18 June 2019

Rupiah Kembali Merosot, Rizal Ramli Menilai Tim Ekuin Jokowi Tidak Kapabel

KONFRONTASi- Mantan Menko Ekuin yang juga teknokrat senior Rizal Ramli (RR) mengungkapkan, tim ekonomi Presiden Jokowi memang tidak mampu melakukan simulasi dan antisipasi 6-12 bulan kedepan. ''Banyak kecolongan.  Itulah mengapa resiko makro-ekonomi Indonesia terus meningkat 2 tahun terakhir, ditambah faktor eksternal. Kebiasaan ABS bisa membuat kehilangan kontrol,'' kata RR.

Rizal mengingatkan, ketika krisis 1998, RI memiliki tabungan: net eksportir oil 1,3 juta barel/hari, kapasitas berlebih sawit, karet, coklat, kopra dll.

''Ketika rupiah anjlok ke Rp15.000/$, eksportir  terutama diluar Jawa kaya dadakan. Hari ini kita tidak punya tabungan: Net impotir oil 1,1 juta barel/hari dan tidak ada excess capacity di Komoditi. Walaupun Rp sudah mendekati Rp15.000 /$, tidak ada lonjakan ekspor, bahkan neraca perdangan semester 1, 2018 negatif. Perlu cara2 inovatif dan terobosan utk keluar dari kondisi pre-krisis ini,'' tutur RR.

Situasi itu tak menguntungkan dan membuat posisi ekonomi kita rentan dan riskan di tubir jurang yang licin dan membahayakan.

Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah hari ini masih menunjukkan penguatan. Mata uang Paman Sam bahkan terus melanjutkan rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir dengan berada pada level Rp 14.729 sore ini.

Dikuti dari data perdagangan Reuters, Kamis (30/8/2018), dolar AS hari ini bergerak di level Rp 14.660 hingga 14.729. Angka tersebut tertinggi dalam tiga tahun terakhir namun masih kalah dari rekor Rp 14.855 yang terjadi pada 24 September 2015. Namun, ini merupakan rekor tertinggi dolar AS di 2018.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah sebelumnya menjelaskan tekanan yang terjadi pada rupiah dipicu oleh faktor eksternal. Yakni revisi data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) kuartal II.

"Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh revisi data PDB AS triwulan II, dari 4,1% menjadi 4,2%, langkah PBOC memperlemah mata uang Yuan di tengah negosiasi sengketa dagang AS dan China yang belum tercapai, serta melemahnya mata uang Argentina peso dan lira Turki," kata Nanang.

Dia menyebut hari ini Bank Indonesia berada di pasar untuk memastikan pelemahan Rupiah tidak cepat dan tajam. Bank Indonesia juga masuk ke pasar surat berharga negara (SBN) untuk melakukan stabilisasi.

Namun karena sentimen global, seperti normalisasi kebijakan moneter di AS, ancaman kenaikan suku bunga The Fed hingga perang dagang AS dengan China dari Maret hingga sekarang, the greenback pun kian perkasa.(FD)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...