19 May 2019

Strategi China Mendikte Indonesia era Jokowi

KONFRONTASI- RRC alis Tiongkok atau China berusaha merebut pasar dan sumber daya alam di Indonesia, melakukan hegemoni ekonomi dan budaya ke Indonesia, selain memperkuat militer Beijing di Asia. Seiring kenaikan PDB, Cina juga terus meningkatkan anggaran militernya. Tahun ini, anggaran militer Cina mencapai US$ 145 miliar atau sekitar Rp 1.884 triliun. Total anggaran sebesar ini hanya kalah oleh AS. Coba bandingkan dengan anggaran militer Indonesia, yang hanya Rp 96 triliun.

Sudah menjadi hukum alam, bila suatu negara kuat mereka akan berusaha mendikte negara-negara yang lemah. Seperti ketika masa keemasan Yunani, Romawi, Mongolia,Turki, Perancis Inggris Raya, Jerman, Jepang dan AS. Karena berusaha mendikte, acapkali negara-negara adi daya berkonflik dengan negara lain, baik karena masalah batas wilayah maupun tentang perdagangan.

Cina sebagai negara adi daya baru, sekarang sedang berkonflik dengan Jepang tentang Kepulauan Senkanku. Cina juga berkonflik dengan beberapa negara ASEAN tentang Kepulauan Spratly. Bahkan, sempat ada isu bahwa Kepulauan Natuna, milik kita, telah di klaim oleh Cina. Tapi, Cina membantah hal tersebut.

Melihat ancaman dari Cina, AS sebagai negara adi daya utama, untuk saat ini lebih mengutamakan pertahanan di daerah Asia Pasifik dibandingkan dengan Timur Tengah.

Dalam jaman modern sekarang, perang ekonomi lebih sering terjadi dibandingkan perang secara fisik. Perang ekonomi sebenarnya mempunyai tujuan sama dengan perang secara fisik, yaitu untuk mengamankan pasokan sumber daya alam dan pasar.

Cina sebenarnya memiliki sumber daya alam cukup besar.Tahun 2014, produksi minyak dalam negeri Cina mencapai 4,4 juta barel per hari, produksi batu baranya 3.400 juta ton (terbesar di seluruh dunia ). Tapi, karena konsumsi untuk rumah tangga dan industrinya sangat besar, terpaksa mereka harus impor.

Industri di Cina sangat tangguh. Hampir semua produk barang dapat mereka buat, meski dengan kualitas tidak sebaik negara-negara maju lainnya. Tapi, kalau harga produk Cina jauh lebih murah, akibatnya pasar produk Cina lebih luas. Bayangkan, hampir dengan semua negara, Cina menang dagang.

Kondisi ekonomi Cina sekarang sedang mengalami perlambatan pertumbuhan, sedangkan kapasitas industrinya rata-rata sudah optimal serta mempunyai utang dalam jumlah besar. Kalau keadaan ini terus berlangsung, akan banyak indutris di Cina mengalami kebangkrutan.

Untuk menolong industri dalam negerinya, Pemerintah Cina berusaha mencari pasar ke luar negeri. Sasarannya adalah negara dengan jumlah penduduk besar, dan sedang berusaha membangun infrastruktur dasar, seperti Indonesia.

Pemerintah Cina berusaha merayu agar Indonesia membeli produknya. Caranya, perbankan Cina memberikan kredit kepada swasta Indonesia, untuk membeli produk dari Cina. Seperti China Development Bank Corporation, memberikan kredit sebesar US$ 700 juta, kepada PT Sumber Segara Primadaya untuk membangun PLTU 1 X614 MW di Cilacap. Kredit tersebut dipergunakan untuk membeli turbin dan mesin listrik dari Dongfang Electric dan Shanghai Electric.

Cara seperti itu sebenarnya juga dilakukan oleh Pemerintah AS dan negara-negara Eropa, melalui US Exim Bank dan BNP Paribas. Ketika memberikan utang kepada Lion Air untuk membeli pesawat Boeing dan Airbus. Total utang Lion Air kepada dua bank tersebut sangatlah fantastis, yaitu sebesar US$ 45,7 miliar. Tujuannya jelas untuk menolong industri pesawat terbang AS dan Eropa dari keterpurukan.

Cara lain untuk mendikte negara berkembang agar membeli produk negara maju, adalah melalui lembaga keuangan internasional. Pemerintah Cina tidak mempunyai kekuatan di Bank Dunia, IMF atau Bank Pembangunan Asia (ADB). Melihat kelemahan tersebut, Pemerintah Cina berusaha untuk membuat lembaga keuangan internasional tandingan, namanya Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB}.

Tujuan dari berdirinya lembaga tersebut jelas untuk menjual produk-produk Cina, melalui skema pinjaman. Bank Dunia, IMF dan ADB ketika memberikan pinjaman biasanya juga dengan persyaratan harus membeli barang dari negara maju. Jadi, sebenarnya Cina hanya mengikuti langkah dari negara-negara maju terdahulu, alias tidak ada yang istimewa.

Melihat sedang ada konstelasi antara Cina dan negara-negara maju lainya, Presiden Jokowi berusaha menggertak lembaga keuangan internasional lainnya melalui kritikannya saat berpidato pembukaan perayaan 60 tahun Konferesi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Tak lama setelah KAA, Bank Dunia menawarkan pinjaman sebesar US$ 11 miliar, pinjaman tersebut memang murni bisnis alias dengan suku bunga relatif tinggi dan masih ada keharusan untuk membeli barang dari negara maju.

Indonesia sedang membutuhkan modal banyak untuk membangun infrastruktur dasar besar-besaran. Sayangnya, uang kita cekak dan jumlah utang pemerintah dan swasta sudah memberikan tanda-tanda bahaya.

Konstelasi antara Cina dengan negara maju lainya, bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan pinjaman dengan syarat ringan. Seperti bunga rendah, grass period dan jangka waktu pinjaman harus panjang, serta pembelian barang harus sesuai dengan kebutuhan proyek.

Suatu bangsa sebenarnya tidak dapat didikte oleh siapapun sepanjang pejabatnya mempunyai kredibilitas tinggi. Sayangnya, pejabat di Indonesia banyak menjadi pemungut rente alias koruptor. Sehingga dalam belanja barang kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bangsa. Jadi sebenarnya, musuh utama bangsa ini bukanlah bangsa asing, tapi pejabat-pejabat korup. (konfrontasi/Daniel Rudi, analis/http://indonesianreview.com)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Minggu, 19 May 2019 - 12:15
Minggu, 19 May 2019 - 12:06
Minggu, 19 May 2019 - 11:59
Minggu, 19 May 2019 - 11:57
Minggu, 19 May 2019 - 10:59
Minggu, 19 May 2019 - 10:57
Minggu, 19 May 2019 - 09:59
Minggu, 19 May 2019 - 09:57
Minggu, 19 May 2019 - 08:59
Minggu, 19 May 2019 - 08:57
Minggu, 19 May 2019 - 07:59
Minggu, 19 May 2019 - 07:57