17 June 2019

Soal Freeport dan Ahok, Tirulah Sikap Tegas dan Jelas Dr. Rizal Ramli

KONFRONTASI- Siapa yang tak kenal Tokoh Nasional Yang satu Ini, Dr. Rizal Ramli atau akrab di sapa RR, Ekonom Handal Bertangan dingin yang piawai dalam mengatasi masalah-masalah rumit kebangsaan dengan cara dan kegesitannya lewat berbagai terobosan-terobosan kreatif dan produktif(Out Of The Box).

Banyak sudah legacy kebijakan yang diukir sang tokoh ini baik ketika menjadi aktivis Mahasiswa maupun ketika diberi amanah sebuah jabatan. Kita ingat Gerakan Anti Kebodohan (GAK) 1977 yang dipelopori RR dkk hingga berbuah penerapan kebijakan wajib belajar oleh rezim Orba waktu itu. Kemudian di era pemerintahan Gus Dur yang singkat pada 2001, RR juga berhasil memperbaiki Bulog, Menyelamatkan PLN tanpa Hutang lewat sentuhan kebijakan kreatif Revaluasi Aset, hingga penyelamatan PTDI. Di era awal pemerintahan SBY, mantan menko perekonomian era Gus Dur itu juga berhasil menyelamatkan PT. Semen Gresik yang sempat jeblok menjadi salah satu BUMN terbaik di Indonesia, walau akhirnya berseteru dengan SBY terkait kebijakan pengelolaan Migas dan kebijakan BBM.

Di era pemerintahan Jokowi, salah satu ahli ekonomi Indonesia yang pernah dipercaya menjadi penasihat ekonomi PBB ini juga telah menorehkan banyak legacy kebijakan yang produktif dan sejalan dengan agenda Tri Sakti dan Nawacita Presiden Jokowi, Mulai dari Blok Masela, Dwelling Time, Organisasi Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC), 10 destinasi pariwisata utama Nasional, Revaluasi Aset, hingga mewujudkan agenda poros Maritim. Berbagai rekam jejak RR dari masa ke masa terbukti kreatif, cadas dan konsisten memegang prinsip kerakyatan tersebut tak dapat dipungkiri, cara pandang dan sikap RR terkait berbagai persoalan kebangsaan yang terus berkembang dan cukup dinamis faktanya terbukti benar, konsisten dan sejalan dengan harapan kita bernegara.

Dinamika isu dan gejolak politik Nasional yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya soal polemik PT. Freeport dengan pemerintahan Indonesia dan dinamika kemunculan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang fasis dan sangat mengancam kerukunan sosial dan berpotensi memicu instabilitas Nasional tersebut sudah seharusnya cara pandang dan sikap tegas RR menjadi referensi kita bersama. Dalam rekam jejak RR baik sewaktu era pemerintahan Gus Dur hingga Era Jokowi, RR selalu bersikap tegas tanpa kompromi dengan corporasi Asing ugal-ugalan yang bernama PT. Freeport. Bahkan RR menjuluki Freeport dengan perusahaan“Greedy” (serakah).

Dengan gayanya yang lugas dan cadas RR di tahun 2000 pernah menggebrak meja menunjukkan kemarahannya kepada Chief Executive Officer PT Freeport-McMoran James Moffett. Waktu itu RR ditunjuk pemerintahan Indonesia menjadi ketua tim untuk melakukan renegosiasi kontrak. RR sedianya sebagai ketua Tim renegosiasi kontrak mau di sogok oleh James Moffett karena ketegasannya dan dimohon bersedia ketemu di hotel mewah di Colorado, mendengar hal tersebut, RR marah besar dan menggebrak meja sambil berkata marah kepada Moffet,“Anda pikir saya ini pejabat negara apa?”. Kemudian di era pemerintahan Jokowi ketika RR menjabat sebagai Menko Kemaritiman juga RR kembali bersikap Tegas kepada Freeport tanpa mundur selangkahpun. RR tetap pada pendiriannya yakni Freeport harus Penuhi Syarat sesuai UU atau Freeport Putus Kontrak dengan pemerintahan Indonesia. Syarat tersebut diantaranya Freeport harus membayar royalti yang lebih tinggi, bertanggung jawab atas limbah hasil eksplorasi, melaksanakan ketentuan divestasi, membangun pabrik pemurnian mineral (smelter) dan memperbaiki lingkungan yang rusak akibat aksi penambangan. Melihat sikap kekeuh dan tegas RR, PT. Freeport pun mengancam akan membawa permasalahan tersebut ke arbitrase Internasional, namun sebagaimana gaya RR yang tak pernah mundur digertak dalam memperjuangkan prinsip kebangsaan dan kebenaran, RR justru menanggapinya dengan santai,"Tidak penting amat arbitrase. Kalau arbitrase ambil keputusan, terus kita tidak mau laksanakan mau apa?", kata RR.

