17 September 2019

Rupiah Siaga Satu, Rontok. Kabinet Jokowi-JK Jeblok. Rombak Total Kabinet Diharuskan !

KONFRONTASI- Pemerintahan Jokowi-JK makin tergerus legitimasinya sejak rupiah terus merosot. KIH di parlemen jadi sumber hiruk pikuk politik dan hukum di tengah pelemahan rupiah dan gejolak ekonomi global, yang sangat berpotensi melahirkan krisis moneter, seperti peristiwa 1998.

Ekonomi global memang sedang bergejolak. Negara-negara Uni Eropa masih repot menata ekonominya, karena masalah utang Yunani yang belum juga beres. China sengaja memperlambat ekonominya, karena pertumbuhan yang digenjot terlalu tinggi bisa menciptakan bubble economic. Di Timur Tengah, konflik berdarah antarnegara maupun negara dengan kelompok radikal seperti tak akan ada habisnya, sehingga membuat harga minyak gonjang-ganjing. Hanya Amerika Serikat yang mulai membaik ekonominya.

Untungnya, data ekonomi makro Indonesia masih baik-baik saja. Inflasi terkendali, bahkan bulan Januari dan Februari 2015 mengalami deflasi. Cadangan devisa di akhir Februari bertambah dari US$ 114 miliar menjadi US$ 115,5 miliar.

Dana asing yang masuk ke dalam juga cukup derasSejak Desember 2014 hingga Februari 2015 dana yang masuk ke Indonesia dari pembelian Surat Utang Negara di pasar modal mencapai Rp 57 triliun. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding pada 2013 dalam jangka waktu yang sama, yakni Rp 30 triliun. Begitu pula halnya dengan neraca perdagangan yang surplus sebesar US$ 710 juta pada Januari 2015.

Ekonomi Indonesia juga diperkirakan masih mampu tumbuh 5% di kuartal I-2015, meskipun kucuran kredit perbankan diperlambat dan likuiditas diperketat. Pertumbuhan sebesar ini merupakan kedua tertinggi di kelompok negara ekonomi terbesar dunia, G20, setelah China.

Begitu pula halnya dengan imbal hasil (yield) obligasi yang ditawarkan Pemerintah Indonesia masih tetap jadi buruan investor asing. Bayangkan,  yield obligasi Pemerintah Indonesia berjangka waktu 10 dipatok setinggi 8,710%, lebih tiga kali lipat obligasi serupa di AS. Di pasar Asia, yield itu hanya bisa dikalahkan oleh obligasi India, yakni 8,850%.

 “Jika Anda mencari yield di Asia, pergilah ke Indonesia atau India. Di Indonesia, investor asing lebih mudah masuk pasar,” ujar Cecilia Chan, Chief Investment Officer untuk fixed income di HSBC Global Asset Management, pengelola dana US$ 419 miliar.

Kalau melihat data makro ekonomi nasional seperti di atas, seharusnya nilai rupiah tak perlu menembus Rp 13.000 per dolar AS. Betul, rencana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi isu sangat sensitif bagi para investor keuangan. Namun, rencana The Fed itu belum pasti, karena masih ada pertentangan di antara pejabat The Fed soal kenaikan suku bunga acuan.

Ekonom Aviliani mengatakan kalau nilai rupiah melemah dari Rp 12.000 per dolar AS ke Rp 12.700 mulai mengkhawatirkan. Bagaimana sekarang, karena sudah menembus Rp 13.000 per dolar? Jawabannya, rupiah sudah menuju siaga satu.

Makanya, lucu juga kalau seorang Menteri Keuangan Bambang PS Brojonegoro sampai mengeluarkan pernyataan, setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS, maka anggaran negara surplus sebesar Rp 2,3 triliun. Surplus itu diperoleh dari penerimaan migas dalam bentuk dolar AS yang naik ketika dikonversikan ke rupiah.

Kenapa bisa terjadi demikian? Karena, dalam struktur APBN sekarang semua kenaikan harga barang konsumsi di masyarakat sudah sepenuhnya diserahkan ke mekanisme pasar. Terakhir dicabutnya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kebijakan ini memang aman buat bujet pemerintah, tapi tidak bagi masyarakat. Sebab, semakin dolar menguat dan rupiah melemah, akan mendorong harga barang-barang melambung.  “Harga kebutuhan pokok sudah banyak yang naik. Saya harus pandai mengatur pengeluaran,” ujar Lela, ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Tak hanya itu. Proyek infrastruktur yang akan menjadi andalan pembangunan juga bisa kalang kabut, karena sebagian besar bahan baku proyek harus diimpor. Akibatnya sudah bisa ditebak, defisit neraca perdagangan masih jadi ancaman untuk beberapa tahun ke depan.

Sektor lain yang terkena dampaknya adalah farmasi atau kesehatan dan otomotif, karena sebagian besar bahan bakunya harus impor. Selain itu, sektor properti dan konstruksi juga akan ikut terpukul akibat kenaikan bahan baku.

Betul,  pelemahan nilai tukar rupiah akan meningkatkan kegiatan eksportir. Tapi, ekspor apa yang kita andalkan? Sementara kebanyakan dagangan kita berupa komoditas mentah, yang kini harganya sedang jatuh.

Kini, masyarakat menengah dan bawah menjerit karena harga kebutuhan pokok mulai merambat naik. Kalau harga semakin tinggi, hampir pasti daya beli masyarakat akan menurun. Kalau daya beli masyarakat sudah banyak yang turun, krisis kepercayaan terhadap pemerintah akan muncul.

Celakanya, banyak pejabat pemerintah dan politisi negeri ini seperti acuh tak acuh. Mereka lebih asyik berkelahi satu dengan yang lain. Konflik terbuka di bidang politik dan hukum dibiarkan telanjang. Kegaduhan di tengah pelemahan rupiah dan gejolak ekonomi global seperti sekarang ini sangat berpotensi melahirkan krisis moneter, seperti peristiwa 1998.

Awal krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi tahun 1998 dimulai oleh gonjang-ganjing politik di dalam negeri yang ingin menurunkan Presiden Soeharto. Dampaknya, para pemilik modal ramai-ramai menarik uangnya dari Indonesia. Rupiah pun langsung ambruk dari Rp 2.300 per dolar AS pada pertengahan 1997 menjadi Rp 17.000 per dolar AS pada Januari 1998.

Memang, awal krisis 1998 jauh lebih parah ketimbang kondisi saat ini. Saat itu, cadangan devisa di Bank Indonesia  (BI) hanya US$ 17,4 miliar. Saat ini, cadangan devisa di brankas BI tercatat sebesar US$ 115,5  miliar.

Pada krisis 1998 nilai rupiah terhadap dolar AS merosot sampai 73%, sementara saat ini rupiah hanya terpangkas 4,5%. Begitu pula rasio utang luar negeri terhadap PDB tahun 1998 mencapai 60%, sedangkan sekarang ini hanya 31%.

Jadi, kalau dibandingkan dengan kondisi tahun 1998, memang jauh berbeda. Namun, jika kegaduhan politik dan hukum tak bisa diselesaikan di tengah anjloknya nilai rupiah dan gejolak ekonomi dunia, niscaya mata uang Garuda bisa terperosok sampai ke level Rp 15.000-Rp 16.000 per dolar AS. Ini namanya bom krisis akan meledak.  

Untuk itu, rombak kabinet secara total, diperlukan agar kinerja pemerintah membaik. Tim ekuin Jokowi-JK yang jeblok di kabinet musti direshuffle secepatnya sebelum meledak krisis moneter yang mengerikan. (Indonesian review)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...