20 March 2019

Sri Mulyani dan Kebiasaan Ngutangnya yang Buruk Sekali !

KONFRONTASI Soal mencari utang,  Menkeu Sri Mulyani Indrawati atau Ani, bisa disebut jagoan ngutang berbunga tinggi, sebab toh yang bayar rakyatnya sendiri  Mengumbar bualan suksesnya dalam menggaet utang alias pinjaman ternyata lebih banyak disebabkan iming-iming bunga yang disorongkannya luar biasa menarik karena. rajin mencari  pinjaman dengan menawarkan bunga supertinggi.

Pada 2008, Indonesia menerbitkanglobal bond di New York sebesar US$2 miliar dengan tenor 10 tahun. Bunga yang diberikan 6,95%. Ini bunga obligasi negara tertinggi yang diberikan oleh negara ASEAN. Sebagai perbandingan, suku bunga global bond yang diterbitkan Malaysia waktu itu cuma 3,86%, Thailand 4,8%. Bahkan Filipina, yang selama ini dikenal sebagai The Sick Man in Asia, bunganya hanya 6,51%.

Yang lebih hebat lagi, pada 2009, untuk menambal defisit APBN, Ani kembali menerbitkan global bond senilai US$3 miliar. Globalbond itu terbagi dua; US$2 miliar berjangka waktu 10 tahun dengan bunga 11,75% dan US$1 miliar berjangka waktu lima tahun berbunga 10,5%.

Pada saat yang sama, Filipina menangguk dana dari pasar internasional sebesar US$1,5 miliar dengan bunga hanya 8,5% saja! Bunga obligasi Indonesia cuma kalah dari Pakistan, negara yang kerap diguncang ledakan bom, yang 12,5%.

Penjualan obligasi dengan bunga supertinggi itu tentu saja laris-manis. Investor asing giat memburu obligasi Indonesia. Menurut data Asia Bond Online yang dirilis Asian Development Bank (ADB), Indonesia tertinggi dalam hal komposisi dana asing dalam bentuk obligasi di ASEAN. Akaibatnya, saat itu aliran dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai 29,65%.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan malah lebih mengerikan lagi. Sampai pertengahan Maret 2013 saat Sri Mulyani jadi Menkeu, porsi asing di pasar surat berharga  negara (SBN) telah mencapai Rp285 triliun atau 33% dari total SBN senilai Rp854 triliun.Gampang ditebak, terus menggelembungnya komposisi asing dalam penguasaan obligasi Indonesia adalah karena bunga yang ditawarkan memang amat menggiurkan.

Bunga obligasi yang supertinggi itu jelas sangat merugikan negara. Bunganya pasti membebani APBN, dan juga memaksa korporasi Indonesia membayar bunga obligasi yang lebih tinggi lagi karena obligasi negara merupakan benchmark.

Menambal defisit APBN dengan mencari utangan adalah cara gampangan Sri Mulyani. Maksudnya, Pemerintahan Jokowi pun  malas dan cenderung mencari enaknya saja. Bukankah mereka yang kini menggenggam kekuasaan adalah para cerdik pandai?. Di Kementerian Keuangan, misalnya, adalah gudangnya para doktor ekonomi jebolan universitas bergengsi, bukan cuma nasional tapi juga internasional. Namun ngutang berbunga tinggi sudah jadi tabiat, habitus dan itu buruk sekali. Rakyat makin miskin dan bangsa ini jadi budak kuli di negeri sendiri (Edi Mulyadi, penulis dan jurnalis).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...