28 February 2020

Rupiah Terpuruk, Jokowi-JK Lelet, Indonesia bisa Ambruk !

KONFRONTASI- Jokowi-Jk terbukti lelet, lumpuh dan mandul, dan mulai panen kekecewaan dan kemarahan publik. Kemarin, Danu Priyono (67) dan tukang becak lainnya yang biasa mangkal di Pasar Gede, Solo, meneriakkan "Save Rupiah" merespon kondisi ekonomi saat ini di mana nilai tukar Rupiah terus terpuruk dan tak berdaya menghadapi dolar Amerika Serikat.

Rupiah menyentuh Rp 13.164 pada penutupan perdagangan Rabu (11/3) dan kembali anjlok ke level Rp 13.176 per 1 dolar AS pada Kamis (12/3). Bahkan, Rupiah sempat menyentuh angka Rp 13.200 per USD.

Bukan tanpa sebab Danu teriak-teriak soal Rupiah. Anjloknya Rupiah langsung dirasakan rakyat kecil. Kondisi perekonomian akhir-akhir ini semakin menyengsarakan rakyat kecil. Melemahnya nilai tukar Rupiah ditambah sebelumnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat harga bahan pokok semakin sulit terbeli.

Harga bahan pokok terus merangkak naik. Tak terkecuali bahan tempe dan tahu yang juga ikut menjadi mahal.

"Mau makan tahu dan tempe saja kita kesulitan. Jangan-jangan nanti kita nggak bisa makan tahu dan tempe lagi," keluhnya.

Bukan hanya Danu yang teriak soal Rupiah, dari gedung DPR Senayan, sejumlah politisi juga melakukan hal sama. Bedanya, mereka mengkritik keras kinerja pemerintahan baru di bawah komando Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Merosotnya nilai Rupiah terhadap USD rupanya mendapat perhatian serius dari elite Partai Demokrat. Isu ekonomi pun berubah menjadi isu politik.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hermanto menegaskan, sewaktu SBY menjabat sebagai presiden, nilai tukar Rupiah terhadap USD stabil. Tidak separah yang sekarang ini menembus angka Rp 13.000 per USD.

"Itu jelas jauh lebih baik ( SBY), jauh lebih hebat dan kebijakannya justru lebih mengena, buktinya enggak pernah sampai dolar seperti ini. Sekarang ini betul-betul kritis," kritiknya.

Untuk meredam itu, pemerintahan Jokowi- JK terus berupaya meyakinkan rakyat bahwa kondisi ekonomi tetap baik meski Rupiah tengah mengalami pelemahan. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo salah satu yang rajin menyampaikan stabilnya perekonomian nasional.

Kita  mencatat sederet kritik pedas dan sindiran-sindiran atas melorotnya Rupiah lantaran terlalu cuek dan santainya pemerintahan kabinet kerja. Berikut paparannya.

Mulai dari :Jokowi lebih cuek dari SBY:

 Pengusaha muda Sandiaga Uno mengatakan pelemahan Rupiah hingga level di atas Rp 13.000 sudah tidak masuk akal.

Dia mengkritik pemerintahan Jokowi sangat cuek dengan pelemahan Rupiah. Sikap pemerintah saat ini berbeda dengan pemerintahanSBY.

"Dulu juga kita pernah diajak ngomong sama pemerintah pada tahun 2008 lalu. Ini sudah level di mana kita harus duduk bersama untuk waktu yang singkat guna stabilkan Rupiah. Enggak boleh lagi ada statement kita pernah mengalami ini. Ini perlu ada langkah konkrit," kata dia.

Lebih lanjut Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini menambahkan dulu pemerintahan SBY punya langkah konkrit dengan menggandeng dunia usaha dalam mengatasi pelemahan Rupiah. Selain itu, pemerintahan SBY menjadikan Bank Indonesia sebagai peredam pelemahan tersebut.

"Waktu pak SBY bicara ada kebijakan. BI sama Kemenkeu berkoordinasi untuk meredam volatilitas Rupiah, termasuk salah satunya langkah moneter dan langkah fiskal. Ini kan kekhawatiran yang menurut saya harus cepat dan enggak bisa lagi ditunda-tunda," pungkas dia

Head of Research Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI), Reza Priyambada menilai, selama 100 hari di bawah pemerintahan JokowiJK, kondisi nilai tukar Rupiah tersungkur cukup dalam. "Yang aku concern tentang Rupiah nih yang belum ada tanda-tanda kehidupan," tutur Reza di  Jakarta, Selasa (20/1).

Wakil Presiden Jusuf Kalla selalu mengatakan bahwa kondisi terpuruknya Rupiah terhadap USD adalah baik untuk meningkatkan ekspor. Namun, Reza berpendapat, hal itu benar apabila Indonesia memiliki barang-barang manufaktur kualitas ekspor yang tidak bisa disaingi negara-negara lain.

"Kalau (ekspor) kita kan lebih banyak dari komoditas. Jadi kalau pemerintah bilang bagus untuk ekspor, ekspor yang mana?" ucap Reza.

 Anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam menilai pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD), di mana telah menyentuh Rp 13.000, membuktikan hilangnya kepercayaan publik kepada Presiden Joko Widodo ( Jokowi).

Selain itu, pelemahan ini juga disebabkan kondisi ekonomi dunia seperti pertumbuhan ekonomi AS yang membaik. Di tambah sejumlah rencana kebijakan The Fed.

"Tapi yang paling penting adalah hilangnya kepercayaan pada Jokowi yang gagal memenuhi harapan publik secara umum maupun pasar secara khusus," kata Ecky di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (10/3).

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Hermanto berang pemerintahan Presiden Joko Widodomengkambinghitamkan Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) terkait anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap USD. Menurut Agus, melemahnya Rupiah lantaran tim ekonomi yang disusun PresidenJoko Widodo sangatlah lemah.

"Kami melihat memang sekali lagi tim ekonomi Pak Jokowi sangat lemah. Ini perlu banyak belajar, perlu banyak juga mengetahui kelemahan-kelemahan itu," kata dia. Jika rupiah terus terpuruk, Indonesia bisa ambruk. (k)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...