Melihat ketegasan dan keberanian RR memang luar biasa dan sudah sepatutnya menjadi inspirasi bagi kita semua, khusunya para pejabat negara dan elit politik bangsa ini. Selain terkait Freeport tersebut diatas, sikap RR terhadap Ahok juga layak kita apresiasi dan menjadi referensi sikap kita bersama. Semua publik seantero Republik ini paham betul, bahwa sosok Ahok hanyalah pendatang baru elit politik Ibu Kota yang defisit prestasi, suka ngibul hingga berperilaku congkak dan penyebab terjadinya instabilitas politik yang mengancam keharmonisan sosial masyarakat. Bagi RR, Ahok tak lebih hanyalah pemimpin fasis yang menganut gaya orbaisme. Ahok suka menggusur dan mengusir orang-orang miskin yang disertai kekerasan dan tanpa kompensasi memadai. Berbagai kebijakan Ahok hanya menguntungkan para pengusaha ugal-ugalan utamanya para pengembang properti, hingga dia (Ahok) di biayai untuk kembali menjadi Gubernur DKI pada periode berikutnya oleh para pengembang properti. Berbagai Kebijakan Ahok juga terbukti serampangan dan menabrak banyak aturan hukum, salah satunya dalam skandal keuangan pembelian Rumah Sakit Sumber Waras. Selain itu Kepemimpinan Ahok yang emosional, juga membuktikan bahwa dia anti kritik.

Bahkan Ahok bersikap kejam dengan mengejek para demonstran dan mengancam akan membakar demonstran dengan meriam bensin. Sikap dan prinsip RR sangat tegas menyikapi seorang fasis seperti Ahok,“CutLoss” dan“Sikat!!”. Jangan sampai karena ulah satu orang membikin repot seluruh Republik, bahkan ancaman konflik sosial dan disintegrasi bangsapun terjadi. Ahok menjadi beban bangsa dan seluruh rakyat Indonesia, bahkan utamanya Ahok hanya menjadi beban bagi pemerintahan Jokowi, krisis kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi makin hari makin membesar, bahkan yang berhasil diseret-seret Ahok pun akhirnya ikut tenggelam, seperti PDIP yang terkena dampak“Ahok Efek” pada pilkada serentak 2017 ini dimana calon-calon yang di usung PDIP tumbang diberbagai daerah. (KCM)
 

