998. Penambahan sahamnya dari 20% menjadi 30% di Bank Ina dan aksi korporasi yang lain, menandakan kebangkitan itu.

Sebelum krisis, Group Salim merupakan konglomerat terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 miliar. Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Sudomo Salim alias Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai Orang Terkaya di Asia Tenggara.

Krisis 1998 memang telah merontokkan beberapa perusahaan kebanggaan Grup Salim. Sebut saja Bank Centra Asia (BCA). Bank swasta terbesar di Indonesia ini hampir kolaps gara-gara masyarakat, yang panik melihat penutupan belasan bank oleh pemerintah, beramai-ramai menarik tabungannya. Antrean panjang mengular di tiap pojok anjungan tunai BCA di seluruh Indonesia. BCA pun terjerat kredit macet raksasa milik nasabahnya, termasuk yang dikucurkan ke grup sendiri.

Untuk menyelamatkan permodalan BCA, pemerintah mengucurkan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 52 triliun. Sebagai gantinya, Salim harus menyerahkan 108 perusahaannya ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional selaku wakil pemerintah.

Dari sinilah, satu per satu "permata" Salim lepas. Salim tak lagi menjadi pemilik mayoritas di sejumlah perusahaan yang dulu menjadi tambang uangnya. Sebut saja PT Indocement Tunggal Prakarsa dan PT Indomobil Sukses Internasional. Yang paling menyakitkan, Salim harus kehilangan BCA, yang hampir sepenuhnya jatuh ke tangan Grup Djarum dan Farallon Capital (Amerika Serikat).

Namun Antony tetap mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Mills.

Di tengah kontroversi yang tak pernah reda, Salim akhirnya mengantongi surat keterangan lunas dari pemerintah Megawati Soekarnoputri pada Maret 2004. Berbekal itu, Anthony pun perlahan-lahan kembali tampil ke panggung bisnis nasional.

Hanya selang tiga bulan, Anthony mengambil alih kendali PT Indofood Sukses Makmur dari tangan Eva Riyanti Hutapea. Ia muncul di hadapan wartawan dan pemegang saham dengan sejumlah rencana besar untuk menggenjot kinerja produsen mi instan terbesar di dunia ini. Termasuk melebarkan sayap ke mancanegara, dengan mencatatkan saham anak perusahaannya di bidang kelapa sawit dan minyak goreng, PT Salim Ivomas Pratama, di Singapura.

Untuk mendongkrak penjualan Indofood, Antony menggandeng Nestle S.A. Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle. Deal bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp 50 miliar, dengan masing-masing pihak menyetor 50%.

Anthony percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005, pada botol kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan tersebut.

Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap makanan.

Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.

Sejak empat tahun lalu PT Indofood Sukses Makmur memiliki anak usaha bernama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Perusahaan terakhir ini adalah penggabungan  empat perusahaan di bawah bisnis Grup Salim.

Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo Primanusantara, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi. Proses penggabungan empat perusahaan itu mulai dilakukan sejak September 2009 dan tuntas 17 Maret 2010.

Perusahaan-perusahaan yang bergabung tersebut bubar demi hukum, tanpa dilakukan likuidasi lebih dahulu. Penggabungan perusahaan ke dalam Indofood CBP itu dilakukan melalui metode penyatuan kepentingan (pooling of interest) sesuai standar akuntasi keuangan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Salim juga kembali membangun bisnis gula, setelah Sugar Group miliknya di Lampung beralih tangan ke Gunawan Jusuf, bos Grup Makindo, yang membelinya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Tiga pabrik gula dibangunnya di Ogan Komering Ulu, Muara Enim, dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Semua ini memberikan sinyal bahwa setelah krisis, Salim kembali mengarahkan fokus bisnisnya ke industri makanan dan produk konsumen. Inilah satu dari tiga sektor bisnis yang sejak awal menjadi bisnis inti Grup Salim. Kalaupun sebelum krisis Salim menggarap sektor lain seperti pertambangan dan elektronik, itu karena tuntutan membantu program pemerintah menggenjot sektor ekspor dan menyediakan lapangan pekerjaan.

Dengan fokus seperti ini, gurita bisnis Salim, yang semula tersebar dalam 12 lini, mengkerut. Kalaupun di dalam negeri bisnisnya menciut, aset Salim di luar negeri dikabarkan justru membengkak.

Di luar negeri, bisnis Salim pun kian berkibar lewat bendera First Pacific, yang merambah pasar Filipina, Thailand, Hongkong, dan China. Antony juga melebarkan sayap bisnisnya ke India sejak tiga tahun lalu. Ia berniat menyulap kawasan Benggala Barat menjadi kawasan industri maju dengan nilai investasi US$ 10 miliar.

Dengan sederet langkah besar itu, Salim tetap menjadi magnet bagi para pelaku bisnis di Asia.  Tapi anehnya, nama Antony tidak masuk dalam daftar 22 orang terkaya Indonesia tahun 2015 versi Majalah Forbes. Padahal, tahun lalu namanya masuk dalam lima besar. Apa yang terjadi? Apakah kekayaannya menguap? Wallahu a’lam.

____________________________________

Sumber: Indonesianreview.com

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...