24 May 2019

Rizal Ramli: Pemerintah Jokowi Harus Cepat Selamatkan Rupiah

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli meminta pemerintah Jokowi mesti bergerak cepat untul menyelamatkan rupiah agar tidak kian terpuruk. Salah satu langkah yang harus dilakukan pemerintahan Joko Widodo dalam waktu dekat adalah memasukkan pendapatan ekspor Indonesia ke dalam sistem perbankan di tanah air.
Langkah penyelamatan tersebut diungkapkan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Dr. Rizal Ramli (RR) dalam talkshow Sapa Indonesia Malam dengan tema "Rupiah Tembus ke Level 14.800" di Kompas TV, Selasa (4/9) malam.  

"Semua pendapatan ekspor Indonesia harus dimasukkan dalam sistem bank kita dulu. Baru setelah itu mereka keluarkan," ujar RR.

RR mencontohkan apa yang terjadi di Thailand saat krisis. Ketika itu hanya 5 persen dari nilai ekspor yang masuk ke dalam negeri. Kini sudah hampir 90 persen nilai ekspor yang mauk dalam sistem perbankan Thailand. Hal itu membuat dampak dari fluktuasi berkurang. 

"Yang terjadi hari ini pendapatan ekspor Indonesia dimasukkan ke sistem perbankan Singapura atau di Hongkong. Sementara yang dikeluarkan di Indonesia hanya untuk working capital, buat modal kerja doang atau buat bayar pegawai. Real money disimpan di luar negeri," kata RR. 

Terobosan memasukkan semua hasil ekspor dalam sistem perbankan dalam negeri, lanjut RR, harus segera dilakukan, dan pemerintah jangan berfikir terlalu jauh.

"Suasananya bakal makin riweuh. Nilai tukar sebesar Rp 15.000 ribu baru begini nih. Kalau cara kita meng-handle begini, kagetan dan telmi, mhon maaf deh, Rp 17.000 ribu (per dolar AS) itu bukan sesuatu yang nggak mungkin," demikian RR.

 

 Sejumlah pihak menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok mirip dengan krisis 1998. Ihwal tersebut dibantah oleh pihak Istana.

Dputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar  Nugroho memberikan data yang sudah dihimpun tim KSP untuk menguak fakta tentang kondisi keuangan Indonesia saat ini dengan kondisi keuangan Indonesia pada tahun 1998.

Menanggapi data tersebut, ekonom senior DR. Rizal Ramli menegaskan bahwa analisa yang dikeluarkan oleh Yanuar Nugroho itu menyesatkan dan konyol.

“Mas Moeldoko, analisa ABS (asal bapak senang) begini yang membuat kita mudah terlena dan selalu telat langkah,” jelas RR dalam akun Twitter@RamliRizal, Kamis (6/9).

Pada desain grafis yang dibagikan Yanuar sebelumnya dapat dilihat perbandingan dua situasi tersebut.

Misalnya saja pada fluktuasi dolar terhadap rupiah antara tahun 1997-1998 dengan kondisi saat ini jauh berbeda. Pada tahun 1998, rupiah sangat terlihat kontras fluktuasinya, di mana sempat ada dipuncak tertinggi namun kemudian jatuh.

Sedangkan saat ini antara tahun 2017 hingga 2018 fluktuasi rupiah tidak terlalu kontras. Ini membuktikan nilai kenaikannya pun tidak terlalu berarti.

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini pun dapat dibilang stabil. Salah satu faktornya karena saat ini Indonesia sudah memiliki cadangan devisa yang cukup yakni 118,3 miliar dolar AS.

Berbeda jauh dari tahun 1998 yang hanya 23,61 miliar dolar AS.

Terlebih lagi jika melihat dari tingkat utang Indonesia saat ini beberapa lembaga internasional memberikan peringkat Investement Grade yang artinya cukup aman dan baik dalam hal pengelolaan utang. Jauh berbeda dari tahun 1998 yang berpredikat Junk.

Terpenting saat ini bertumbuhan ekonomi pun terus ke arah yang positif yakni di atas 5 persen. Jauh dari kondisi 1998 yang bahkan minus 13 persen.(ffl)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Jumat, 24 May 2019 - 16:44
Jumat, 24 May 2019 - 16:38
Jumat, 24 May 2019 - 16:23
Jumat, 24 May 2019 - 14:49
Jumat, 24 May 2019 - 14:44
Jumat, 24 May 2019 - 14:36
Jumat, 24 May 2019 - 14:34
Jumat, 24 May 2019 - 14:19
Jumat, 24 May 2019 - 14:15
Jumat, 24 May 2019 - 14:11
Jumat, 24 May 2019 - 10:57
Jumat, 24 May 2019 - 10:55