27 May 2019

Sri Bintang Pamungkas Doktor dari Amerika Tapi Yakin Ramalan Jawa

KONFRONTASI - Sri Bintang Pamungkas jadi perbincangan lagi setelah ditangkap polisi pada pagi menjelang aksi 2 Desember 2016.

Tuduhannya terkait makar , terutama sebagaimana beredar di YouTube berikut ini.Tetapi bagaimana corak pemikiran lain dari tokoh bertitel lengkap Dr Ir Sri Bintang Pamungkas SE MSi PhD itu?
Mari mengenang riwayat singkatnya. 

Terlahir di Tulungagung, 25 Juni 1945, ayahnya adalah seorang hakim bernama Moenadji Soerjohadikoesoemo.

Pada 1964, ia lulus dari SMA Negeri I, Surakarta, Jawa Tengah dan pada 1979 belajar ke Universitas Southern Carolina dan memperoleh gelar master (MSISE) (Master of Science in Industrial System Engineering).

Pada 1984, Bintang mengikuti program doktor di Iowa State University. Ia lantas jadi dosen Universitas Indonesia.

Pada 1993, dia masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dulu dipaksa berlambang bintang dari semula berlambang bangunan Ka'bah, dan kini kembali berlambang Ka'bah.

Kala itu, Bintang langsung populer karena bersuara terlalu lantang pada rezim Orde Baru.

Setiap dia berkampanye untuk PPP di berbagai daerah, termasuk di Tulungagung, selalu penuh massa dan gegap gempita. Ia juga kerap mengutip ramalan Jayabaya sebagai visi bernegara.

Bintang menguraikan tujuh ramalan tentang ksatria dari abad XII dan mengaitkan dengan sosok Presiden Indonesia berikut ini.

Pertama, satriya kinunjara murba wasesa. Satria yang terpenjara, cakap dalam banyak hal dan akhirnya mulia. Bintang menafsirkan sebagai Presiden Soekarno atau Sukarno atau Bung Karno.

Kedua, satriya mukti wibawa kesandhung kesampar. Satria yang kaya dan berwibawa tapi tersandung banyak masalah dan terjungkal. Bintang menafsirkan sebagai Presiden Soeharto.

Ketiga, satria jinumput, tutur gawe wirang. Satria yang diangkat tetapi kebijakannya memalukan. Bintang menafsirkannya sebagai Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. 

Keempat, satria lelana tapa ngrame, wuta ngiteri jagad. Satria pengembara yang bertapa dalam keramaian dan buta tetapi keliling dunia. Bintang menafsirkan sebagai Presiden Abdurrahman Wahid. 

Kelima, satria piningit hamung tuwuh. Satria yang "dipingit" dan hanya tumbuh.  Bintang menafsirkan sebagai Presiden Megawati binti Sukarno.

Keenam, satria pinilih hamboyong pambukaning gapura, gelar klasa tanpa anglenggahi. Satria yang terpilih membawa era baru, menyiapkan tikar tetapi tidak mendudukinya. Bintang menafsirkan sebagai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketujuh, satria pinandhita sinisihan wahyu, ratu tanpa makhuta. Satria laksana pendeta (bukan pendeta dalam pengertian yang menyempit seperti sekarang). Satria itu mendapat wahyu Tuhan tetapi tidak mendapat mahkota atau dinobatkan.

Video itu diunggah pada 21 Juli 2014 atau sehari sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, 9 Juli 2014 adalah Joko Widodo - Jusuf Kalla. 
Namun, dalam tafsir Bintang, pasangan Jokowi-Kalla adalah ratu tanpa mahkota. Mereka tertolak. (Juft/Surya)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...