21 April 2018

Soal Blok Masela, Rizal Ramli: Terlalu Cetek Jika Esensinya Hanya Persoalan Darat atau Laut

KONFRONTASI-Inti perdebatan Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said terkait skema pengembangan kilang di Blok Masela, Maluku, sejatinya bukan pada pada lokasi pembangunan di laut atau di darat, melainkan persoalan paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA).

Rizal Ramli mengatakan, keteguhannya agar kilang di Blok Masela bisa dibangun di darat, dalam rangka mengubah paradigma pengelolaan SDA di Tanah Air. Pasalnya, selama ini Indonesia hanya memanfaatkan SDA yang berlimpah di Indonesia untuk ekspor produk mentah semata.

"‎Jadi, yang kita inginkan dari awal adalah perubahan paradigma pengelolaan SDA. Jadi jangan disederhanakan oleh teman-teman media seolah hanya debat darat dan laut. Cetek amat. Inilah esensinya‎," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Mantan Menko bidang Perekonomian ini menuturkan, ‎selama ini banyak yang salah kaprah bahwa persoalan Lapangan Abadi tersebut hanya soal perbedaan darat dan laut semata. Padahal, dirinya hanya ingin memperbaiki taraf hidup masyarakat Indonesia yang belum banyak berubah sejak 70 tahun merdeka.

Pada 1960-an akhir, kata Rizal, pendapatan per kapita masyarakat di Asia hanya USD100 per kapita. Bahkan, China hanya USD50 per kapita. Namun, dalam waktu 50 tahun negara-negara tersebut melesat pendapatan per kapitanya.

‎"Korea melesat ke USD35.000 per kapita, yang lain melesat USD15.000 per kapita. Kita terakhir hanya USD3.500 per kapita. Lho Kok bisa. Dalam waktu 50 tahun ada negara yang terbang masuk kategori negara maju, ada negara yang masih tetap. Kayak kita, lumayan tapi tidak luar biasa," imbuh dia.

Sebab itu,‎ dia ingin mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam mengelola sumber daya alam di Tanah Air dengan membangun industri turunannya. Sehingga, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah dan pendapatan masyarakat bisa terkerek.

‎"Saya minta teman-teman media tolong diajarkan, masyarakat itu tahunya gas saja. Padahal, kalau ada petrokimia itu besar sekali. Thailand jadi maju, jadi makmur itu sepertiga GDP-nya dari petrokimia. Inilah arah kemana kita ingin pergi," tandasnya.[mr/snd]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...