Siapa yang tak kenal Tokoh Nasional Yang satu Ini, Dr. Rizal Ramli atau akrab di sapa RR, Ekonom Handal Bertangan dingin yang piawai dalam mengatasi masalah-masalah rumit kebangsaan dengan cara dan kegesitannya lewat berbagai terobosan-terobosan kreatif dan produktif(Out Of The Box). Banyak sudah legacy kebijakan yang diukir sang tokoh ini baik ketika menjadi aktivis Mahasiswa maupun ketika diberi amanah sebuah jabatan. Kita ingat Gerakan Anti Kebodohan (GAK) 1977 yang dipelopori RR dkk hingga berbuah penerapan kebijakan wajib belajar oleh rezim Orba waktu itu. Kemudian di era pemerintahan Gus Dur yang singkat pada 2001, RR juga berhasil memperbaiki Bulog, Menyelamatkan PLN tanpa Hutang lewat sentuhan kebijakan kreatif Revaluasi Aset, hingga penyelamatan PTDI. Di era awal pemerintahan SBY, mantan menko perekonomian era Gus Dur itu juga berhasil menyelamatkan PT. Semen Gresik yang sempat jeblok menjadi salah satu BUMN terbaik di Indonesia, walau akhirnya berseteru dengan SBY terkait kebijakan pengelolaan Migas dan kebijakan BBM. Di era pemerintahan Jokowi, salah satu ahli ekonomi Indonesia yang pernah dipercaya menjadi penasihat ekonomi PBB ini juga telah menorehkan banyak legacy kebijakan yang produktif dan sejalan dengan agenda Tri Sakti dan Nawacita Presiden Jokowi, Mulai dari Blok Masela, Dwelling Time, Organisasi Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC), 10 destinasi pariwisata utama Nasional, Revaluasi Aset, hingga mewujudkan agenda poros Maritim. Berbagai rekam jejak RR dari masa ke masa terbukti kreatif, cadas dan konsisten memegang prinsip kerakyatan tersebut tak dapat dipungkiri, cara pandang dan sikap RR terkait berbagai persoalan kebangsaan yang terus berkembang dan cukup dinamis faktanya terbukti benar, konsisten dan sejalan dengan harapan kita bernegara. Dinamika isu dan gejolak politik Nasional yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya soal polemik PT. Freeport dengan pemerintahan Indonesia dan dinamika kemunculan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang fasis dan sangat mengancam kerukunan sosial dan berpotensi memicu instabilitas Nasional tersebut sudah seharusnya cara pandang dan sikap tegas RR menjadi referensi kita bersama. Dalam rekam jejak RR baik sewaktu era pemerintahan Gus Dur hingga Era Jokowi, RR selalu bersikap tegas tanpa kompromi dengan corporasi Asing ugal-ugalan yang bernama PT. Freeport. Bahkan RR menjuluki Freeport dengan perusahaan“Greedy” (serakah). Dengan gayanya yang lugas dan cadas RR di tahun 2000 pernah menggebrak meja menunjukkan kemarahannya kepada Chief Executive Officer PT Freeport-McMoran James Moffett. Waktu itu RR ditunjuk pemerintahan Indonesia menjadi ketua tim untuk melakukan renegosiasi kontrak. RR sedianya sebagai ketua Tim renegosiasi kontrak mau di sogok oleh James Moffett karena ketegasannya dan dimohon bersedia ketemu di hotel mewah di Colorado, mendengar hal tersebut, RR marah besar dan menggebrak meja sambil berkata marah kepada Moffet,“Anda pikir saya ini pejabat negara apa?”. Kemudian di era pemerintahan Jokowi ketika RR menjabat sebagai Menko Kemaritiman juga RR kembali bersikap Tegas kepada Freeport tanpa mundur selangkahpun. RR tetap pada pendiriannya yakni Freeport harus Penuhi Syarat sesuai UU atau Freeport Putus Kontrak dengan pemerintahan Indonesia. Syarat tersebut diantaranya Freeport harus membayar royalti yang lebih tinggi, bertanggung jawab atas limbah hasil eksplorasi, melaksanakan ketentuan divestasi, membangun pabrik pemurnian mineral (smelter) dan memperbaiki lingkungan yang rusak akibat aksi penambangan. Melihat sikap kekeuh dan tegas RR, PT. Freeport pun mengancam akan membawa permasalahan tersebut ke arbitrase Internasional, namun sebagaimana gaya RR yang tak pernah mundur digertak dalam memperjuangkan prinsip kebangsaan dan kebenaran, RR justru menanggapinya dengan santai,"Tidak penting amat arbitrase. Kalau arbitrase ambil keputusan, terus kita tidak mau laksanakan mau apa?", kata RR. Melihat ketegasan dan keberanian RR memang luar biasa dan sudah sepatutnya menjadi inspirasi bagi kita semua, khusunya para pejabat negara dan elit politik bangsa ini. Selain terkait Freeport tersebut diatas, sikap RR terhadap Ahok juga layak kita apresiasi dan menjadi referensi sikap kita bersama. Semua publik seantero Republik ini paham betul, bahwa sosok Ahok hanyalah pendatang baru elit politik Ibu Kota yang defisit prestasi, suka ngibul hingga berperilaku congkak dan penyebab terjadinya instabilitas politik yang mengancam keharmonisan sosial masyarakat. Bagi RR, Ahok tak lebih hanyalah pemimpin fasis yang menganut gaya orbaisme. Ahok suka menggusur dan mengusir orang-orang miskin yang disertai kekerasan dan tanpa kompensasi memadai. Berbagai kebijakan Ahok hanya menguntungkan para pengusaha ugal-ugalan utamanya para pengembang properti, hingga dia (Ahok) di biayai untuk kembali menjadi Gubernur DKI pada periode berikutnya oleh para pengembang properti. Berbagai Kebijakan Ahok juga terbukti serampangan dan menabrak banyak aturan hukum, salah satunya dalam skandal keuangan pembelian Rumah Sakit Sumber Waras. Selain itu Kepemimpinan Ahok yang emosional, juga membuktikan bahwa dia anti kritik. Bahkan Ahok bersikap kejam dengan mengejek para demonstran dan mengancam akan membakar demonstran dengan meriam bensin. Sikap dan prinsip RR sangat tegas menyikapi seorang fasis seperti Ahok,“CutLoss” dan“Sikat!!”. Jangan sampai karena ulah satu orang membikin repot seluruh Republik, bahkan ancaman konflik sosial dan disintegrasi bangsapun terjadi. Ahok menjadi beban bangsa dan seluruh rakyat Indonesia, bahkan utamanya Ahok hanya menjadi beban bagi pemerintahan Jokowi, krisis kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi makin hari makin membesar, bahkan yang berhasil diseret-seret Ahok pun akhirnya ikut tenggelam, seperti PDIP yang terkena dampak“Ahok Efek” pada pilkada serentak 2017 ini dimana calon-calon yang di usung PDIP tumbang diberbagai daerah.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ajisoko2000/soal-polemik-freeport-dan-perilaku...
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...