17 February 2020

RR: Anggaran Bayar Pokok dan Bunga Utang RI 2020 Rp646 Triliun, Salamudin: Harus Menjadi Perhatian

KONFRONTASI -   Ekonom senior Rizal Ramli (RR) mengkritik kondisi keuangan pemerintah saat ini, terutama terkait utang. Menurutnya, anggaran pembayaran bunga utang tahun 2020 mencapai Rp 295 triliun. Pembayaran Pokok utang Rp351 trilliun.

"Total pokok dan bunga utang Rp646 Trilliun, lebih besar dari anggaran pendidikan dan infrastruktur ! Gitu kok dibilang ‘terkendali' & ‘ndak masalah? Piye?,” tulis mantan Menko Perekonomian ini lewat akun twitternya, Sabtu (18/1/2020).

Menanggapi hal ini, pengamat ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan, utang pemerintah saat ini memang harus menjadi perhatian, mengingat utang pemerintah saat ini berkaitan langsung dengan uang rakyat. Karena jika jaman dulu hutang pemerintah biasanya hanya berkaitan dengan investor kakap, dan lembaga keuangan internasional. Namun saat ini sebagian besar utang pemerintah bersumber dari uang rakyat.

"Utang pemerintah tersebut bersumber dari dana haji, dana Taspen, dana Jamsostek, dana Asabri, dana perusahaan asuransi, dana pensiun karyawan BUMN, dan termasuk dana umat lainnya," ujarnya kpada Harian Terbit, Minggu (19/1/2020).

Daeng menilai, kewajiban membayar utang sangat rawan dan sensitif jika pemerintah tidak dapat membayarnya tepat waktu. Karena hal tersebut bisa menyebabkan orang tidak dapat berangkat haji, tidak bisa terima pensiun, tak bisa mencairkan dana Jamsostek dan tidak bisa mengklaim asuransinya. Seperti yang menimpa nasabah Jiwasraya.

"Saat ini utang pemerintah dalam SUN mencapai Rp. 2.291 triliun, dalam SBN syariah Rp. 529 triliun dan utang pemerintah luar negeri Rp.2.759 triliun," jelasnya.

Daeng memaparkan, jika bunga rata - rata yang harus dibayar pemerintah antara 4-5% setahun maka nilainya mencapai Rp330 triliun setahun. Jika utang tersebut jatuh temponya 20 tahun maka setiap tahun harus dibayar pokok utang Rp.330 triliun. Jadi setiap tahun pemerintah harus membayar Rp.630 triliun untuk kewajiban utang.

Bom Waktu

Pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, banyaknya jumlah utang yang harus dibayar pemerintah saat ini karena oknum pemburu rente utang di lingkaran kekuasaan. Jadi secara umum APBN 2020 seolah berjalan sehat. Padahal kenyataanya jika diurai sakit karena dari dalam APBN 2020, pemerintah dan DPR menetapkan  defisit anggaran sebesar Rp 307.2 triliun atau sekitar 15% dari APBN.

"Komponen APBN ini makin jelas tidak sehat lagi jika diurai besarnya APBN 2020 yang dipergunakan untuk membayar bunga hutang dan hutang jatuh tempo negara lebih Rp 600 trilyun atau sekitar 23% dari APBN," jelasnya.

Sementara hingga November 2019 realisasi penerimaan negara hanya mencapai Rp1.677,1 triliun. Jika anggaran 2020 Rp 2540 trilyun berarti untuk menutup sekitar 40% dari penerbitan utang negara dan formula defisit. Dengan postur APBN seperti itu maka ekonomi Indonesia ke depan semakin tidak sehat dan semakin besar pula kerentanan Indonesia terhadap ekonomi global. 

"Dalam jangka pendek beban bunga yang ditanggung negara setiap tahun makin besar jika tahun 2020 saja bunga hutang yang ditanggung APBN sudah sebesar Rp 295 trilyun maka ditahun berikutnya makin meningkat tinggi," jelasnya.

Aminudin menyebut, dalam jangka pendek membayar utang dan bunganya dengan menerbitkan hutang global bonds bisa membuat nilai tukar rupiah menguat sejalan dengan mengalirnya valuta asing (valas) ke Indonesia. Tapi hal tersebut akan menjadi bom waktu terutama disaat utang-utang tersebut jatuh tempo. Oleh karena itu sangat disayangkan jika Jokowi tidak memilih jalan mengurangi ketergantungan utang dengan mengefisienkan anggaran belanja negara termasuk birokrasi.

"Jika ini diteruskan akan membebani rakyat berupa kenaikan harga dan tarif yang dibutuhkan rakyat," jelasnya.

Dengan penerbitan utang Indonesia di Global Bonds dalam bentuk mata uang asing untuk menutup APBN 2020 maka jelas akan membhat ekonomi Indonesia makin beresiko. Akibat defisit anggaran yang melebar dari 1,93 persen menjadi 2-2,2 persen dari PDB, pemerintah menerbitkan dua surat utang negara (SUN) berdenominasi asing atau global bonds yakni USD Bonds dan Euro Bonds. 

Sementara itu, Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi mengatakan, kondisi utang pemerintah saat ini memang sangat parah. Karena jika dilihat dari besaran utang dari cicilan pokok dan bunga sebagaimana yang di sebut oleh RR yakni Rp646 triliun  ditambah dengan defisit yang di asumsikan dari UU APBN dari pendapatan negara sebesar Rp 2.233,2 triliun. Sedangkan belanja negara sebesar Rp 2.540,4 triliun adalah Rp 307,2 triliun maka negara membayar utang dan defisit menjadi Rp646 triliun ditambah Rp307,2 trilun menjadi Rp 1.053,2 trilun.

"Kalau asumsi pendapatan negara pada kisaran Rp 2.233,2 triliun dan negara harus mencicil utang serta menutup defisit maka APBN tersisa tinggal Rp 1.180 triliun. Bayangkan nasib keuangan negara akan seperti itu pada tahun 2020. Hanya sisa 52 % dari keuangan negara untuk kelola negara sebesar ini," ujar Muslim Arbi kepada Harian Terbit, Minggu (19/1/2020).

Menurut Muslim, dengan nilai utang yang besar dan telah jatuh tempo harus membayarnya di tahun 2020 ini maka tidak heran jika yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah mencari pinjaman utang  kesana-sini. Termasuk mencari utang baru untuk infrastruktur ibu kota baru sebesar Rp 341 triliun.  Oleh karena itu dengan anggaran APBN yang tinggal 52 persen maka negara Indonesia masuk diambang kebangkrutan.

"Bagaimana pemerintah tidak panik untuk menutup defisit dan bayar pinjaman-pinjaman utang. Makanya berbagai cara dilakukan termasuk menaikkan segala macam harga elpiji, BPJS, tol, pajak, listrik, dan lainnya," ujarnya.

Menurutnya, paling utama dari semua itu rombak Kemenko ekonomi dan jajaran Kementrian Keuangan, Perdagangan, Perindustrian dan Pertanian. “Sejumlah nama bisa diajak ke Kabinet seperti Bang RR, Bang Dahlan Iskan, Sandiaga Uno demi selamatkan negeri ini dari kebangkrutan," sambungnya.(Jft/Hanter0

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...